Arifin Tasrif jadi Menteri ESDM, Jokowi Minta Impor Migas Ditekan

Tempo.co Dipublikasikan 04.45, 23/10/2019 • Rr. Ariyani Yakti Widyastuti
Arifin Tasrif diperkenalkan Presiden Joko Widodo sebagai Menteri ESDM saat pengumuman jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju di tangga beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu 23 Oktober 2019. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Jokowi berharap sebagai Menteri ESDM, Arifin dapat meningkatkan investasi di sektor energi baru terbarukan dan mencari solusi menekan impor migas.

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menunjuk Arifin Tasrif sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menggantikan Ignasius Jonan untuk periode pemerintahan 2019-2024. Sebelum ditunjuk menjadi Menteri ESDM, Arifin menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Jepang.

Arifin yang merupakan lulusan Fakultas Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung 1977, sebelumnya pernah memimpin PT Petrokimia Gresik. Ia pun pernah menjadi Dirut PT Pupuk Sriwidjaja dan Pupuk Indonesia Holding Company hingga 2015.

Jokowi berharap sebagai Menteri ESDM, Arifin dapat meningkatkan investasi di sektor energi baru terbarukan dan mencari solusi menekan impor minyak dan gas bumi. Pria kelahiran 19 Juni 1953 ini langsung dihadapkan sedikitnya pada lima pekerjaan rumah.

Pertama, menaikkan rasio elektrifikasi. Rasio elektrifikasi kini telah mencapai 98,81 persen. Sebelumnya, pemerintah menargetkan rasio elektrifikasi tersebut bisa mencapai 100 persen pada 2020.

Selain itu, ada megaproyek 35.000 MW yang masih berjalan hingga saat ini. Awalnya, proyek tersebut ditargetkan selesai pada 2019. Namun, dengan berbagai tantangan dan pertimbangan, proyek tersebut diperkirakan baru tuntas pada 2028.

Pekerjaan rumah kedua adalah pengembangan energi terbarukan. Dengan masa bakti hingga 2024, Arifin harus bisa memastikan target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen bisa tercapai pada 2025. Hal ini tidak mudah karena energi terbarukan masih kalah dibanding energi fosil, khususnya dari sisi harga listrik.

Selain itu, beberapa proyek energi terbarukan nilai keekonomiannya masih perlu dikaji ulang. Namun, upaya meningkatkan bauran energi terbarukan bisa tertolong dari penggunaan unsur nabati dalam biodiesel. Tahun depan, program B30 akan mulai berjalan.

Lalu pekerjaan rumah ketiga di bidang produksi minyak dan gas bumi. Arifin dihadapkan dengan laju penurunan produksi minyak dan gas bumi yang bergerak dalam rentang 1-3 persen dalam 5 tahun ke belakangan ini. Selain itu, peningkatan kualitas tata kelola bisnis migas pun diharapkan dapat terlihat.

Keempat, hilirisasi mineral dan batu bara (minerba). Hilirisasi industri tambang juga jadi harapan terutama karena hal inilah yang menentukan keberlanjutan industri hasil tambang ke depan.

Tidak hanya itu, Arifin juga langsung dihadapkan dengan PR kelima yakni adanya kontrak 7 perusahaan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) generasi 1 akan habis dalam 5 tahun mendatang.

Pengamat Ekonomi Energi UGM Fahmy Radhi mengatakan keputusan Jokowi memilih sosok Arifin sudah tepat. Pasalnya, Arifin yang telah menjadi Duta Besar Indonesia di Jepang, dapat membantu menarik investasi.

Selain itu, kata Fahmi, latar belakangnya menukangi perusahaan petrokimia juga menjadi nilai tambah. "Jadi, saya kira yang menjadi prioritas di Kementerian ESDM yaitu menarik investasi. Misalnya, terkait masalah Masela, kan memang sudah ada kesepakatan yang dilakukan menteri sebelumnya, Arifin tinggal mengimplementasikan," tuturnya, Rabu, 23 Oktober 2019.

BISNIS

Artikel Asli