Ahli: Retakan di Pesawat Boeing Milik Garuda dan Sriwijaya Tak Wajar

kumparan Dipublikasikan 02.23, 17/10/2019 • Feby Dwi Sutianto
'Garuda Indonesia Vintage Flight Experience' menggunakan pesawat Boeing tipe 737-800NG. Foto: Dok. Garuda Indonesia.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menemukancrack atau retakan pada pesawat Boeing 737-800 NG milik maskapai Garuda Indonesia (1 unit) dan Sriwijaya Air (2 unit). Retakan ditemukan pada pesawat Boeing 737-800 NG yang memiliki umur akumulasi lebih dari 30.000 Flight Cycle Number (FCN). FCN merupakan akumulasi dari pesawattake off danlanding, di mana setiap pesawat terbang dan mendarat dihitung 1 kali FCN.

Selanjutnya pesawat yang mengalami crack itu harus di-grounded atau dilarang terbang sementara untuk dilakukan perawatan. Menurut ahli pesawat, crack di pesawat Boeing 737-800 NG yang berusia 30.000 FCN merupakan suatu hal yang tak wajar.

Lantas apa itu crack?

Tenaga Ahli Pengembangan Pesawat Terbang dan Head of Design Organization PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI, Andi Alisjahbana menjelaskan, crack adalah retakan pada bahan struktur pesawat. Retakan biasanya terjadi pada aluminium yang merupakan bahan dasar sebagian besar struktur pesawat.

Pemicu crack, lanjut Andi, karena pembebanan pada struktur atau bahan tersebut secara berulang-ulang sehingga material alumunium mengalami kelelahan ataufatigue.

"Biasanya pembebanan ini dihitung dari berapa kali pesawat diterbangkan, atau disebut Flight Cycle Number (FCN). Jadi setiap kali pesawat take off danlanding, terlepas dari berapa jauhnya maka dihitung sebagai 1 Flight Cycle," kata Andi kepadakumparan, Rabu (16/10).

Tenaga Ahli Pengembangan Pesawat Terbang dan Head of Design Organization PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI, Andi Alisjahbana (tengah). Foto: Dok. Kemenperin

Menurut Andi, semua metal bisa mengalamifatigue yang kemudian menghasilkan crack bilamana dilakukan pembebanan yang berulang ulang-ulang.

Crack sendiri memiliki beberapa kategori. Ia menekankan crack yang fatal bila terjadi pada sebuah struktur pesawat.

"Yang terpenting ialah berapa kekuatan yang tersisa dari material/struktur tersebut sebelum totalcrack tersebut merambat dan membuat bahan/struktur tersebut patah/putus," jelasnya.

Pesawat Boeing 737-800 NG Sriwijaya Air Foto: Shutter Stock

Andi menyebut kasus crack di pesawat Boeing 737-800 NG sebetulnya pertama kali ditemukan di Amerika Serikat (AS) pada pesawat modifikasi di komponen yang disebut "Pickle Fork". Pesawat ini sudah mengalami atau berusia 32.600 FCN.

Atas temuan itu, kemudian Otoritas Penerbangan Sipil AS (FAA) merekomendasikan dilakukan pengecekan terhadap pesawat Boeing 738-800 NG di seluruh dunia yang berusia lebih dari 30.000 FCN. Hasilnya, ada 3 unit pesawat sejenis mengalami crack di Indonesia.

Untuk kasus pesawat Garuda Indonesia dan Sriwijaya, Boeing sebetulnya telah merancang agar tidak terjadicrack sampai usia 90.000 FCN. Sementara crack di pesawat Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air terjadi pada usia 30.000-an FCN atau baru sepertiga dari standar usia yang ditetapkan pabrikan. Menurut Andi, hal itu dipandang cukup aneh.

“Yang menjadi masalah ialah Boeing merancang agar seharusnya tidak terjadicrack sampai 90,000 FC,” sebutnya.

Penanganan Dugaan Crack di Pesawat

Pesawat yang mengalami crack harus menjalani perawatan agar bisa terbang lagi secara aman. Penanganan pertama ialah inspeksi apakah terjadicrack. Andri menyebut penanganan ini sebagaiNon Destructive Inspection (NDI). Kedua, bilamana terjadi crack maka dianalisa berapa besarnya dan berapa sisa kekuatan pada yang tidak crack. Langkah berikutnya adalah menentukan berapa FCN yang masih bisa diperbolehkan terbang sebelum bagian tersebut perlu diganti.

Hanggar pesawat GMF Aeroasia. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Bila sudah tidak mampu menahan beban makapartatau bagian yang mengalami retak tersebut harus diganti atau ditambal sehingga beban dapat kembali diterima oleh bagian tersebut.

Lanjut Andi, ada prosedur manual yang dibuat oleh pabrikan untuk perbaikan pesawat yang mengalami keretakan.

"Dalam Structure Repair Manual (SRM) memperlihatkan bagaimana melakukan reparasicrack dan apa bagaimana menentukan safe atau tidak," ungkapnya.

Respons Maskapai

PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) (GIAA) memberikan penjelasan terkait temuancrack pada 1 pesawat Boeing 737-800 NG miliknya. VP Corporate Secretary Garuda Indonesia, M Ikhsan Rosan menjelaskan, armada tersebut sudah di-grounded sejak 5 Oktober 2019.

Prosesgrounded ditempuh setelah Garuda Indonesia melakukan pengecekan mendalam terhadap 3 unit pesawat Boeing 737-800 NG yang memiliki umur akumulasi lebih dari 30.000 FCN.

"Dari 3 itu, ketemu 1crack (1 pesawat yang terdapat retakan). Pesawat itu langsung di-grounded per 5 Oktober," kata Ikhsan kepada kumparan, Selasa (15/10).

Senior Manager PR Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan

Selanjutnya, Garuda Indonesia melaporkan temuan tersebut ke Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kemenhub. Selain itu, Garuda Indonesia melakukan kerja sama dengan Boeing dalam proses penanganancrack selama masa grounded.

"Selamagrounded, kita lakukan perbaikan dan koordinasi sama Boeing," ungkapnya.

Garuda Indonesia juga mempertimbangkan untuk minta ganti rugi ke Boeing sebab mereka harus menghentikan operasional pesawat tersebut. Apalagi menurut ahli, temuancrack di pesawat Boeing 737-800 NG dengan usia 30.000 FCN dinilai janggal.

"Itu sedang kami pertimbangkan (minta kompensasi)," kata Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra (Ari Askhara) di Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (16/10).

Meski begitu, Ari mengatakan, kejadian ini tak begitu berdampak besar. Selain karena hanya satu pesawat yang retak, perusahaan juga sudah menghentikan operasional sementara (grounded) sejak 5 Oktober.

"Yangcracking sudah kami. Itu justru menunjukkan Garuda maintenance-nya bagus karena bisa menemukan itu. Dan itu kami yakin sesuai. Jadi tenang saja," jelas dia.

Artikel Asli