Antisipasi Kekosongan Stok, Pengusaha Diingatkan Tak Gunakan BBM Subsidi

Merdeka.com Dipublikasikan 07.30, 13/10/2019
SPBU. ©2012 Merdeka.com
Selama ini, setiap akhir tahun di Serambi Makkah sering mengalami krisis BBM bersubsidi. Kondisi ini patut diduga ada kesalahan dalam penyalurannya, mengalir kepada pihak yang tidak berhak.

Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Rafli mengingatkan pengusaha di Aceh agar tidak menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Ini untuk mengantisipasi terjadinya kekosongan minyak menjelang akhir tahun.

Selama ini, setiap akhir tahun di Serambi Makkah sering mengalami krisis BBM bersubsidi. Kondisi ini patut diduga ada kesalahan dalam penyalurannya, mengalir kepada pihak yang tidak berhak.

"Di sinilah pentingnya sinergi dari semua pemangku kepentingan dan juga masyarakat untuk mengawasi penyalurannya sehingga tepat sasaran," kata Rafli, Minggu (13/10).

Rafli mengingatkan semua stakeholder di Tanah Rencong untuk benar-benar menaruh perhatian yang serius pada persoalan distribusi BBM bersubsidi. Harus dipastikan tepat sasaran, sehingga kuota BBM bersubsidi untuk Aceh akan tercukupi hingga akhir tahun.

Katanya, perlu diantisipasi secara serius oleh pemerintah, Pertamina, dan aparat penegak hukum, sehingga kekosongan BBM subsidi di SPBU tidak terjadi menjelang akhir tahun.

"Langkah antisipasi ini akan memastikan bahwa antrean panjang selama berjam-jam di SPBU untuk mendapatkan BBM tidak akan terjadi lagi," ungkapnya.

Masyarakat juga diminta agar menggunakan BBM non-subsidi, terutama kalangan dunia usaha, perkebunan, kontraktor pemerintah, dan kalangan industri. Karena BBM non-subsidi memang tidak diperuntukkan bagi mereka.

"Dibutuhkan kesadaran kolektif dari teman-teman pengusaha, kontraktor, dan kalangan industri untuk bersama-sama menjaga ketahanan energi kita, sehingga iklim usaha dan stabilitas di masyarakat bisa dipertahankan."

Menurut Rafli, sejak beberapa tahun ini BBM subsidi sudah dibatasi ketersediaannya di setiap SPBU. Pembatasan ini disebabkan oleh telah habisnya jumlah kuota BBM bersubsidi yang dialokasikan pemerintah dan disalurkan melalui Pertamina.

"Pemerintah sebenarnya telah menetapkan kuota BBM subsidi untuk setiap provinsi, termasuk Aceh, yang disesuaikan dengan kebutuhan hingga akhir tahun. Biasanya kuota yang diberikan selalu lebih besar dari kebutuhan," sebutnya.

Artikel Asli