Air Tenang Menghanyutkan

kumparan Dipublikasikan 10.09, 13/08 • BriiStory
Photo by Unsplash/turnlip19
Photo by Unsplash/turnlip19

Kali ini, gw akan berkisah tentang #briikecil lagi. Kisah tentang pengalaman seram yang gw alami ketika masih kecil dulu, masih SD. 

Cerita kali ini berhubungan dengan air, cukup menyeramkan. Yuk simak. 

Ingat, jangan pernah baca sendirian, kadang “mereka” gak hanya sekadar hadir dalam cerita. 

#BriiStory 

*** 

#1 

Dari kecil gw hobi banget berenang, berenang di mana aja, entah itu laut, sungai, danau, waduk, dan lain sebagainya. Kata bapak, umur tiga tahun gw udah bisa berenang, udah ngambang. 

Makanya waktu sekolah dulu, paling senang kalau kelika pelajaran olah raga ada jadwal praktek berenang, gw jadi bisa mempertontonkan skill mengambang di permukaan air tanpa menggerakkan badan sedikit pun, rebahan diam dan tenang di atas permukaan air, hehe. 

*** 

#2 

Tapi sehobi-hobinya berenang, gw tetap punya keparnoan tersendiri terkait dengan air. Kalau sedang berenang, di mana aja, gw paling takut untuk membuka mata dan melihat pemandangan bawah air. 

Makanya dulu walaupun sudah menggunakan kaca mata renang, gw lebih banyak memejamkan mata ketika wajah menghadap ke dasar kolam, gak berani melihat, sekalipun itu di kolam yang airnya jernih dan dasar kolam bersih, tetap aja gw takut untuk melihat. 

Semua itu ada sebabnya, ada alasannya kenapa gw jadi sangat takut untuk melihat ke dasar kolam, atau danau, apa lagi laut. 

Ada sebabnya.. 

*** 

#3 

Kejadian ini terjadi ketika gw masih SD, kalo gak salah ketika masih kelas empat. 

Jadi, waktu kecil dulu, gak jauh di belakang rumah, terdapat danau yang cukup besar, kami penduduk kampung sekitar lebih banyak menyebutnya waduk. Waduk yang di salah satu sudutnya ada bendungan, bendungan ini mengatur volume air yang akan mengairi sedikit sawah yang berada di bawahnya. 

Sekitar 25 tahun yang lalu, waduk ini masih cukup bersih, masih banyak orang yang memancing atau menjala ikan. Keadaan lingkungan sekitarnya pun masih sangat sepi, rumah penduduk belum sebanyak dan sepadat seperti sekarang . Masih sangat bagus kalau untuk sekadar wisata hemat dan gratis, tinggal bawa tikar dan makanan, duduk di pinggirnya, menikmati pemandangan. 

Waduk ini salah satu taman bermain #briikecil dulu, walaupun orang tua selalu berpesan “Jangan main ke waduk yaaa, apa lagi berenang. Jangan ya Brii, bahaya, banyak setannya.” Tapi gw tetap badung dan sering nekat main ke sini, bahkan berenang. 

~Bahaya dan banyak setannya? Maksudnya apa Brii? 

Oh iya, biasalah, kan emang banyak cerita yang mengatakan kalau waduk atau danau atau telaga atau apalah namanya pasti ada “penunggu”nya, ada setannya, iya kan?. Sama juga dengan waduk ini, waktu gw kecil banyak cerita aneh dan seram yang beredar, banyak. 

Katanya, di waduk ini ada buaya putih jadi-jadian, yang kemunculannya selalu pada malam hari, mencari mangsa dengan memakan anak-anak kecil. 

Ada juga cerita yang bilang kalau ada setan berbentuk perempuan yang hobinya menarik anak kecil yang sedang berenang dari dalam air, menariknya terus sampai ke dasar waduk sampai akhirnya anak yang ditarik tenggelam dan meninggal dunia. 

