Awas Salah, Ini Bedanya Bucin dan Berkorban demi Cinta

kumparan Dipublikasikan 02.03, 19/10/2019 • Hesti Widianingtyas
Ilustrasi bucin Foto: Shutterstock

Bagi para bucin, yang namanya buat pacar, apa aja dilakuin. Antar-jemput lintas provinsi juga enggak masalah. Pokoknya, pacar adalah segalanya!

Kalau udah begini, siap-siapin aja kuping buat denger nyinyiran teman-teman yang bilang kamu bucin, alias budak cinta. Padahal, kamu cuma berkorban buat orang yang disayang.

Emang, sih, bucin sama berkorban demi cinta itu seringkali dianggap sama. Padahal, ada bedanya, lho.

Menurut Psikolog Klinis, Liza Marielly Djaparie, seseorang bisa dikatakan bucin kalau terus-menerus berkorban buat pacar, sampai merasa tersiksa secara batin.

Beda halnya sama berkorban demi cinta. Pengorbanan ini dilakukan karena rasa kasih sayang.

"Istilahnya aja budak. Mana ada jadi budak hanya dalam sehari? Biasanya, seseorang bucin akan melakukan pengorbanan terus-menerus. Pada akhirnya, ruang kebebasan kamu menjadi terbatas," katanya saat dihubungi kumparan, baru-baru ini.

Liza menuturkan, ketika kamu benar-benar rela berkorban demi cinta, hasilnya akan jauh lebih positif dibandingkan jadi seorang bucin. Karena kamu pengin menunjukkan yang terbaik buat pacar.

“Jadi, ada namanya proses aktualisasi diri sendiri. Hal ini bisa dilakukan dalam bentuk apapun. Misal, pacarmu memberi saran untuk belajar masak, kamu akan mengorbankan waktu untuk les masak,” jelas dia.

Selagi senang dan enggak merasa terbebani oleh kehadiran pacar, kamu masih dalam batas wajar, kok. Ingat, sesayang apapun kamu sama pacar, yang bisa menentukan bahagia atau enggak, ya, kamu sendiri.

“Coba untuk intropeksi diri. Rasa senang itu sangat subjektif, tergantung dari diri kamu. Kalau rasa senang dalam dirimu sudah terpenuhi, dan enggak ada masalah dengan pacar, ya, enggak apa-apa. Karena takaran ‘senang’ orang berbeda-beda,” tutup Liza.

So, sekarang udah paham belum bedanya bucin dan berkorban?

Reporter: Aulania Silviananda

Artikel Asli