Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Mengapa Kamu Lebih Benci Si Pelakor Daripada Suami yang Berselingkuh?

Mengapa Kamu Lebih Benci Si Pelakor Daripada Suami yang Berselingkuh?

Mengetahui suami berselingkuh mungkin menjadi mimpi paling buruk di dunia nyata yang dialami oleh seorang istri. Rasa sedih, sakit hati, nggak percaya, dan masih banyak perasaan lainnya bercampur aduk menjadi satu.

Namun, sadarkah kamu saat istri mengetahui perselingkuhan suaminya, yang lebih sering menjadi sasaran utama kebencian adalah si pelakor atau 'perebut laki orang' alias si selingkuhan?

Jika perselingkuhan ini terjadi padamu atau terjadi pada orang terdekatmu, kamu mungkin lebih terobsesi untuk memastikan si pelakor mendapatkan hukuman yang pantas. Kamu mungkin menyumpahi dia, merencanakan balas dendam, berfantasi mempermalukannya di depan umum, atau hal-hal buruk lainnya demi melampiaskan kemarahanmu.

Padahal suami sadar saat berselingkuh dan lebih patut disalahkan

Hal ini dibuktikan dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada awal 1900-an. Para peneliti menyebutnya sebagai "Efek Coolidge", yaitu efek yang menunjukkan bahwa laki-laki membutuhkan variasi seksual dalam pasangan.

Menurut pakar hubungan Charles J. Orlando, laki-laki yang berselingkuh sering mengaku tahu bahwa mereka menyakiti istri atau orang yang mereka cintai. Mereka juga paham betul risiko kehilangan keluarga, tapi karena merasa kebutuhan diri sendiri merasa nggak terpenuhi, mereka lebih memilih berbohong kepada istri atau kepada selingkuhannya.

Begitu ketahuan, suami kembali berbohong dan meyakinkan istrinya kalau dia hanya korban yang nggak bersalah dan khilaf saat melakukannya. Cara yang licik untuk menyelamatkan diri, bukan?

Selain pembelaan dari suami, berikut ini adalah beberapa alasan yang membuat istri lebih menyalahkan si pelakor saat terjadi perselingkuhan.

1. Menganggap si pelakor yang merayu suami

Kebanyakan perempuan mungkin tahu kalau pria sulit menolak untuk urusan seks, tapi kalau nggak ada yang merayu dia nggak akan mungkin berselingkuh.

Jadi, kamu percaya si pelakor ini yang menggoda suami sehingga terjrselingkuhan. Istilahnya yang sering disebut, “Ibarat kucing kalau dikasih ikan asin pasti dimakan”. Namun hal ini belum tentu sepenuhnya benar, karena bisa saja suami yang melakukanfirst move dan bukan sebaliknya.

2. Membandingkan diri dengan si pelakor

Saat mengetahui suami berselingkuh, kamu mulai membandingkan diri dengan selingkuhannya supaya membuat dirimu merasa lebih baik. “Aku lebih cantik”, “Aku lebih pintar”, “Levelku lebih tinggi”, dan sebagainya.

Kamu merasa penting untuk melihatnya sebagai monster berhati dingin yang ingin menghancurkan hidup orang lain saat membandingkan dengan diri sendiri.

3. Terlalu sulit menerima kenyataan suami berselingkuh

Membenci dan mempermalukan perempuan lain jauh lebih mudah dilakukan, daripada mengakui bahwa suami yang kamu cintai dan hormati telah mendua darimu.

Kamu nggak bisa menerima kenyataan kalau suami berselingkuh dan memilih untuk menyakitimu. Apalagi jika dia nggak merasa bersalah dan masih bisa hidup baik-baik saja sehingga ada orang lain harus kamu salahkan.

4. Percaya kalau suami nggak akan selingkuh dengan perempuan lain kalau bukan si pelakor

Ini sebenarnya kelanjutan dari poin pertama. Kamu percaya ini semua kesalahan si pelakor dan kalau bukan dia yang menggodanya, maka suami nggak akan selingkuh.

Jadi, kamu percaya kalau si selingkuhan ini nggak ada, suami nggak akan pernah berselingkuh dengan perempuan manapun. Padahal, kebenarannya belum tentu seperti itu.

5. Menyalahi pelakor karena jatuh cinta dengan laki-laki beristri

Kamu percaya dengan nilai dan integritas pribadi sehingga merasa yakin kalau kamu nggak akan pernah jatuh cinta dengan pria beristri dan menjadi pelakor.

Jadi, si pelakor yang sesuai namanya—perebut laki orang— dan bisa jatuh cinta dengan laki-laki yang sudah menikah (apakah dia tahu dia sudah menikah atau tidak) adalah makhluk jahat, yang hanya ingin menghancurkan keluarga orang.

6. Tak ingin menghadapi kekurangan diri sendiri

Mungkin saja kamu diselingkuhi karena kamu memilih pasangan yang salah, yang sebenarnya kamu sudah melihat red flag di awal hubungan, tapi mengabaikannya. Mungkin juga kamu selama ini kurang menjalin komunikasi dengan suami sehingga dia mencari orang lain yang bisa melakukannya.

Apa pun itu, kamu sulit untuk menghadapi kekurangan diri sendiri dan akhirnya jadi lebih menyalahkan si pelakor padahal kesalahan juga ada di dirimu sendiri dan sang suami.

7. Percaya begitu pelakor pergi, kamu dan suami akan kembali hidup bahagia

Ini memang bisa terjadi jika suami menyadari kesalahannya dan ingin kembali padamu untuk memperbaiki kepercayaanmu padanya yang sudah rusak. Jika tidak, kamu dan suami nggak akan kembali hidup bahagia.

Ini sebenarnya adalah bentuk penyangkalan yang umum, karena kamu belum siap secara emosional untuk melepaskan suami yang selingkuh atau anggapan bahwa pernikahan aman dan bahagia.

8. Merasa lebih aman untuk melampiaskan amarah dan menyalahkan pelakor

Jika suami suka mengontrol atau melakukan kekerasan, kamu akan takut mengkonfrontasinya dan merasa lebih aman jika harus melampiaskan kemarahan kepada pelakor.

Kamu berpikir, dia yang bertanggung jawab atas tindakannya, sementara suami nggak bertanggung jawab atas perilakunya. Padahal mungkin cerita sebenarnya nggak seperti itu.

Jadi, begitu kamu mengetahui suami berselingkuh, yang pertama kali harus kamu lakukan adalah mengontrol perasaanmu sendiri dan bicara dari hati ke hati dengan suami dan mencari tahu alasannya berselingkuh.

Jangan langsung menyalahkan si pelakor, karena tanpa adanya kemauan dari suami, perselingkuhan nggak akan terjadi, sehingga mereka mereka berdua yang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Artikel Asli