Ashraf Sinclair Meninggal, Kenali 6 Faktor Risiko Serangan Jantung

Kompas.com Dipublikasikan 03.04, 18/02 • Ellyvon Pranita
KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENG
Ashraf Sinclair dalam peluncuran Do[s]a di Kaum Restaurant, Jakarta Pusat, Rabu (28/3/2018).

KOMPAS.com - Ashraf Sinclair (40), suami dari penyanyi Bunga Citra Lestari (BLC) meninggal dunia karena dugaan terkena serangan jantung, pagi ini, Selasa (18/2/2020).

Meskipun Ashraf tergolong masih masuk kategori usia muda dalam medis dan terlihat segar bugar, ternyata itu tidak berpengaruh terhadap risiko terkena serangan jantung yang berbahaya ini.

Oleh sebab itu, setidaknya Anda harus mengetahui apa saja faktor risiko seseorang bisa terkena serangan jantung, yang tergolong dalam penyakit kardiovaskular.

Baca juga: Ashraf Sinclair Meninggal, Masih Muda dan Olahraga, Mengapa Bisa Kena Serangan Jantung?

Faktor risiko serangan jantung

1. Perokok aktif

Para ahli medis selalu mengingatkan bahwa menjadi seorang perokok aktif sangat berisiko terhadap berbagai penyakit di dalam tubuh, termasuk penyakit di jantung.

"Dalam beberapa tahun terakhir, rokok menjadi faktor risiko terbesar penyakit kardiovaskular, terutama pada laki-laki," ungkap Siska Suridana Danny SpJP(K) dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, (26/7/2018).

Sebuah jurnal yang diterbitkan National Center for Biotechnology Information (ncbi.nlm.nih.gov) pada 2016 menunjukkan, perokok laki-laki memiliki faktor risiko mencapai 64,9 persen terkena penyakit kardiovaskular.

Para ahli menyebutkan, hanya dibutuhkan sebatang rokok sehari untuk membuat risiko seorang pria terkena penyakit jantung koroner naik 50 persen.

2. Penyakit jantung bawaan

Serangan jantung dapat terpadi pada siapa saja, tetapi risikonya sangat tinggi ketika genetika berperan.

Risiko penyakit jantung bawaan ditentukan dengan kondisi saudara laki-laki tingkat pertama seperti ayah, saudara laki-laki, di bawah usia 55 tahun dengan riwayat serangan jantung atau stroke.

Ini juga berawal dari saudara perempuan tingkat pertama seperti ibu, saudara perempuan atau anak perempuan di bawah usia 65 tahun dengan serangan jantung atau riwayat stroke.

"Ketika kita berbicara tentang orang muda yang mengalami serangan jantung, penting untuk mendiskusikan secara individual berdasarkan faktor risiko," kata Laffin.

3. Stres

Berdasarkaan data penelitian, orang berusia 22-39 tahu merupakan kelompok yang tingkat stresnya paling tinggi.

Stres diketahui dapat memperburuk peradangan pada pembuluh daraha koroner, yang menyebabkan sumbatan pembuluh darah dan peningkatan tekanan darah.

Penelitian di 52 negara menunjukkan, orang yang mengalami stres permanen di rumah atau kantor, berisiko dua kali lipat terkena serangan jantung.

4. Obesitas

Obesitas dan gaya hidup yang pasif atau menurunnya aktivitas fisik turut menyumbang risiko diabetes tiep 2, dan memicu serangan jantung pada seseorang.

Kelebihan berat badan tersebut bisa menyebabkan kerja jantung makin berat. Lemak yang menumpuk di area perut juga akan melepaskan zat-zat kimia yang memicu terjadinya peradangan.

Sehingga memicu timbunan pak di sekitar arteri sehingga sirkulasi darah tersumbat. Akibatnya adalah serangan jantung.

Baca juga: Suami BCL Meninggal, Kenali Tanda Awal Kena Serangan Jantung

5. Mengidap Diabetes melitus tipe 2

Dari pemberitaan Kompas.com pada (28/4/2019), seorang ahli jantung, Luke Laffin, mengatakan bahwa salah satu faktor risiko besar serangan jantung di usia muda adalah karena meningkatnya penderita diabetes melitus tipe 2 di kalangan muda.

Sementara, diabetes melitus tipe 2 ini bisa disebabkan pola makan yang keliru (alkohol) dan konsumsi makanan olahan yang terlalu tinggi kolesterol, dan kurangnya aktivitas fisik seperti berolahraga.

6. Hipertensi (tekanan darah tinggi)

Dari pemberitaan kompas.com (20/9/2019) bahwa pada hipertensi, yang terjadi yaitu darah memberi tekanan terlalu besar pada sistem kardiovaskular.

Lalu dinding pembuluh darah serta oto jantung bisa rusak dan menyebabkan serangan jantung termasuk komplikasi lainnya seperti gagal ginjal dan stroke.

Hal tersebut akan berbahaya karena serangan jantung dan stroke kerap terjadi di rumah, bukan di rumah sakit atau klinik. Serangan tersebut juga tidak bisa diprediksi.

"Makanya banyak orang yang kena serangan jantung itu di pagi atau malam hari. Karena tekanan darah pada pagi dan malam itu kondisi lebih tinggi," ujar dr Tunggul Situmorang, konsultan ginjal dan hipertensi RS Cipto Mangunkusumo.

Penulis: Ellyvon PranitaEditor: Gloria Setyvani Putri

Artikel Asli