Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Benarkah Cinta Itu Buta? Begini Penjelasan Ilmiahnya

Ilustrasi pasangan. Foto: Shutterstock

Kerap kali mendengar ungkapan cinta itu buta. Namun, bukan sekadar ungkapan, beberapa merasakan bahwa rasa cinta benar-benar membuat seseorang sulit atau bahkan tidak bisa melihat kenyataan dengan benar.

Namun, apakah kondisi cinta buta itu benar-benar ada? Mengutip dari Elite Daily, dijelaskan bahwa secara umum kebutaan bisa berarti kalap atau secara literal, tidak bisa melihat karena kerusakan mata.

Sementara “cinta buta” merupakan kondisi yang benar-benar ada, terjadi ketika seseorang jatuh cinta dan merasa lebih kenal atau lebih dekat dengan sosok yang disukai ketimbang orang lain. Imbasnya bisa sampai melakukan apapun, bahkan tak memedulikan diri sendiri.

Menurut bukti ilmiahnya, seperti yang dilaporkan BBC, cinta buta memungkinkan dimulai begitu seseorang mendekati pribadi lain. Ketika itu, otak akan memutuskan kebutuhan untuk mengurangi penilaian terhadap karakter serta kepribadian.

Ilustrasi dok Dewey gallery from Pexels

Meski tidak sepenuhnya “buta”, menurut Sara Reistad-Long dari CNN, cinta buta bisa membuat pandangan kabur. Hal tersebut seperti yang dituangkan dalam studi Wellcome Department of Imaging Neuroscience di University College London (UCL).

Mereka membandingkan cinta kepada ibu dan cinta kepada pasangan. Dari sana, didapati kedua jenis cinta tersebut sejatinya sama, atau setidaknya mengaktifkan bagian otak yang sama.

Hanya, dijelaskan pula bahwa otak yang dipengaruhi cinta tidak eksklusif untuk rasa cinta. Bagian itu punya sistem penghargaan lain, seperti kepada makanan, uang, serta obat-obatan.

"Pecandu judi atau narkoba merasakan aktivitas dopamin yang mirip dengan seseorang yang sedang jatuh cinta,” kata Reistad-Long.

Namun, menurut Kate Melville dari Science a Gogo, cinta punya kemampuan berbeda dari yang lain, yakni "menonaktifkan" zona saraf tertentu.

Ilustrasi jatuh cinta (Foto: Thu Anh/Unsplash)

Andreas Bartels yang terlibat dalam penelitian UCL menyebut aktivitas tumpang tindih di seluruh bagian otak, terutama korteks prefrontal, tak hanya menghambat emosi negatif tetapi juga mempengaruhi jaringan yang terlibat dalam menilai seseorang.

Karena hal itulah, terjadi cinta buta. Seperti misalnya, meski pacar digosipkan selingkuh, seseorang gagal mempertimbangkan putus. Dalam pikiran orang tersebut, sang pacar tidaklah salah meski bukti berkata sebaliknya.

Cinta buta juga, disebutkan oleh Bartels, disebabkan oleh kemampuan penilaian sosial yang cenderung rentan di hadapan cinta. Padahal, kemampuan tersebut jadi salah satu sebab utama masalah yang dialami dalam sebuah hubungan bersifat sosial.

Mengenai alasan cinta yang umumnya positif bisa menjadi negatif, disebutkan oleh rekan Bartels, Semir Zeki, disebabkan oleh manusia yang secara alami menginginkan “hadiah” yang kita rasakan dari cinta.

Ketika sedang jatuh cinta, seseorang akan mengalami reaksi pada tubuh mereka. Foto. dok: Pixabay

Terlepas dari cinta buta yang bisa dirasakan setiap orang, Viren Swami dan Adrian Furnham dari The Psychologist, menyebut hal itu tidak akan berlangsung selamanya. Biasanya sampai seseorang patah hati.

“Meskipun kita mungkin dibutakan cinta, biasanya hanya masalah waktu sebelum kita bertanya pada diri sendiri, ‘Kok bisa, ya, saya tak sadar?’” tulis Swarni dan Furnham.

Walau, memang cinta buta tidak sesederhana itu hilangnya. Sebab, penelitian juga menyebut, kebanyakan orang tak bisa melihat kesalahan tentang kekasih sampai cinta memudar.

Karena itulah biasanya, berbulan-bulan setelah patah hati hubungan kandas, beberapa orang akan heran tidak sadar lebih cepat. Meski waktu tak bisa diulang, setidaknya jadi mampu melalui masa depan dengan lebih jelas. (bob)

Artikel Asli