Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Apa Itu Strategi 3 Pintu yang Kurangi Sampah Rumah Hingga 90 Persen?

TODAY Special Dipublikasikan 07.00, 25/02 • Nieke Indrietta
Sampah plastik mencemari lingkungan di Sanur, Bali (Ocean Cleanup Group/Unsplash)
Sampah plastik mencemari lingkungan di Sanur, Bali (Ocean Cleanup Group/Unsplash)

Setiap bulannya LINE TODAY akan menyoroti topik-topik yang dekat dengan pembaca. Artikel ini adalah bagian dari konten spesial bulan ini: "Indonesia Darurat Sampah" dalam rangka Hari Peduli Sampah setiap 21 Februari. Ada deretan kisah sejumlah anak muda dan perusahaan berupaya mengurangi sampah dengan cara kreatif dan berbasis teknologi. 

Bisakah rumah kita tidak menghasilkan sampah? 

Ini challenge yang dijalankan sejumlah warga di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten. Mereka mendapat tantangan hidup minim sampah selama 14 hari.

LabTanya melalui gerakan Kota Tanpa Sampah mengajak warga bereksperimen bersama untuk mencari program yang bisa mengurangi sampah dengan hasil yang signifikan. LabTanya adalah studio desain sosial dan ekologis yang didirikan oleh Adi Wibowo yang mengembangkan berbagai metode riset dan eksperimen bersama komunitas warga urban.

Hasilnya? Pada 2015, sampah rumah tangga warga Bintaro itu bisa berkurang 40-90 persen. Jumlah tersebut berkat warga menerapkan strategi tiga pintu. Strategi yang digagas oleh tim Adi Wibowo ini terus dikembangkan bersama timnya, termasuk istrinya, Wilma Chrysanti, lewat gerakan Kota Tanpa Sampah.

Wilma yang Co-founder Kota Tanpa Sampah mengatakan, gerakannya menguji coba strategi tiga pintu ini di 22 komunitas di Jakarta, Tangerang Selatan, hingga satu kampung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Hasilnya konsisten, sampah berkurang 40-90 persen tergantung dari jumlah anggota keluarga dan gaya konsumsi setiap rumah.

Co-founder Kota Tanpa Sampah Wilma Chrysanti (Dok. Pribadi)
Co-founder Kota Tanpa Sampah Wilma Chrysanti (Dok. Pribadi)

Selama ini sampah tetap menggunung di tempat pembuangan akhir (TPA) karena menurut Wilma masyarakat baru mengelola setelah proses produksi dan konsumsi di rumah yang menghasilkan sampah. Penanganan sampah selama ini masih fokus di pintu belakang/ setelah adanya sampah, kata dia, seperti dibersihkan, dipindahkan ke TPA atau juga dibakar. 

“Tidak semua sisa produksi atau konsumsi kita adalah sampah,” kata Wilma. Ia menjelaskan, sampah sebenarnya adalah sisa produksi atau konsumsi yang tidak bisa dikomposkan, tidak bisa didaur ulang, juga tidak punya siklus lanjutan. 

Ia mencontohkan benda tisu bekas pakai, popok, pembalut, dan puntung rokok. “Itu yang baru dianggap sebagai residu, sampah, dan terpaksa masih dikirim ke TPA,” ucapnya.

“Kalau kita benar-benar menerapkan Strategi Tiga Pintu tadi, sisanya benar-benar hanya 5-10 persen sampah sisa konsumsi yang tak bisa diapa-apakan lagi,” kata Wilma. 

Seperti apa strategi tiga pintu?

Strategi Tiga Pintu (Dok. KotaTanpaSampah.id)
Strategi Tiga Pintu (Dok. KotaTanpaSampah.id)

Strategi Tiga Pintu mengintervensi munculnya sampah pada tiga titik. Pertama pintu depan yakni sebelum memproduksi atau mengonsumsi. Kedua, pintu tengah yakni saat memproduksi atau mengonsumsi. Terakhir, pintu belakang, yakni pascaproduksi atau konsumsi yang menangani sisa produksi & konsumsi. 

