Awas Hoaks: Cover Majalah Tempo Direvisi hingga Dana Haji buat Bayar Defisit BPJS

LINE TODAY Dipublikasikan 02.01, 21/09/2019

Penyebaran berita jadi kian cepat seiring dengan perkembangan teknologi. Jika tidak diimbangi dengan literasi digital, besar kemungkinan kita bisa terpapar berita bohong alias hoaks. Selama seminggu terakhir, kami merangkum beberapa berita hoaks yang beredar di media sosial dan meresahkan. Yuk pahami berita ini agar tidak ikut terjebak hoaks.

Cover "Pinokio" Majalah Tempo Direvisi

Isu tentang cover Majalah Tempo edisi 16 September 2019 direvisi beredar di aplikasi perpesanan dan media sosial Twitter pada Senin, 16 September 2019. Isu itu muncul seiring dengan beredarnya gambar yang menyerupai cover Majalah Tempo dengan judul “Saya Tetap Percaya Presiden”.

Di bawah judul dalam gambar itu, tertulis sebuah pernyataan yang disebut berasal dari Jokowi, “Saya tidak ada kompromi dalam pemberantasan korupsi”. Gambar itu pun dilengkapi dengan lukisan Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang memakai jas hitam serta dasi merah.

Dalam sebuah unggahan di Twitter, gambar itu diklaim sebagai cover pengganti Majalah Tempo edisi 16-22 September 2019 yang berjudul “Janji Tinggal Janji”. Unggahan itu dibuat oleh akun Bunda Zahra, @BundaZa26962019, pada 16 September 2019.

Dalam unggahannya, akun itu menuliskan narasi, “Apa maksudnya buat majalah Tempo yang kemarin menghina simbol kenegaraan dan sekarang diganti dengan ini. Wahai kaum bani cingkrang. Ingat Allah swt, mbonten sare.”

Benarkah Majalah Tempo menerbitkan Edisi "Saya Tetap Percaya Presiden” untuk menggantikan edisi “Janji Tinggal Janji”?

Selanjutnya di sini

Cina Minta 2 Pulau ke Jokowi buat Ganti Utang

Baru-baru ini beredar gambar hasil bidik layar artikel laman daring berjudul "Tiongkok Minta Dua Pulau untuk Bayar Utang RI?".

Hasil bidik layar itu diunggah oleh akun Leena Septia dalam jejaring sosial Facebook yang berhasil mencuri perhatian warganet. 

Selain foto hasil bidik layar artikel daring itu, pemilik akun membubuhkan narasi seperti ini:

*Awalnya minta pulau, lama-lama minta semua negeri ini. Joko penjahat demokrasi. Dia hanya mementingkan perutnya dan golongannya. Boneka bangke. Mana kebijakan dia yg pro rakyat. Tidak ada! *

*Memanjakan pejabat, mulai dari gaji Mega yang luar biasa, Mahfud yg menggiurkan, malah menaikkan gaji pegawai BPJS yang nyata telah mengorupsi dana BPJS, mengganti mobil mewah menteri. *

*Bagian rakyat hanya nanggung utang negara, kenaikan listrik, naiknya BPJS, BBM, pajak. Di mana hatimu saat 700 mayat anggota KPPS menjadi tumbal, saat Papua bergejolak. Saat rakyat hidup dalam kesusahan karena kebijakanmu… *

Engkau malah sibuk memindahkan ibukota yang tidak penting. Pemindahan ibukota bukan kepentingan rakyat tapi kepentingan siasatmu. UU revisi KPK ulahmu untuk melemahkan sistem KPK. Pemimpin yang tidak diridhoi. Semoga Allah yg akan membalas semua perbuatan mu baik yg nampak atau yg tidak nampak.

Unggahan dengan gambar yang bernarasi 'Tiongkok Minta Dua Pulau untuk Bayar Utang RI? Ngawur tuh', tentu saja langsung mengundang perhatian warganet. Bagaimana kebenaran kabar tersebut?