*** 

#4 

Ada juga yang bilang kalau waduk ini dihuni oleh gendoruwo yang hitam tinggi besar, beberapa kali penampakannya muncul dan terlihat oleh penduduk pada malam hari, gendoruwo terlihat berdiri ditengah-tengah waduk, tapi hanya kelihatan dari pinggang ke atas, pinggang ke bawahnya tertutup air. 

Begitulah, masih banyak lagi cerita aneh dan seram yang beredar tentang waduk ini. 

Memang sih, beberapa kali ada kabar sedih tentang korban meninggal karena tenggelam, dan lebih banyaknya memang anak-anak, anak-anak yang sedang berenang lalu tenggelam. 

Gw juga pernah melihat langsung jenazah yang baru saja meninggal tenggelam, bukan hanya satu jenazah tapi tiga. Ayah, Ibu, dan anak tenggelam setelah perahu kecil yang mereka tumpangi untuk menuju kebun yang berada di seberang, ternyata bocor ketika perahu sudah berada di tengah-tengah waduk. Gw yang waktu itu sedang bermain sepeda langsung berhenti memperhatikan jenazah keluarga kecil itu terbaring di atas bebatuan di sisi waduk, setelah baru saja ditemukan tenggelam. Saat itulah pertama kalinya gw melihat langsung jenazah yang baru saja meninggal, bayangan wajah dan keadaan tubuhnya yang sudah pucat membekas lama di dalam kepala, gw cukup trauma waktu itu. 

Balik ke cerita-cerita seram yang beredar. 

Buaya putih? Dari kecil sampai detik ini gw sama sekali belum pernah melihatnya. 

Gedoruwo? Sama, gw juga belum pernah melihatnya. 

Setan perempuan berambut panjang yang suka menarik anak kecil dari dalam air ketika sedang berenang? Hmmm.. 

*** 

#5 

Sepulang sekolah, gw langsung menyiapkan alat pancing. Iya, gw bareng Ali dan Josep punya rencana untuk pergi memancing di waduk. Jarak waduk dari rumah sekitar 15 menit bersepeda, gak jauh emang. 

“Mau mincing di mana nak?” Tanya Ibu dari balik meja mesin jahitnya ketika melihat gw sibuk dengan alat pancing. 

“Mancing di sawah belakang Ma.” Jawab gw, berbohong. 

“Jangan main ke waduk ya, bahaya, banyak setannya.” Sekali lagi Ibu mengeluarkan kalimat itu, Waduk tempat yang berbahaya, banyak setannya. 

Tapi gak peduli, gw tetap akan berangkat mancing di waduk dengan Ali dan Josep, karena kami mendengar kabar kalau di situ sedang banyak ikan-ikan besar. 

Setelah semuanya siap, sekitar jam dua siang kami pun berangkat. Dengan menggunakan sepeda masing-masing kami menuju ke belakang kampung, tempat di mana waduk berada. 

Singkat cerita, kami sampai di tujuan. Sengaja mencari spot memancing yang sangat sepi, tepat di belakang kebun kosong yang dipenuhi semak belukar. Di atas rerumputan kami duduk mempersiapkan alat pancing, sebelumnya Ali dan Josep sudah mencari dan menyiapkan cacing sebagai umpan. 

Siang menjelang sore seperti biasanya, cuaca di musim kemarau yang panasnya menyengat, sinar matahari langsung seperti membakar kulit tanpa permisi, biasanya kami langsung hitam legam setelah kegiatan ini. 

Angin berhembus pelan, menggerakkan permukaan air waduk yang gak terlalu jernih menjadi gelombang-gelombang kecil hilir mudik gak tentu arah, kami duduk menikmati suasananya dengan bersenda gurau. 

Setengah jam berlalu, jangankan dapat ikan, pelampung pancing pun gak bergerak sama sekali. 

Satu jam berlalu, masih sama, nihil hasil.. 

Kami mulai gak sabar ketika hari sudah semakin sore, matahari sudah makin condong ke sisi barat cakrawala, lembayung senja mulai terlihat muncul malu-malu. 

