Agar Atlet Tidak Kelebihan Berat Badan Pasca Jeda Kompetisi

Pandit Football Dipublikasikan 06.23, 01/04 • Wimpi Pardede
Agar Atlet Tidak Kelebihan Berat Badan Pasca Jeda Kompetisi

Kompetisi sepakbola dunia telah dihentikan akibat dampak dari persebaran virus covid-19. Seluruh komponen dunia sepak bola harus berhenti sejenak dan fokus untuk menghambat persebaran virus tersebut. Sama seperti masyarakat lainnya, mereka harus berdiam diri di rumah dan membatasi sosialisasi dengan orang-orang sekitar.

Bagi pemain, kondisi ini tentu akan memunculkan banyak tantangan. Salah satunya adalah mengatur ulang pola diet. Dalam kalender kompetisi normal, sesuai data dari UEFA Elite Club Injury Study Report 2016/2017, dikatakan bahwa rata-rata tim Eropa berlatih sebanyak 21 kali dan bertanding sebanyak 5 kali dalam kurun waktu 1 bulan. Peter Krawietz mepaparkan dalam liverpoolfc.com, setiap satu sesi latihan Liverpool dilakukan dalam durasi 60-90 menit.

Pemain mungkin bisa melakukan latihan yang biasa meraka lakukan di rumah masing-masing. Namun tentu saja, sebaik-baiknya pemain melakukan latihan mandiri di rumah, tentu tidak akan semaksimal saat berlatih bersama klub dalam kalender kompetisi. Jika pemain tidak pintar-pintar mengatur ulang pola diet bisa jadi pemain akan mengalami kelebihan berat badan ketika nanti kompetisi kembali digulirkan.

VIDEO: Update Informasi Covid-19 dan Sepakbola

Dengan turunnya intensitas aktivitas fisik yang dikerjakan oleh pemain, tentu kalori yang dibakar akan mengalami penurunan pula. Untuk mengetahui rata-rata kalori yang dibakar dalam latihan maupun pertandingan, kita harus mengetahui terlebih dahulu rata-rata berat badan pemain eropa.

Menurut penelitian Laura Sutton (dkk, 2009) rata-rata penjaga gawang di Liga Primer Inggris memiliki berat badan badannya 91.2 kg. Sementara itu, pemain bertahan memiliki berat badan rata-rata 86.0 kg, pemain tengah 78.0 kg, dan penyerang memiliki rata-rata berat badan 82.7 Kg. Jika mengacu dari data treated.com untuk Liga Primer Inggris 2018/2019 dapat dilihat bahwa rerata berat badan pemain Liga Premier Inggris sekitar 76 Kg.

Dari artikel treated.com dijelaskan bahwa satu pemain Newcastle United rata-rata mampu membakar kalori sebanyak 32.323 kalori selama menjalani pertandingan musim 2018/2019. Hal ini berarti, setiap pertandingannya rata-rata pemain Newcastle United membakar sekitar 850 kalori. Bagaimana dalam fase latihan? Dalam fase latihan, sesuai dengan data www.health.harvard.edu latihan sepak bola rata-rata membakar kalori sebanyak 210-311 kalori untuk setiap 30 menit latihan tergantung berat badan orang tersebut.

Kelebihan berat badan tentu akan mempengaruhi Indeks Massa Tubuh (BMI). Peningkatan indeks massa tubuh tentu akan berdampak pada performa pemain. Menurut penelitian Dr. Mahesh Singh Dhapola dan Dr. Bharat Verma (2017) dikatakan bahwa ada hubungan terbalik antara indeks massa tubuh dengan kelincahan. Semakin tinggi indeks massa tubuh seseorang akan mengakibatkan penurunan kemampuan menggiring bola dan kelincahan.

Robert Podstawski (dkk, 2013) juga melakukan penelitian tentang dampak kenaikan indeks massa tubuh terhadap performa fisik. Dalam penelitian kekuatan-daya tahan menggunakan metode burpee test selama 3 menit, Podstawski menemukan bahwa kenaikan 1% saja pada parameter indeks massa tubuh akan menurunkan kemampuan melakukan burpee tes sebesar 0.97%.

Lalu apa yang harus dilakukan pemain untuk terus menjaga kondisi fisiknya saat jeda kompetisi seperti ini?

Dalam penelitian Melinda M Manore (2015) dijelaskan ada beberapa langkah yang bisa pemain lakukan untuk menjaga berat badan saat jeda kompetisi.

Pertama adalah dengan meningkatkan asupan protein. Meningkatkan asupan protein dalam keadaan jeda kompetisi terbukti efektif untuk menjaga tubuh tetap ramping. Normalnya, atlet membutuhkan asupan protein yang lebih tinggi dibanding orang biasa yaitu sekitar 1.4-1.7 g/protein/kg berat badan dibanding 0.8 g/protein/kg berat badan yang dibutuhkan orang biasa. Dalam penelitiannya, Melinda menambahkan asupan protein bagi atlet menjadi 2.3 g/protein/kg berat badan dan terbukti mampu menjaga jaringan tubuh tetap ramping dan menghindari penumpukan lemak pada jaringan. Tak hanya itu, konsumsi protein dalam jumlah tinggi juga dapat memberikan sensasi kenyang yang lebih lama sehingga atlet tidak akan mudah lapar.

Cara kedua adalah dengan menerapkan salah salah satu metode diet yaitu  “Low-Energy Dense Diet Plan” atau Low-ED. Low-ED adalah satu konsep diet yang mengkonsumsi jenis makanan rendah kalori seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian, atau daging rendah lemak. Dengan diet ini, atlet mendapatkan kebebasan untuk mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang banyak dan memberikan sensasi kenyang namun di sisi lain rendahnya kalori dari makanan yang dikonsumsi tidak akan membuat atlet mengalami peningkatan berat badan meskipun intensitas latihan yang mereka jalani cenderung menurun.

Tetap sehat dan tetap semangat.

Sumber

(data jumlah latihan dalam satu bulan pada tim eropa)

(Rerata berat badan dan kalori yang dibakar pemain dalam Liga Inggris)

(Hubungan BMI dengan kelincahan)

(Hubungan BMI dengan test burpee selama 3 menit)

(Weight Management for Athletes and Active Individuals: A Brief Review)

 

Penulis juga merupakan admin akun instagram 

Artikel Asli