Aksi Protes Warga Tanjung Priok Berujung Permohonan Maaf Yasonna

kumparan Dipublikasikan 23.16, 22/01/2020 • Nabilla Fatiara
Massa Tanjung Priok saat orasi di Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (22/1). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

Ratusan warga Tanjung Priok menggeruduk kantor Menkumham Yasonna H. Laoly di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (22/1). Penyebabnya? Yasonna 'selip lidah' dengan mengatakan kriminalitas di daerah kumuh dan miskin seperti Tanjung Priok lebih banyak dibanding di daerah Menteng.

“Berikan saya 2 orang anak. Satu anak lahir di Menteng, ibu kaya, ayah kaya. Berikan saya juga anak dari Tanjung Priok, lahir dari ibu pelacur, bapak preman, kasih ke saya,” ujar Yasonna, Kamis (16/1).

"Split them in years. Look at them who will be the criminal," imbuhnya.

Warga Tanjung Priok begitu tumpah ruah di jalanan dalam aksi demonstrasi bertajuk 'Aksi Damai 221 Tanjung Priok Bersatu'. Mereka juga membawa poster bergambar Yasonna dengan tulisan ‘Wanted, gue pribumi Priok, lo jual gue beli’. Bendera solidaritas warga Priok juga dikibarkan.

Warga Tanjung Priok demo di depan Kemenkumham, Rabu (22/1). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

“Yasonna mana, Yasonna mana. Priok datang bawa pasukan. Priok bukan kriminal,” teriak warga.

Mereka menggelar aksi untuk meminta satu tuntutan: Yasonna minta maaf kepada warga Tanjung Priok.

Warga Tanjung Priok demo di depan Kemenkumham, Rabu (22/1). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

“Tuntutan kami cuma satu Bapak Yasonna segera meminta maaf. Artinya kami ke sini bukan hanya meminta klarifikasi beliau, tetapi juga memperbaiki nama baik Tanjung Priok," ucap koordinator aksi, Dimas.

Berbagi yel-yel pun diteriakkan warga Tanjung Priok yang tak terima dengan ucapan Yasonna. Sekalipun mereka harus beraksi di bawah guyuran hujan.

“Kami memang dididik keras, tapi kami bukan kriminal, Pak. Kami cinta damai, men!" ujar koordinator aksi.

“Sebagian mantan narapidana, tapi kami juga punya hak untuk masa depan. Angka kriminal di Priok menurun, Pak,” tegasnya.

Perwakilan massa sempat diperbolehkan masuk ke gedung Kemenkumkan untuk berdialog. Namun, mereka tak berhasil bertemu Yasonna. Mereka pun menuntut Yasonna meminta maaf secara terbuka dalam waktu 2x24 jam.

Koordinator aksi demo warga Tanjung Priok, Kemal Abubakar (tengah) di Kemenkumham, Rabu (22/1). Foto: Muhammad Darisman/kumparan

“Kami warga Tanjung Priok tetap akan mendesak Bapak Menteri untuk meminta maaf 2x24 jam secara terbuka di hadapan media ini bentuk pelecehan sosial terhadap masyarakat Tanjung Priok,” tegas koordinator aksi lainnya, Kemal.

Tak sampai disitu, massa juga mengancam bakaal menutup Pelabuhan Tanjung Priok sebelum membubarkan diri.

Aksi massa Tanjung Priok di Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (22/1). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

“30 persen nonmigas wara-wiri di kampung kita, besok kita hentikan itu. Kita buktikan kepada Yasonna siapa yang berkuasa, kita punya pelabuhan kita hentikan itu," kata Kemal.

Aksi ini membuat ruas Jalan HR Rasuna Said ditutup. Antrian kendaraan pun mengular, baik yang hendak menuju Rasuna Said dan ke jalan-jalan lainnya. Imbas penutupan jalan sempat mengakibatkan arus lalu lintas di Jalan Letjen MT Haryono, Jalan Gatot Subroto, Jalan Casablanca, hingga simpang Semanggi lumpuh total.

