Asap Kebakaran Lahan Selimuti Perkantoran Gubernur Bangka Belitung

kumparan Dipublikasikan 06.28, 17/09/2019 • Babel Hits
Tim penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Babel berupaya memadamkan api. (Dok. Istimewa)

Kabut asap tampak menyelimuti sekitar perkantoran Gubernur Bangka Belitung, Selasa (17/9). Kendati asap tergolong tipis, namun bau asapnya dapat terasa.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangka Belitung, Mikron Antariksa, hari ini telah terjadi kebakaran lahan di wilayah Bangka Tengah. Asap kebakaran lahan itu diembuskan oleh angin dari timur ke barat.

"Hari ini, terjadi kebakaran di dua lokasi berbeda yakni tak jauh dari SMKN 1 Pangkalanbaru dan di perkebunan sawit di Makorem Bangka Tengah," imbuh Mikron, Selasa siang (17/9).

"Jadi siang sampai sore hari ini, ada asap yang diakibatkan oleh kebakaran lokal. Tapi kami rasa ini tidak terlalu lama. Karena angin yang berembus lumayan kencang sehingga asap itu cepat berlalu dan tidak menetap lama. Sampai sekarang kita masih bisa melihat langit yang biru," lanjut Mikron.

"Kami harap masyarakat dapat menjaga lingkungan ini. Apabila terjadi kebakaran dapat membantu semaksimal mungkin. Karena asap kebakaran ini akan mengganggu kita semua," pungkas Mikron.

Ditemui di tempat berbeda, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Babel, drg. Mulyono Susanto, mengatakan adanya asap di sekitaran Pangkalpinang hari ini masih dikategorikan tidak berbahaya, tetapi rentan untuk kesehatan anak.

"Memang belum berbahaya, di sini asap pekatnya masih terlokalisir yaitu, hanya pada suatu tempat terjadinya kebakaran saja. Namun kita lihat apakah ada peningkatan kasus penderita ISPA, jantung, dan paru-paru nantinya. Khususnya pada anak yang sangat rentan. Makanya itu kita harus berhati-hati, kalau bisa agar masyarakat dapat mengurangi aktivitas di luar rumah," papar Mulyono.

Mulyono mengatakan, pihaknya terus memantau kondisi udara di Bangka Belitung. Bahkan, pihaknya sudah mengirimkan surat ke Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), guna mengukur kadar asap di Pangkalpinang.

"Kami belum punya alat untuk mengukur polusi udara, makanya kami ajukan ke BTKL Palembang untuk mengukur ISPU (Indeks Standard Pencemar Udara). ISPU ini berguna untuk mengetahui tingkatkan indeks kepekatan asap," kata Mulyono.

"Kami berinisiatif untuk menyebarkan masker. Ini langkah awal kami, dibantu dengan pihak PMI dan puskesmas, kita akan sebarkan masker di spot-spot asap yang dianggap berbahaya," pungkas Mulyono.

Artikel Asli