Anak Kobra Banyak Berkeliaran Karena Bulan Berkembang Biak

Merdeka.com Dipublikasikan 09.39, 09/12/2019
ular kobra. shutterstock
Satu indukan kobra, katanya, bisa mengeluarkan 30 butir telur sekali bertelur. Bahkan, jika cuaca cukup baik bagi mereka, semua telur itu bisa menetas. “Kalau kelembapannya dan hangatnya baik ini bisa menetas semua. Kalau tidak ya paling sebagian jadi anak ular semua,” katanya.

Warga Kabupaten Bogor resah banyak anak ular kobra berkeliaran setelah intensitas hujan mulai meningkat. Temuan terbanyak di Perumahan Royal Citayam Residence, Desa Susukan, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, ditemukan tiga puluh ekor lebih.

Ketua Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Benfica, menjelaskan salah satu sebab ular masuk ke permukiman warga karena habitat mereka mulai tergerus peradaban manusia. Selain itu, akhir tahun seperti bulan November dan Desember memang bulan-bulan hewan reptil itu berkembang biak. Biasanya, di bulan-bulan itu telur ular akan menetas lebih banyak.

"Memang ini bulan-bulan mereka berkembang biak dan banyak telur menetas. Ini bukan cuma di Bogor, tapi juga di Jember. Karena ular kobra banyak berkembang biak di Jawa Barat dan Jawa Timur," kata Benfica kepada wartawan, Senin (9/12).

Menurutnya, ular kobra yang berkeliaran belakangan ini jenis Kobra Jawa yang memiliki habitat di pohon-pohon bambu. "Ya mungkin dulunya hutan bambu tapi sekarang jadi perumahan. Kalau di pohon bambu kan lembap," katanya.

Satu indukan kobra, katanya, bisa mengeluarkan 30 butir telur sekali bertelur. Bahkan, jika cuaca cukup baik bagi mereka, semua telur itu bisa menetas. "Kalau kelembapannya dan hangatnya baik ini bisa menetas semua. Kalau tidak ya paling sebagian jadi anak ular semua," katanya.

Ditambahkan Ketua Paguyuban Perumahan Royal Citayam Residen, Hari Cahyo, warga tidak asal tangkap jika menemukan ular kobra. Apalagi menggunakan alat-alat yang tidak seharusnya.

"Soalnya katanya biar masih kecil ularnya bisa nyemburin bisa juga. Kita juga sarankan supaya ngepel lantai pakai pewangi. Katanya (ular) takut kalau wangi," tutup Hari Cahyo.

Artikel Asli