Yasonna Sempat Membela Diri

Di tengah-tengah aksi, Yasonna sempat mengeluarkan pernyataan pembelaan setelah membandingkan tingkat kriminalitas di Tanjung Priok dengan kawasan elite Menteng.

"Mengingat kesalahpahaman, serta akibat tidak mendengarkan pidato saya secara utuh, pidato ini kemudian dipelintir oleh orang-orang tertentu yang pemahamannya tidak benar dan jauh dari substansi yang dimaksud. Untuk itu, saya ingin meluruskannya," kata Yasonna dalam keterangannya.

Yasonna menjelaskan, ungkapan tersebut ia lontarkan saat memberikan sambutan di Lapas Narkotika Cipinang bersama Kepala BNN, Kepala BNPT, dan perwakilan beberapa lembaga. Saat itu, ia bermaksud menjelaskan soal faktor criminogenic dari kemiskinan, sesuai dengan disertasinya saat menempuh gelar doktoral di bidang Kriminologi di AS.

Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly memaparkan refleksi akhir tahun 2019 kementeriannya di kantor Kemenkum HAM, Jakarta, Jumat (27/12/2019). Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

"Tujuan saya menjelaskan agar masyarakat tidak mempunyai pandangan yang terlalu punitive terhadap para narapidana, sebab crime is a social product instead of genetic product," jelasnya.

Yasonna lalu menyayangkan isi pidatonya yang dipelintir seolah-olah seluruh masyarakat Tanjung Priok adalah penjahat. Padahal, ia bahkan sudah memberikan contoh ekstrim lainnya untuk menunjukkan perbedaan penyebab kejahatan antara faktor genetik dan sosial ekonomi.

"Saya contohkan, beri saya dua bayi, satu yang lahir dari Ibu PSK dan ayah bandit dari slums area, misalnya di Tanjung Priok, dan anak orang berkecukupan dengan ibu sangat terdidik dan ayah pengusaha, misalnya dari Menteng," tuturnya.

Kedua bayi tersebut kemudian ditukar satu sama lain dan dididik hingga 20 tahun kemudian. Setelah itu, kata Yasonna, anak yang lahir dari keluarga di Menteng justru akan memiliki kecenderungan berbuat kriminal ketimbang anak yang lahir dari keluarga di Tanjung Priok.

Akhirnya Minta Maaf

Konferensi pers Menkumham Yasonna Laoly soal terkait Tanjung Priok, Rabu (22/1). Foto: Muhammad Lutfan Darmawan/kumparan

Sekitar tiga jam setelah aksi berakhir, politikus PDIP itu akhirnya meminta maaf kepada warga Tanjung Priok. Ia meminta maaf karena ucapannya menjadi polemik panjang.

Yasonna mengungkapkan tak ada maksud apa pun dengan membandingkan Tanjung Priok dengan Menteng. Ia mengatakan, apa yang disampaikan merupakan suatu hal yang ilmiah dan harusnya juga ditanggapi secara ilmiah.

Aksi massa Tanjung Priok di Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (22/1). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

Berikut pernyataan lengkap Yasonna yang dibacakan untuk warga Tanjung Priok:

Pertama, saya sampaikan terima kasih atas kehadiran teman-teman media dalam konpers sore hari ini.

Kedua, saya sampaikan terima kasih juga, bahwa saya diingatkan oleh saudara-saudara saya warga Tanjung Priok, sekaligus ingin menjelaskan bahwa apa yang saya sampaikan saat acara Resolusi Pemasyarakatan 2020 di Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta itu sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyinggung perasaan saudara-saudara di Tanjung Priok.

Ketiga, bahwa kemudian ternyata itu berkembang dengan penafsiran yang berbeda di media massa dan publik luas, sehingga saudara-saudaraku merasa tersinggung, maka saya menyampaikan permohonan maaf. Akan tetapi sekali lagi ingin saya sampaikan, saya sedikit pun tidak punya maksud itu.

Saya berharap setelah konpers ini kita dapat kembali menyatukan hati dan diri kita sebagai sesama anak bangsa. Mudah-mudahan saya akan mencari waktu yang pas untuk bersilaturahmi dengan saudara-saudaraku di Tanjung Priok.

Artikel Asli