“Ah siyalan, ternyata gak ada ikannya, pulang aja yuk aahh.” Ali sudah sampai di puncak kebosanan. 

“Iya yuk, pulang aja yuk.” Timpal Josep. 

*** 

#6 

Tapi gw malah muncul ide “cemerlang”. 

“Kita berenang aja dulu yuk, sebentar ajaaa.” Gw bilang gitu sambil cengengesan. 

“Sebentar lagi maghrib Brii, bahaya. Takut ah.” Begitu kata Ali, yang memang paling penakut di antara kami bertiga. 

“Sebentar ajaa, abis itu pulang.” Rayu gw yang sudah buka baju, menyisakan celana pendek. 

“Yuk ah, sebentar aja.” Josep setuju, dia langsung buka baju juga. 

“Sebentar aja ya,” Dengan terpaksa akhirnya Ali setuju. 

Beberapa detik kemudian lalu kami loncat ke air dan berenang dengan riang gembira. 

*** 

#7 

Awalnya, kami berenang gak sampai jauh ke tengah, hanya di pinggir dengan air hanya sebatas perut atau dada. Awalnya seperti itu, tapi lama kelamaan, kami seperti tertantang untuk terus berjalan ke tengah mencari batas sampai di mana kaki dapat menginjak dasar, sampai di mana kami sudah harus berenang untuk mengambang agar tidak tenggelam. Begitulah.. 

Sampai pada akhirnya, gw sudah mulai agak sombong dengan mempertontonkan kebisaan mengambang rebahan di atas permukaan air tanpa bergerak sedikit pun. 

“Briiiiiii, jangan terlalu ke tengah ah. Di sini aja.” 

Gw masih bisa mendengar teriakan Ali dan Josep yang mengingatkan agar jangan terus bergerak semakin ke tengah, tapi gw gak peduli, terus saja mengambang mengikuti kelombang. 

Sampai ketika ada sesuatu yang terjadi.. 

Kejadiannya cukup cepat, tapi sangat menyeramkan. 

*** 

#8 

Gw yang sedang asik mengambang, tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang menempel di pergelangan kaki kanan. Awalnya gw gak sadar benda apakah itu, tapi itu hanya beberapa detik, karena kemudian secara reflek gw langsung melihat ke arah kaki. 

Hanya satu atau dua detik, gw akhirnya melihat benda apakah itu sebenarnya. 

Ternyata ada tangan yang menggenggam pergelangan kaki, tangan putih pucat. Hanya tangan itu saja yang terlihat, karena sepertinya sang pemilik berada di bawah permukaan air. 

Satu atau dua detik kemudian tangan itu mulai menarik kaki gw ke bawah, menarik tubuh gw untuk masuk ke dalam air. Iya, seketika itu juga gw panik. 

Gw mulai tenggelam masuk ke dalam air. 

Dalam kepanikan gw meronta-ronta, mencoba melepaskan diri dari genggaman tangan itu. Saat itu gw masih belum melihat bentuk si pemilik tangan, disamping air waduk yang gak terlalu jernih, gw juga masih gak berani untuk membuka mata lebar-lebar di dalam air. 

Tapi itu hanya beberapa detik aja, sampai akhirnya tangan itu melepaskan genggamannya dari pergelangan kaki gw. Seketika itu pula gw langsung mencoba untuk berenang ke pinggir.. 

Tapi ternyata gak semudah itu.. 

Tiba-tiba tengan kiri ada yang memegang dengan erat, dan menarik gw kembali ke tengah, ke dasar waduk.  

Beberapa detik kemudian, ketika sudah berada di bawah permukaan air, gw nekat untuk membuka mata. Pada saat itulah gw akhirnya dapat melihat sang pemilik tangan yang sejak tadi terus coba menyeret ke dasar waduk. 

*** 

#9 

Seorang perempuan, rambut hitam panjang acak-acakan, bergelombang di dalam air, wajahnya pucat, matanya sedikit melotot dengan lingkar gelap di sekeliling. Sangat mengerikan melihat wajahnya di dalam air. Semakin mengerikan lagi ketika dia mulai tersenyum, dengan tangan kanan terus menggenggam tangan kiri gw dengan erat.  

