Asal Gen Yunani-Siprus dalam DNA Ariel

Historia.id Dipublikasikan 12.40, 18/10/2019 • historia.id
Nazril Irham (Ariel Noah) menjadi salah satu responden dalam Proyek DNA Historia. Foto: Fernando Randy.

NAZRIEL Irham atau yang populer disapa Ariel Noah mengaku kerap menerima celetukan “rasis” dari teman-temannya. “Ah pelit lu, Padang!” Begitulah celetukan yang jamak diterima oleh musikus kelahiran 16 September 1981 itu.

Namun alih-alih menanggapi, Ariel tak ambil pusing dengannya. Ia menganggapnya semata selorohan saja. “Nggak sampai bully, hanya ejekan ringan,” kata Ariel pada Historia sambil terkekeh.

Lahir di Pangkalan Brandan, Langkat, Sumatera Utara, Ariel tumbuh sebagai remaja di lingkungan berbahasa Sunda di Bandung. Keluarganya berasal dari Sumatera. Ariel mengidentifikasi dirinya sebagai orang Padang. Garis leluhur dari pihak ibunya berasal dari Padang, sementara ayahnya campuran Padang-Batak. Kakek Ariel dari pihak ayah merupakan orang Padang dari Bonjol, sementara neneknya seorang Batak bermarga Siregar.

“Di Padang, di tempat ibu ada satu silsilah besar tentang keluarga kami. Tapi kalau dibikin sampai ke atas, jangankan buku, tembok kayaknya juga nggak akan cukup,” sambungnya.

Ariel menjadi salah satu tokoh publik yang mengikuti Proyek DNA Historia.id untuk mengetahui asal moyangnya. Dalam Deoxyribonucleic acid (DNA), terdapat susunan genetika yang mambentuk identitas spesifik tiap orang. DNA tidak berubah sepanjang hidup. Tiap orang menerima setengah dari ibu dan setengah dari ayah yang memungkinkan pernyaluran genetik dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan begitu, DNA membawa cerita mengenai evolusi dan migrasi manusia. Gambaran migrasi tersebut menjadi rujukan asal-usul moyang orang Indonesia.

“Kita satu negara bisa banyak sekali keberagamannya. Dan itu menarik. Berbekal dari pengetahuan masa lalu, bagus untuk masa depan. Terutama menghindari bully yang tak perlu tentang kesukuan,” kata Ariel.

DNA Ariel

Dari hasil tes DNA, Ariel memiliki 79.78% gen Asia Selatan, 15.14% Asia Timur, 5.02% Asian Dispersed, dan 0.05% Timur Tengah. Seperti responden lain, Ariel memiliki persentase DNA Asia Timur yang cukup tinggi, dideteksi berasal dari Guam, pulau kecil di Pasifik. Sementara, gen Asian Dispersed yang dimiliki Ariel menggambarkan migrasi orang-orang Asia Timur dan Selatan ke Amerika Utara. Moyang genetik Asian Dispersed sama seperti orang Indonesia namun umur gennya lebih muda.

Sementara, gen Asia Selatan yang dimiliki Ariel merujuk pada negara-negara seperti Afghanistan, Bangladesh, Bhutan, India, Maladewa, Nepal, Pakistan, dan Sri Lanka. Dalam DNA Ariel terdapat beragam varian India, yakni India secara umum, Golla, Bangladesh, Gope, Tamil, Rajput, Nepal, dan Bhutia. “Sebagian besar DNA Ariel bersal dari Asia Selatan dengan beragam etnik atau suku yang ada di India. Tidak dijelaskan spesifik dari India mana, berarti yang ada di tubuh Ariel umum dimiliki oleh orang India,” kata Profesor Herawati Supolo Sudoyo, peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, pada Historia.

Jika menilik ke belakang, hubungan antara orang Batak (nenek dari pihak ayah Ariel) dan Tamil sudah terjalin sejak abad ke-6. Pedagang-pedagang Tamil mendirikan kota dagang bernama Barus, terletak di pesisir barat Sumatra Utara. Mereka berdagang kapur barus yang diusahakan oleh petani-petani di pedalaman. Kapur barus dari tanah Batak bermutu tinggi sehingga menjadi salah satu komoditas ekspor di samping kemenyan.

Paul Munoz dalam Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia menyebut, kelompok etnik utama di Barus pada waktu itu pastilah orang Tamil. Fakta bahwa Barus selamat dari Cola, dinasti Tamil di India Selatan, selama serangan 1025 M menunjukkan bahwa kota itu tidak dalam pengaruh Sriwijaya melainkan di bawah kendali serikat pedagang Tamil. Dari para pedagang Tamil inilah gen India berpindah ke Nusantara dalam gelombang migrasi yang paling modern.