Strategi ini dianggap lebih mudah dipahami oleh masyarakat karena identik dengan rumah. “Pintu mengingatkan kita untuk lebih sadar apa yang dibawa ke dalam rumah, apa saja yang dilakukan di dalam rumah tidak menghasilkan sampah, juga tidak membawa sampah ke luar rumah,” kata Wilma. 

Berikut ini contoh cara menjalankan strategi tiga pintu:

Pintu Depan

Strategi sebelum memproduksi atau mengkonsumsi sesuatu dengan memikirkan, merencanakan, mengurangi, menghindari, dan mencari alternatif produk agar sisanya tidak menjadi sampah.

  •  Sebelum belanja rencanakan detail apa yang dibeli supaya bisa membawa semua wadah cocok untuk barang yang akan dibeli.
  • Membawa botol minum atau tumbler, serta wadah untuk jajan makanan atau camilan.
  • Bawalah sapu tangan atau handuk kecil sebagai pengganti tisu
  • Siapkan tas belanja kain untuk menghindari penggunaan kantung plastik saat belanja.
  • Pilih makanan atau minuman yang kemasannya tidak menghasilkan sampah.
  • Pilih camilan atau makanan yang dijual curah, supaya bisa ditaruh dalam wadah sendiri. Tapi jangan berlebihan agar bisa habis total tanpa sisa. 

Mungkin tak semua penjual terbiasa melayani pembelian dengan membawa wadah sendiri. Tapi percayalah, kamu sebenarnya membantu mereka. Wilma menemui seorang pedagang sayur yang waktunya habis buat membungkusi dagangan dengan plastik pukul satu hingga tiga dini hari. Belum lagi beli plastik itu setiap bulannya habis sekitar Rp300 ribu. 

Pintu Tengah

Strategi ini saat melibatkan konsumsi dengan cermat agar tidak menghasilkan sisa dan merawat barang yang kita punya.

  • Menghabiskan makanan agar tidak ada sisa yang jadi sampah
  • Mengganti masker sekali pakai dengan yang bisa dipakai ulang demi mengurangi sampah medis 
  • Perbaiki tas, pakaian, atau payung rusak daripada membeli baru atau membuangnya.
  • Memakai barang yang ada ketimbang beli baru.
  • Saling meminjamkan perkakas rumah yang jarang dipakai seperti tangga, alat pemotong rumput, atau bor.

Pintu Belakang

Strategi terakhir adalah memeriksa barang yang telah dikonsumsi itu bisa dikomposkan atau tidak. Kedua, bisakah sisa konsumsi itu didaur ulang? Intinya adalah mengurangi jumlah sampah yang dikirimkan ke tempat pembuangan akhir (TPA) oleh petugas kebersihan.

  • Sisa organik dibuat jadi kompos. Kamu bisa belajar membuat kompos dengan berbagai kelas yang tersedia secara online, termasuk program Ngompos Kuy! dari Kota Tanpa Sampah di mana kamu belajar membuat kompos selama enam minggu dengan pendampingan dan diberi fasilitas komposter.
  • Sampah yang bisa didaur ulang diserahkan ke tukang loak, bank sampah, atau jasa pengangkutan sampah.  

Kenapa kompos penting dalam strategi pintu belakang? Wilma menemukan dari hasil eksperimen strategi tiga pintu, ternyata sisa konsumsi rumah tangga yang bisa dikomposkan bisa mencapai sekitar 50 persen. Daripada dikirim ke TPA yang jadi masalah lingkungan lebih baik dijadikan kompos. Mereka yang punya hobi menanam bisa memakai kompos ini untuk mendukung kebiasaan baru mereka di tengah pandemi itu. 

Wilma menjelaskan strategi tiga pintu dalam kegiatan Kota Tanpa Sampah (Dok. KotaTanpaSampah.id)
Wilma menjelaskan strategi tiga pintu dalam kegiatan Kota Tanpa Sampah (Dok. KotaTanpaSampah.id)

Artikel ini ditulis secara eksklusif oleh Nieke Indrietta untuk LINE TODAY. Nieke adalah penulis dan content creator yang sebelumnya menjadi wartawan media nasional yang meliput isu-isu lingkungan, energi, dan ekonomi. Kini aktif menulis di blognya www.katanieke.com.