Gw hanya diam, ketakutan, gak bisa bergerak, gak bisa meronta, terpana melihat pemandangan bawah air yang menyeramkan itu. 

Perempuan itu terus menarik gw ke dalam, lalu detik berikutnya dia memberi isyarat “Diam”, jari telunjuk tangan kirinya diletakkan didepan bibir pucatnya. 

Di akhir beberapa belas detik yang menakutkan itu, gw akhirnya bisa berdoa, dalam hati terbayang wajah Ibu, gw menyesal telah berbohong kepadanya tadi, ini akibatnya, itu yang terbersit di pikiran. 

Hanya beberapa belas detik saja kejadian itu, sampai akhirnya tiba-tiba gw merasa kalau ada yang menarik tangan kanan ke arah berlawanan. Tarik menarik terjadi walaupun hanya beberapa detik, sampai akhirnya tangan kiri dapat lepas dari genggaman perempuan menyeramkan itu. 

Ternyata, tangan kanan gw ditarik oleh seorang bapak, beliau menarik dan menyeret gw ke pinggir waduk, menyelamatkan nyawa, gw gak jadi mati. 

*** 

#10 

“Jangan berenang di sini lagi ya, bahaya. Kamu tadi hampir mati tenggelam. Sudah sana pulang, jangan pernah berenang di sini lagi.” 

Begitu kata bapak itu, memarahi kami bertiga di pinggir waduk. 

Jadi, ketika Ali dan Josep melihat gw mulai tenggelam tadi, mereka langsung lari ke pinggir, untuk mencari pertolongan. Untungnya gak jauh dari situ ada seorang bapak yang sedang menggarap kebun, mereka langsung meminta tolong. Bapak itu lantas berlari menuju tempat di mana gw tenggelam. Untungnya lagi, Ali bilang, mereka masih melihat tangan gw menggapai-gapai di permukaan, makanya bapak itu langsung berenang menuju di mana ada tangan gw terlihat, lalu menarik gw ke pinggir, selamatlah gw. 

Sungguh kejadian yang amat sangat mengerikan. Sejak saat itu, gw gak pernah lagi berenang di waduk itu, untuk memancing pun gw gak mau, trauma. 

*** 

#11 

Kisah berikutnya, gw akan cerita tentang satu kolam renang yang menjadi satu-satunya kolam renang umum yang ada di kota masa kecil gw dulu, Cilegon. 

Sekitar tahun 90-an, di Cilegon memang masih cuma punya satu kolam renang, gw gak tau pasti kalo sekarang, mungkin udah lebih dari satu. Kolam renang ini letaknya persis di pinggir lapangan golf di pinggir kota. 

Tapi walaupun menjadi kolam renang satu-satunya, ternyata ramainya hanya pada akhir pekan, hari lainnya tergolong sepi, sepi banget malah. 

Kolam renang ini memiliki lahan yang luas, lahan yang mengikuti kontur tanah yang menanjak. Waktu gw kecil dulu, sudah ada tiga kolam di dalam wilayahnya, satu kolam besar di bagian atas, satu kolam sedang dan satu kolam kecil di bagian bawah.  

Nah, menurut sejarahnya, kolam pertama yang dibuat adalah dua kolam yang ada di bawah, kolam besar di atas baru dibangun belakangan. 

Dua kolam renang tua inilah yang akan gw angkat ceritanya.. 

*** 

#12 

Dua kolam renang, satu agak besar dan satu kecil, letaknya bersebelahan, desainnya masih sangat jadul, dua-duanya membentuk seperti angka delapan. 

Kolam yang lebih besar memiliki tiga tingkat kedalaman, satu meter, dua meter, dan tiga meter. Sedangkan kolam yang kecil hanya setengah meter, memang diperuntukkan bagi anak-anak kecil. 

