Ahli Kesehatan Waspadai Penularan Covid-19 dari Makanan Beku Kemasan

Jawapos Diupdate 07.24, 13/08 • Dipublikasikan 13.16, 13/08 • Banu Adikara
Ahli Kesehatan Waspadai Penularan Covid-19 dari Makanan Beku Kemasan

JawaPos.com – Selandia Baru sudah menyatakan bebas kasus Covid-19 selama 100 hari. Tapi pada 11 Agustus, negara ini menemukan 4 kasus baru. Para ahli menduga, penularan terjadi dari cemaran pada kemasan makanan beku.

Para ahli kesehatan di negara itu menganggap kasus baru mereka ditulari dari kemasan makanan beku seperti dilansir dari Science Times, Kamis (13/8). Saat ini, pejabat kesehatan negara sedang menguji permukaan makanan beku di toko tempat salah satu kasus baru ditemukan.

Akibatnya, 1,7 juta orang Auckland sekarang kembali di-lockdown. Petugas kesehatan bingung dengan munculnya virus karena tidak ada penularan Covid-19 secara lokal dalam lebih dari tiga bulan.

Direktur Jenderal Kesehatan Ashley Bloomfield mengatakan bahwa mereka bekerja keras untuk menyatukan potongan teka-teki tentang bagaimana 4 orang itu terinfeksi. Para ahli melakukan pengujian permukaan makanan beku di Cold Store, toko penyimpanan makana berpendingin milik Americold Realty Trust yang berbasis di Atlanta, Georgia.

Masih belum jelas apakah pria itu tertular di sana atau bagaimana virus itu masuk ke gudang pendingin. “Virus diketahui dapat bertahan hidup pada suhu dingin dan berada di dalam lingkungan berpendingin untuk beberapa waktu,” kata Bloomfield.

Tiongkok pun sebelumnya pernah salah sangka melaporkan kasus baru virus Korona, yang diduga berasal dari salmon impor, dan memicu kepanikan yang memengaruhi industri ikan. Ternyata ikan tersebut tidak mengandung virus.

Namun, kasus baru di Selandia Baru tampaknya mengarah pada kemasan makanan. Meskipun belum ada kasus yang terbukti, tapi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan kemungkinan itu bisa terjadi.

Kini polisi telah memasang penghalang jalan untuk mencegah warga meninggalkan kota, dan supermarket mulai menjatah penjualan barang mereka. Akibat penguncian, antrean pelacakan terlihat untuk dilakukan pengujian tes swab pada 200 orang yang kontak dengan 4 orang tersebut.

Artikel Asli