Analisis di Balik Pesatnya Realme hingga Kini Mengancam Xiaomi

Kompas.com Dipublikasikan 05.12, 16/10/2019 • Oik Yusuf
PhoneRadar
Ilustrasi ponsel Realme X di bawah logo Realme

KOMPAS.com - Realme, perusahaan spin-off dari Oppo yang dipimpin oleh mantan VP Oppo, Sky Li, adalah salah satu pendatang baru di dunia smartphone yang lekas menonjol.

Hanya dalam waktu setahun dari kuartal II-2018 hingga kuartal II-2019, Realme berhasil masuk 10 besar pabrikan ponsel pintar dunia, dengan pangsa pasar 1,3 persen persen, menurut data firma riset pasar Counterpoint Research.

Dalam periode tersebut, jumlah pengapalan smartphone Realme naik drastis, yakni 848 persen, dari mulanya hanya sekitar 500.000 unit menjadi 4,7 juta unit.
Ada apa di balik kesuksesan Realme? Perusahaan yang baru berdiri independen -bukan lagi sub-brand Oppo -pada pertengahan 2018 itu dikenal sangat cepat dalam menelurkan model smartphone baru dan memasarkannya.

Realme kini menawarkan tak kurang dari 17 model smartphone yang dijual di 20 negara di seluruh dunia. Aneka ponsel tersebut mengisi berbagai rentang harga, mulai dari bawah hingga menengah.

Baca juga: Depak Asus, Realme Masuk 5 Besar Pabrikan Smartphone di Indonesia

"Salah satu filosofi utama kami adalah memberikan produk terbaik di kelasnya untuk tiap segmen harga," ujar kepala Realme India, Madhav Sheth, kepada Android Authority, sebagaimana dirangkum KompasTekno, Rabu (16/10/2019).

Dibantu Oppo

Menurut Shev, tim Realme memang sengaja agresif dalam menggelontorkan model baru di pasaran dengan waktu turn-around yang sangat singkat. Tiap ponsel anyar dibekali dengan fitur dan spesifikasi yang lebih mumpuni dibanding pendahulunya.

"Dari konsep hingga peluncuran (ponsel baru), saya kira waktunya sekitar 90 hingga 120 hari," kata Sheth.

Salah satu alasan Realme bisa terus membikin produk baru dengan cepat adalah posisinya yang menguntungkan sebagai spin-off Oppo, yang sama-sama bernaung di bawah perusahaan induk BBK Electronics.
Alih-alih mesti memulai dari nol seperti pemain yang benar-benar baru, Realme pun mewarisi beragam fasilitas dan teknologi yang sudah dibangun lebih dulu oleh Oppo.

Baca juga: Mengamati Pergeseran Pasar Smartphone Indonesia di 2019

Misalnya saja, antarmuka sitem operasi Color OS bikinan Oppo yang juga dipakai di ponsel-ponsel Realme, dengan sedikit penyesuaian.

Begitu pula dengan teknologi fast charging Super VOOC. Sheth pun mengakui hal ini.

"Kami (Realme dan Oppo) memang berbagi banyak sumber daya, termasuk dalam hal produksi, kontrol kualitas, dan lain-lain. Tapi kami juga punya tim sendiri untuk mengembangkan fitur yang diinginkan pengguna Realme," tuturnya.

Incar pasar online

Meski satu payung, Realme dan Oppo mengincar "kue" yang berbeda di pasaran.

Oppo fokus ke pasaran lewat retail offline di gerai-gerai, terutama di negara berkembang macam Indonesia dan India. Sementara, realme lebih mengincar jalur online.

Sheth menerangkan bahwa Realme melihat peluang di pasaran online. Setelah Lenovo dan Motorola hengkang, ada celah di pasar yang mengundang untuk diisi.

"Kami mengamati bahwa ada kekosongan besar di produk-produk yang ditawarkan secara online. Konsumen mencari pilihan yang lebih banyak," kata Sheth.

Realme turut menyesuaikan desain perangkatnya agar lebih menarik bagi konsumen muda yang dibidiknya. Warna-warna bergradasi menghiasi punggung ponsel, bahan plastik polikarbonat di seri Realme 5 pun kini berganti jadi logam dan kaca di Realme X dan Realme XT.

