Ada Sekolah yang Gelar Belajar Tatap Muka, Ganjar: Kalau Belum Izin, Saya Tutup

Kompas.com Dipublikasikan 08.41, 15/08 • Kontributor Semarang, Riska Farasonalia
KOMPAS.com/RISKA FARASONALIA
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat ditemui di kantornya, Kamis (13/8/2020).

SEMARANG, KOMPAS.com - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendapatkan laporan ada sekolah di salah satu kabupaten yang menggelar kegiatan belajar mengajar tatap muka secara diam-diam.

Ganjar melarang sekolah menggelar belajar tatap muka secara diam-diam. Larangan itu dikeluarkan untuk mencegah penyebaran Covid-19 di sekolah.

"Ada yang lapor satu kabupaten 'Pak tempat kami sekolah tatap muka diam-diam. Ora entuk endi sekolahane? (Tidak boleh, mana sekolahnya?) Langsung sekarang tak suruh cek, enggak boleh," kata Ganjar di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jumat (14/8/2020).

Ganjar menegaskan, sekolah di Jawa Tengah yang berniat menggelar belajar tatap muka harus mengantongi izin dari pemerintah.

Sehingga, pemerintah daerah bisa memastikan sekolah itu siap menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Baca juga: 2 Daerah di Surabaya Raya Jadi Zona Oranye, Pakar: Ini Kemajuan bagi Jatim

"Harus izin dulu, karena kalau izin nanti kita akan supervisi, kalau izin pasti dibolehkan, tapi kita supervisi," kata Ganjar.

Ganjar mengatakan, pemerintah daerah akan memastikan fasilitas penunjang seperti tempat cuci tangan dan jumlah siswa dalam satu kelas.

"Pasti terkontrol enggak, fasilitasnya ada enggak, terus sekelas berapa orang, managable atau enggak, agar kita punya pola, karena kalau tidak pasti repot," kata dia.

Terancam ditutup

Politikus PDI-Perjuangan itu memperingatkan, sekolah yang nekat menggelar belajar tatap muka diam-diam akan ditutup.

"Kalau ada yang buka sekolah harus izin ke bupati/wali kotanya karena ada kewenangan di sana. Kalau belum izin ya tak tutup nanti," ujarnya.

 

Penerapan belajar tatap muka harus diiringi dengan pengawasan penerapan protokol kesehatan secara ketat. Jangan sampai, klaster penularan Covid-19 muncul di sekolah.

Ganjar pun menceritakan pengalamannya saat bersepeda beberapa waktu lalu. Ia mampir di salah satu sekolah dasar (SD). 

Saat itu, Ganjar melihat siswa SD itu berkumpul. Ia pun bertanya kepada guru di sekolah tersebut.

Guru tersebut menjelaskan, para siswa itu sedang mengumpulkan tugas yang diberikan.

"Mereka setiap senin mengumpulkan tugas, saat itu mereka mengambil tugas untuk satu minggu berikutnya. Lah itu kalau ketemu kayak reuni, piting-pitingan (rangkul-rangkulan) itu yang bahaya," kata Ganjar.

Baca juga: Gerakan Sumbang Ponsel Bekas untuk Belajar Online, Siswi: Alhamdulillah Enggak Pinjam Lagi…

Ganjar khawatir, aktivitas sekolah itu bisa menimbulkan klaster penularan baru.

"Ya mudah-mudahan mereka sehat. Kalau ini kena ini berputar pada komunitasnya pasti jadi klaster baru," jelas Ganjar.

Karena itu, Ganjar meminta dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten dan kota di Jawa Tengah untuk mengecek sekolah di wilayah masing-masing.

"Semua yang sudah siap ngacung (tunjuk tangan) terus dilaporkan. Maka kita akan tunjuk. Ini mungkin mengimprovisasi sendiri-sendiri gitu lho. Maka kalau di wilayah kami pasti nanti kita turunkan dari kantor cabang dinas kita. Ayo dicek semua kalau enggak ya tutup," jelas Ganjar.

Penulis: Kontributor Semarang, Riska FarasonaliaEditor: Dheri Agriesta

Artikel Asli