Aksi Penyamaran Hoegeng

Historia.id Diupdate 22.51, 01/07 • Dipublikasikan 22.51, 01/07 • historia.id
Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Sumber: Cover buku “Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan”.

Pernahkah anda membayangkan seorang Kepala Kepolisian RI mengenakan wig panjang dan kemeja bunga-bunga berikut syal di leher, lalu menghisap rokok kretek sambil pura-pura teler? Aksi demikian pernah dilakukan Jenderal Hoegeng Iman Santoso, Kapolri periode 1968—1971.

“Itulah pekerjaan gila yang pernah saya lakukan ketika saya menjabat kepala polisi, menyamar jadi hippies dan bergaul di antara para pecandu narkotik,” tutur Hoegeng kepada wartawati Tempo Leila S. Chudori pada 22 Agustus 1992, yang dimuat dalam jilid ketiga Memoar Senarai Kiprah Sejarah.

Hoegeng terpaksa menyamar. Peredaran narkotika di kalangan anak muda telah sampai tahap yang meresahkan. Hoegeng tentu sadar tindakannya penuh resiko dan membahayakan diri.

“Ini bukan adegan televisi. Saya gemar menyamar untuk mengetahui persoalan-persoalan yang sesungguhnya,” kata Hoegeng.

Jadi Pelayan Restoran

Cara-cara penyamaran dalam operasi kepolisian telah dilakoni Hoegeng sejak zaman revolusi. Pada 1948, situasi keamanan dalam negeri begitu mencekam. Setelah Insiden Madiun diakhiri menyusul kemudian agresi militer Belanda yang kedua. Saat itu Hoegeng tercatat sebagai siswa Akademi Kepolisian Mertoyudan Magelang yang sudah berdinas sebagai polisi aktif.  

Rentetan gejolak itu membuat Kepala Kepolisian Negara Raden Said Soekanto menugaskan beberapa perwira polisi menyusun jaringan sel subversi di Yogyakarta. Hoegeng terpilih menjadi salah satunya. Misi intelijen ini dikoordinasikan di bawah pimpinan Soekarno Djojonegero.

Hoegeng ditugaskan mengumpulkan berbagai informasi yang diperlukan bagi perjuangan. Untuk itu, Hoegeng bersiasat untuk menarik simpati atau melakukan propaganda agar sebagaian serdadu atau pegawai NICA berpihak kepada Indonesia. Dengan demikian, Hoegeng dapat mencari dan mengumpulkan senjata dari mereka.

“Untuk menjalankan tugas saya yang baru dan merupakan tugas rahasia itu, maka saya menyamar sebagai pelayan restoran,” kata Hoegeng kepada Abrar Yusra dan Ramadhan K.H dalam otobiografi Hoegeng, Polisi: Idaman dan Kenyataan.

Selain itu dengan menyamar sebagai pelayan restoran, setidaknya kebutuhan makan Hoegeng terpenuhi. Karena sejak agresi militer Belanda, Hoegeng sudah tidak lagi menerima gaji. Demikian juga sebagai pelayan restoran, Hoegeng tidak digaji melainkan hanya menerima jatah makan. Walau prihatin, sesekali Hoegeng mendapat bantuan keuangan langsung dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Pengalaman menyamar sebagai pelayan restoan tampaknya begitu berkesan bagi Hoegeng.

“Kelak demi kepentingan dinas kepolisian, kebiasaan menyamar ini masih sering dilakukan Hoegeng walaupun ketika itu ia sudah menjabat Kapolri,” tulis Aris Santoso, dkk dalamHoegeng: Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Pemimpin Bangsa.    

Pura-Pura Gila   

Memasuki 1970, Hoegeng diresahkan dengan angka korban obat bius di kalangan remaja yang luar biasa tinggi. Jenis zat psikotropika yang saat itu sedang digemari adalah mariyuana atau ganja. Hoegeng tidak menyangka mariyuana termasuk obat yang dilarang sebab daun tersebut lazim dipakai di Aceh sebagai bumbu masakan gulai. Pandangan Hoegeng berubah setelah dirinya menghadiri Interpol Conference pada 1971.

Sekembalinya ke Indonesia, Hoegeng segera menyusun rencana membongkar sindikat peredaran mariyuana. Untuk mengetahui daerah pusat peredaran, Hoegeng menyebarkan anak buahnya ke berbagai tempat. Soalnya, ada yang menjualnya di tukang rokok dengan cara menyelundup. Anak muda yang ketagihan akan tahu tukang rokok mana yang menjual barang haram tersebut. Karena ingin tahu lebih lanjut alasan mereka menggemari mariyuana, Hoegeng pun turun ke jalan.

“Inilah asal mula munculnya ide penyamaran. Para anak buah saya mengusulkan agar saya menyamar dan berdandan seperti anak muda tahun 70-an,” kata Hoegeng dalamMemoar Senarai Kiprah Sejarah.

Begitulah, untuk menjalankan tugas secara paripurna, Hoegeng tidak sungkan tampil norak dan kumal ala generasi bunga. Pokoknya, seperti orang gila. Hoegeng mengenang, dirinya berjalan kemana-mana selama berhari-hari dan tiada seorang pun yang mengenali. Yang menggelikan, selama penyamaran itu, Hoegeng tetap keder mencoba mariyuana. Hoegeng hanya berani merokok sembari bertanya macam-macam kepada anak-anak berandalan itu.

Dari penyaamaran itu, Hoegeng berhasil memperoleh temuan yang mencengangkan. Beberapa anak muda yang ditangani Hoegeng berasal dari keluarga korban perceraian. Banyak juga diantara mereka yang berasal dari keluarga baik-baik dan kaya raya.

Sekali waktu Hoegeng menginterogasi seorang anak yang diserahkan seorang pegawai bea cukai dan seorang polisi karena kedapatan mengisap ganja. Dengan pendekatan persuasif, Hoegeng memperoleh pengakuan bawa anak itu merupakan anak seorang menteri. Bersegeralah Hoegeng menguhubungi sang menteri via telepon malam itu juga.

“Mas, putra you ditangkap polisi dan dibawa pada saya. Ia mengaku suka mengisap ganja. Bagaimana? Apa you bisa mengurusnya sendiri atau biar saya saja? Kalau you tidak bisa memperbaikinya, terpaksa saya ambil tindakan,” kata Hoegeng mengultimatum sang menteri.     

Menurut Hoegeng, kebanyakan anak muda yang depresi terjerumus menggunakan mariyuana dan ganja sebagai pelarian. Selain itu, ada juga yang sekedar ikut-ikutan mode pergaulan bebas. “Banyak anak-anak orang kaya yang mengalami broken home mencoba melarikan diri dari kepahitan hidup dengan jalan menjadi pecandu ganja, heroin, dan narkotika,” kata Hoegeng dalam otobiografinya.

Artikel Asli