Produk-produk Realme biasanya mengisi segmen harga menengah dan entry level dengan kisaran harga di bawah 300 dollar AS (Rp 4 jutaan).

Namun ke depannya, Realme berencana melebarkan sayap ke pasaran menengah-atas, dengan kisaran banderol smartphone mencapai 600 dollar AS (Rp 8 jutaan) untuk mengisi lebih banyak segmen harga.

Mengancam Xiaomi
Kiprah Realme yang cemerlang di pasaran tak pelak mengusik pabrikan lain, terutama Xiaomi yang mengincar segmen harga serupa, dan juga banyak mengandalkan jalur pemasaran online.

Di Indonesia, menurut laporan firma pasar IDC, Realme bahkan sudah menggerus pangsa pasar Xiaomi sehingga berhasil masuk ke lima besar pabrikan smartphone Tanah Air pada kuartal II-2019, kurang dari setahun setelah debut di pasaran.

Baca juga: IDC: Realme Masuk Lima Besar di Indonesia karena Xiaomi

"Spesifikasi dan desain produknya (Realme) lebih kompetitif dibanding yang ditawarkan oleh Xiaomi, sehingga konsumen banyak yang beralih ke Realme," ujar analis IDC Indonesia, Risky Febrian.

Risky memaparkan bahwa tahun ini Xiaomi tidak melepas banyak model smartphone baru, sehingga memengaruhi kondisi pasarnya. Sementara, Realme lebih aktif menggempur pasar.

Lalu ada masalah kelangkaan produk, sehingga ponsel Xiaomi terkenal sering "gaib", alias sukar dicari di pasaran.

Kalaupun ada, harganya kerap sudah melambung, karena ada permainan harga dari pedagang yang memanfaatkan kelangkaan.

Di Indonesia, produksi Xiaomi ditangani oleh pabrik Sat Nusapersada di Batam. Realme diketahui memproduksi ponselnya di pabrik Oppo di Tangerang.

Dulu-duluan 64 megapiksel

Persaingan Realme dan Xiaomi belakangan makin memanas, terutama menyangkut produk baru dari seri Realme XT dan Redmi Note 8 Pro yang sama-sama mengunggulkan kamera 64 megapiksel sebagai fitur utama.

Baca juga: Realme XT Berkamera 64 MP Meluncur 23 Oktober di Indonesia

Realme XT diperkenalkan dalam waktu hampir berbarengan dengan Redmi Note 8 Pro. Kedua pihak saling mengklaim produknya sebagai ponsel pertama dengan kamera 64 megapiksel.

Tanggal peluncuran kedua smartphone di Indonesia pun berdekatan. Xiaomi berencana memperkenalkan Redmi Note 8 (Pro) ke konsumen Tanah Air pada 17 Oktober 2019, sedangkan Realme XT akan menyusul hanya beberapa hari setelahnya, pada 23 Oktober 2019.

Baik Xiaomi maupun Realme sama-sama berupaya membangun hype alias antusiasme publik atas produk masing-masing. Awal pekan ini, misalnya, sejumlah YouTuber beken berbarengan merilis video soal Realme XT.

Di sisi lain, Xiaomi mengirimkan undangan acara peluncuran Redmi Note 8 berupa foto raksasa berukuran 3 x 2 meter, untuk menonjolkan resolusi kamera 64 megapiksel yang bisa dicetak seukuran itu.

Xiaomi pun di sisi lain juga berupaya menekankan bahwa Redmi Note 8 (Pro) merupakan ponsel 64 megapiksel pertama di kanal-kanal media sosialnya.

Meski tanggal peluncurannya memang lebih dulu, namun masih perlu dilihat ponsel mana yang akan pertama dirilis atau tersedia di pasaran, apakah Redmi Note 8 Pro atau Realme XT? Bagaimana pula dengan stok produknya nanti?

Rivalitas antara Realme dan Xiaomi yang makin kentara ini menarik untuk diamati. Pada akhirnya, persaingan inovasi dan harga para pemain di pasaran bakal menguntungkan satu pihak. Siapa lagi kalau bukan kita, para konsumen pencinta gadget.

Penulis: Oik YusufEditor: Reska K. Nistanto

Artikel Asli