Di sekitaran kolam ada dua bangunan berbentuk bundar, di ujung sebelah kiri satu, di ujung sebelah kanan ada satu lagi. Bangunan bundar pertama diperuntukkan sebagai kantin, tempat untuk pengunjung jajan dan makan. Bangunan bundar yang kedua ukurannya lebih besar dari yang pertama, letaknya di ujung sebelah kanan, di bawah pohon-pohon yang besar dan rindang, bangunan ini sebagai toilet dan ruang ganti. 

Hmmm, iya, jaman gw kecil dulu, kolam renang ini memang sungguh sangat menyeramkan, auranya aneh, beberapa kali gw melihat kejanggalan-kejanggalan. Tapi gak bisa dipungkiri juga, lingkungannya sangat bersih dan terawat, namun walaupun begitu kesan jadul dan menyeramkan tetap muncul, secara langsung maupun gak langsung. 

Tapi gw tetap rutin mengunjungi tempat ini, karena memang gak ada pilihan lain.. 

*** 

#13 

Pada suatu hari bukan akhir pekan, bersama Ali dn Josep gw berenang di kolam renang itu. 

Sore normal seperti biasa, kami berenang pada sore hari setelah pulang sekolah, biasanya menjelang maghrib kami akan selesai dan pulang. 

Karena hari biasa, kolam renang sepi, hanya beberapa orang yang berada di dalam lingkungannya. 

Dengan riang gembira kami bermain air di kolam bawah yang agak besar. Gw masih ingat, hanya ada beberapa orang yang berada di dalam kolam, mungkin hanya enam orang termasuk kami. 

Seperti yang sudah gw bilang tadi, kolam besar yang agak besar ini memiliki tiga tingkat kedalaman, satu, dua, dan tiga meter. Kami yang memang masih kecil waktu itu, lebih sering bermain di kedalaman satu meter saja, hanya sesekali berenang ke kedalaman dua atau tiga meter. 

Gw juga gak terlalu suka kalau berenang di kedalaman dua meter, apa lagi tiga meter, dasar kolam menjadi semakin gelap, dasarnya menjadi kelam, seram melihatnya. 

*** 

#14 

Gak terasa, hari sudah semakin gelap, dari cahaya langit yang mulai menghitam kelihatan kalau hari sudah menjelang senja, menuju waktu maghrib. 

“Brii udah yuk, udah mau maghrib nih.” 

Ali teriak dari pinggir kolam ketika gw masih berada di dalam kolam. 

“Ya udah, duluan aja ganti baju sana, aku sebentar lagi.” Jawab gw. 

Benar aja, mereka berdua lalu berjalan menuju toilet untuk mandi dan berganti pakaian. Sementara gw masih asik bermain air. 

Di kolam sebesar itu hanya tinggal gw sendirian, mengambang di tengah-tengah air kedalaman dua meter. Mengambang dengan posisi menghadap ke atas, menengadah, posisi kesukaan gw. 

Sekali lagi, gw benar-benar sendirian di dalam kolam. 

Ketika sedang asik-asiknya mengambang santai, gw jadi gak sadar kalau tubuh ternyata bergerak bergeser menuju ke air yang paling dalam, tiga meter. 

Sampai akhirnya gw sudah berada benar-benar di kedalaman tiga meter, ada kejadian janggal seram yang akhirnya membuat gw sadar kalau sudah berada di bagian yang paling dalam. 

Dalam posisi menengadah menghadap ke atas, ketika sedang tenang menikmati suasana, tiba-tiba ada sesuatu yang membuat kaget. 

Celana renang yang gw pakai, seperti ada yang menarik-narik. Yang membuat terkejut bukan kepalang, gw merasa kalau celana yang ditarik adalah yang di bagian pantat, bagian yang berada di dalam air. 

Ada sesuatu yang menarik celana gw dari dalam air, dari dalam kolam.. 

Reflek gw langsung membalikkan badan untuk melihat siapa atau apa yang menarik celana gw, karena sangat yakin memang ada yang menarik celana, gw yakin banget. 

