Alasan Militer AS Masih Pakai Disket dan Komputer Jadul

Kompas.com Dipublikasikan 08.07, 21/10/2019 • Bill Clinten
Engadget
Ilustrasi disket yang sedang digunakan lembaga pertahanan AS.

KOMPAS.com - Beberapa tahun lalu, terungkap fakta bahwa sarana penyimpan "floppy disk" atau biasa disebut disket, ternyata masih digunakan mengeksekusi sejumlah operasi penting di Lembaga Pertahanan Amerika Serikat (AS).

Disket berukuran 8 inci ini berjalan di komputer IBM Series/1 yang dibuat tahun 1970-an dan didukung dengan software "percakapan internal" khusus bernama Strategic Automated Command and Control System (SACCS).

Kini, pemerintah AS membeberkan alasan mengapa disket tersebut masih digunakan meski zaman sudah modern. Hal itu dipaparkan oleh seorang perwakilan tentara Angkatan Udara AS bernama Letkol Jason Rossi pada sebuah wawancara pekan lalu.

Ia membeberkan bahwa faktor keamananlah yang membuat garda terdepan pemerintah ini masih mengandalkan disket.

Baca juga: Kapal Selam Nuklir AS Masih Pakai Disket dari Tahun 70-an

"Anda tidak bisa meretas sesuatu yang tidak memiliki alamat IP (disket)," kata Rossi sebagaimana dikutip KompasTekno dari C4isrnet, Senin (21/10/2019).

"Perangkat tersebut punya sistem yang unik, umurnya tua namun tetap sangat baik (sistemnya)," imbuhnya.

Adapun alasan ini terungkap bertepatan dengan langkah lembaga pertanahan AS yang disebut tidak lagi menggunakan disket dan beralih ke "solid state digital storage" sejak Juni lalu.

Tak kalah dengan disket, media penyimpanan model ini diklaim memiliki sistem keamanan yang paten.

Baca juga: Simulator Jet Tempur China Ketahuan Pakai Windows XP

Sebelumnya, pada 2016 silam, perwakilan Lembaga Pertahanan AS sempat mengatakan bahwa seluruh sistem "jadul", termasuk disket tadi, bakal diganti dengan peralatan yang lebih modern.

Rencana perombakan sistem lama dengan peralatan baru ini awalnya diprediksi bakal selesai sekitar akhir 2017. Kendati sudah lewat target, tidak dijelaskan apakah rencana tersebut sudah rampung atau belum.

Penulis: Bill ClintenEditor: Reska K. Nistanto

Artikel Asli