Selanjutnya di sini

Majalah Tempo Menerbitkan Edisi Berjudul Novel Baswedan Penjual Rahasia Negara ke Indonesia Leaks

Gambar yang diklaim sebagai cover Majalah Tempo kembali dibagikan di sejumlah grup percakapan. Gambar yang menyerupai cover Majalah Tempo edisi 5-11 Agustus 2019 yang berisi gambar penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan, itu tersebar pada Selasa, 19 September 2019.

Gambar itu memuat karikatur Novel yang secara simbolik kedua matanya ditutup dengan tangan. Terdapat pula judul dalam huruf kapital yang berbunyi, “Novel Baswedan Penjual Rahasia Negara ke Indonesia Leaks”.

Gambar yang menyerupai cover Majalah Tempo itu beredar di WhatsApp tiga hari setelah muncul artikel di laman Seword.com yang berjudul “Terbongkar!!! Penyidik KPK Membocorkan data ke Media Tempo untuk Eksistensi Indonesia Leaks?” pada 17 September 2019. Artikel opini itu ditulis oleh Niha Alif dan telah dibaca hingga 19,8 ribu kali. Bagaimana kebenaran kabar tersebut?

Selanjutnya di sini

Sri Mulyani Ingin Dana Haji Rp90 Triliun untuk Menutupi Defisit BPJS

Sebuah situs menyerupai salah satu portal berita daring menurunkan artikel berjudul “Sri Mulyani Inginkan Dana Haji Rp 90 Triliun Untuk Menutupi Defisit BPJS”. Artikel itu tayang di situs merdekaind.blogspot.com.

Artikel itu lantas viral dan banyak diteruskan ke berbagai grup-grup percakapan. Artikel itu juga beredar di media sosial Facebook.

Pada paragraf pertama, disebutkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginginkan dana haji umat yang mencapai Rp 90 triliun dapat diinvestasikan ke berbagai instrumen investasi, seperti portofolio surat utang negara (SUN) maupun pembangunan infrastruktur juga menutupi defisit anggaran BPJS. Disebutkan pula, Menkeu Sri Mulyani mendukung keinginan Jokowi untuk penggunaan dana tersebut. 

Bagaimana kebenaran berita tersebut?

Selanjutnya di sini

Buat Hujan Buatan dengan Baskom Air

Pesan seruan untuk menciptakan hujan buatan yang sempat beredar di beberapa percakapan grup seperti berikut:

"Darurat Kemarau Panjang !! Sediakan baskom air yang dicampur garam dan diletakkan di luar rumah, biarkan menguap, jam penguapan air yang baik adalah sekitar pukul 11.00 - jam 13.00, dengan makin banyak uap air di udara semakin mempercepat kondensasi menjadi butir air pada suhu yang makin dingin di udara.

Dengan cara sederhana ini diharapkan hujan makin cepat turun, semakin banyak warga yang melakukan ini di masing-masing rumah, ratusan ribu rumah maka akan menciptakan jutaan kubik uap air di udara.

Lakukan ini satu rumah cukup satu ember air garam, Sabtu pukul 10 pagi serempak..

Mari kita sama-sama berusaha untuk menghadapi kemarau kian parah ini..

Mohon diteruskan..kesemua group

Terima kasih."

Bagaimana penjelasan soal kabar tersebut?

Selanjutnya di sini

Ribuan Ikan Mati di Pulau Ambon Jadi Pertanda Tsunami

Temuan ribuan ikan mati dan terdampar di beberapa kawasan pesisir Pulau Ambon beberapa waktu lalu menghebohkan warga. Banyak warga yang mengaitkan fenomena tersebut dengan tsunami. Hal ini menimbulkan kepanikan sebagian warga yang bermukim di daerah pesisir. Bagaimana penjelasannya?

Selanjutnya di sini