Menenggelamkan kepala ke dalam air, lalu membuka mata, mancari tahu ada apakah di bawah permukaan air. 

*** 

#15 

Di kedalaman tiga meter, dasar kolam sudah kelihatan gelap, ditambah dengan hari sudah menjelang malam, semakin sulit untuk melihat ke bawah permukaan air, hanya biru gelap yang kelihatan. 

Mata gw terus terbuka di dalam air, menyisir setiap sudut kolam untuk mencari ada apakah gerangan. 

Sampai akhirnya gw terdiam, ketika pandangan menangkap sesuatu yang kelihatan di dasar kolam.. 

Memicingkan mata, coba menembus gelapnya pekat air, memastikan apakah sesuatu yang sedang berada di dasar kolam. 

Detik berikutnya gw terkejut, kaget, ketika sadar kalau yang sedang gw perhatikan ternyata adalah sosok anak kecil.. 

Sosok anak perempuan yang berumur sekitar empat tahun, rambut panjangnya di kepang dua, mengenakan pakaian terusan rok sebatas lutut, berwarna putih. Dia berdiri di dasar kolam dengan wajahnya menengadah ke atas, melihat ke arah gw yang sedang berenang di permukaan. Sungguh pemandangan yang mengerikan. 

Beberapa detik diam terpaku terperangah, sampai akhirnya pada detik berikutnya anak itu tersenyum ke arah gw. Sontak gw langsung seperti tersadar, lalu langsung mengeluarkan kepala dari dalam air. Saat itu pula gw berenang cepat-cepat ke pinggir, ketakutan. 

“Habis ngapain Brii? Kok ngos-ngosan?.” Tanya Josep dan Ali saat kami berpapasan. Gak manjawab apa-apa, gw langsung berjalan cepat menuju toilet untuk mandi dan ganti pakaian. 

*** 

#16 

Seperti yang gw ceritakan di awal tadi, bangunan toilet tempat mandi dan berganti pakaian ini berbentuk bundar, pintunya berada di tengah-tengah, toilet pria di sebelah kiri, tolilet perempuan di sebelah kanan. 

Karena memang udah gak ada orang lagi, jadi hanya tinggal gw yang berada dalam bangunan tua itu, gak ada orang lagi, gw yakin itu. 

Gw langsung mandi di bawah pancuran ketika sudah berada di dalam. 

Posisinya, barisan keran pancuran berada di depan bilik-bilik tempat berganti baju, jadi ketika sedang mandi di bawah pancuran air, tepat di belakang gw adalah bilik-bilik itu, yang waktu itu sudah dalam keadaan kosong. 

Sendiran di dalam bangunan tua tentu saja membuat pikiran gw menjadi ke mana-mana, jadi pingin buru-buru selesai, suasana semakin gak enak, seram. 

Gak lama-lama, gw langsung ambil handuk untuk bilas lalu berganti pakaian. 

Ketika sedang berganti pakaian inilah ada sesuatu terjadi lagi. 

Gw mendengar suara tawa cekikikan, suara tawa anak kecil, sangat jelas terdengar. Saat itu pula, karena menyadari kalau sedang sendirian, gw jadi ketakutan dan berniat lari ke luar. 

Tapi gak segampang itu, karena tiba-tiba dari sudut mata gw melihat sesuatu. 

Di pojok ruangan, di bawah pancuran air paling ujung, ada anak kecil perempuan yang fisik dan penampilannya sama persis dengan anak kecil yang gw lihat ada di dasar kolam tadi. Gw yakin kalau ini anak yang sama. 

Dia memandang dengan sorot mata tajam, lalu tersenyum. 

Gw yang merinding ketakutan, perlahan berjalan mundur mendekat ke pintu keluar. 

Kami terus bertatapan, sampai gw benar-benar sudah melintas garis pintu. 

Kemudian gw berlari cepat ke tempat di mana Ali dan Josep berada. 

*** 

#17 

Sekian cerita kali ini,  

Tetap sehat supaya bisa terus merinding bareng. 

Salam 

~Brii~

Artikel Asli