Lebih jauh lagi, semua migrasi bermula dari Afrika pada 50.000 tahun lalu. Manusia purba dari Afrika pergi ke Eropa lewat Timur Tengah. “Orang-orang yang tinggal di Nusantara tak lepas dari pengembaraan dunia karena posisi Indonesia berada di persilangan migrasi,” kata Hera.

Gelombang pertama yang keluar dari Afrika ini masuk ke Indonesia melalui dua jalur. Pertama, menyusuri pinggir pantai, menyeberang ke arah timur lewat Nusa Tenggara. Kedua, melewati Kalimantan, Luwuk Banggai, Raja Ampat, dan Fakfak.

Pada gelombang kedua, yakni 30.000 tahun lalu, migrasi masuk lewat Kalimantan, Sumatra, dan Jawa. Pada migrasi ketiga yang disebut Out of Taiwan, orang-orang dari Cina Daratan masuk ke Formosa, ke Filipina, lalu turun ke Kalimantan. Dari sini, jalur pecah jadi dua, yang satu berjalan hingga Madagaskar, sedangkan satu lainnya ke Papua, berlanjut hingga ke Polinesia.

Keempat adalah masa sejarah antara tahun 700 sampai 1400 Masehi. Orang-orang Eropa, Tiongkok, India, dan Arab berdatangan ke Nusantara. “Semuanya mempengaruhi DNA orang Indonesia. Makin ke Timur makin banyak unsur genetika Melanesia,” kata Hera.

Perjalanan Gen Yunani-Siprus

DNA Ariel menunjukkan dirinya punya fragmen genetika dari Yunani-Siprus. Gen ini berasal dari Pulau Siprus di Laut Mediterania bagian timur. Pulau di selatan Turki, di barat Suriah, di utara Afrika, dan di timur Yunani itu sudah didiami sejak milenium ke-11 SM dengan ditemukannya desa pertanian Mediterania tertua di Siprus barat daya.

Orang Yunani Kuno (terutama Akhaia) baru menetap di Siprus pada Zaman Perunggu Akhir. Hubungan inilah yang jadi cikal-bakal gen Yunani-Siprus dalam tubuh Ariel. Dalam artikel “Y-Chromosomal Analysis of Greek Cypriots Reveals A Primarily Common Pre-Ottoman Paternal Ancestry with Turkish Cypriots”, Profesor Epidemiologi di Universitas Nicosia Siprus Alexandros Heraclides bersama Profesor Eva Fernandez-Dominguez, arkelog dari Universitas Durham, Inggris dan rekan-rekan lainnya menduga gen Yunani-Siprus mulai ada di pulau itu pada awal Zaman Besi (sekitar 1000 SM).

Posisi istimewa Siprus, yang terletak di persimpangan tiga benua, menghasilkan sejarah  penuh gejolak yang didominasi banyak kerajaan besar. Di pulau itu, orang Fenisia (Phoenician) hidup bersama orang Yunani yang seiring waktu menjadi Hellenik. Siprus juga pernah dikuasai Asyur, Persia, Macedonia semasa Alexander Agung dan penggantinya dari dinasti Ptolemeus di Mesir. Semasa penguasaan Romawi, ia dimasukkan menjadi bagian dari Kekaisaran Bizantium.

Penaklukan Pulau Siprus berlanjut semasa Perang Salib, oleh Richard the Lionhearted of England. Setelah itu, penguasaan atas Siprus dilakukan oleh pemerintahan keluarga Frankish Lusignan, diikuti oleh pemerintahan Venesia, penguasaan selama tiga abad oleh Ottoman (1571 ± 1878), dan terakhir oleh Inggris hingga Siprus merdeka pada 1960.

Singgungan yang beragam dengan bangsa lain ini membuat fragmen genetika Yunani-Siprus bisa terbawa hingga ke Asia Selatan, lalu berlanjut hingga ke Nusantara. Daerah itu juga berada di jalur migrasi Mediterania dan India. Di sana terdapat pertemuan antara Asia Barat dan Mesir (Afrika Utara) yang sebagian besar terdiri dari Arab, Turki, Persia, dan Kurdi. Menurut Hera, dalam kelompok migrasi itu juga terdapat populasi kecil dari Bengal, Pakistani, dan Yunani-Siprus.

“Mediterania Timur memang sangat berpengaruh dalam migrasi. Itu menarik tempatnya karena berbatasan dengan Turki, Siria, Lebanon, Israel, Palestina, Yunani, dan Mesir. Yang tinggal di situ kebanyakan Armenian dan Turki. Jadi dari sanalah bagian (DNA) Timur Tengah-nya,” kata Hera.

Artikel Asli