Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Podcast Deddy Corbuzier Dikecam: Ini Menunjukkan Sulitnya Dialog Keberagaman Gender dan Seksualitas

Deddy Cobuzier mengundang Ragil Mahardika dan suaminya, Frederick Vollert sebagai bintang tamu podcastnya beberapa hari lalu. Keduanya merupakan pasangan LGBT (lesbian, gay, biseks dan transgender).

Sebenarnya tidak cuma sekali Deddy mengundang pasangan LGBT. Di tayangan di awal pandemi, podcast ini juga mengundang pasangan LGBT, Jeje dan Nino di tahun 2020. Isu LGBT juga banyak menjadi obrolan podcast ketika Deddy mengundang Aming di tahun ini.

Tapi tayangan Ragil dan Fred ini membuat ramai. Padahal tayangan ini merupakan tayangan biasa dimana Deddy mewawancarai keduanya tentang pengalaman sebagai pasangan homoseksual. Tak ada bedanya dengan wawancara talkshow atau podcast lain yang melakukan wawancara dengan pasangan heteroseksual.

Tagar #UnsubscribePodcastCorbuzier pun beredar luas, hanya beberapa hari setelah video itu beredar. Program berjudul “Tutorial Jadi G4y di Indo!! Pindah ke Jerman Ragil dan Fred” ini dinilai netizen mempromosikan LGBT.

Akibatnya, hingga Selasa (10/5/2022) siang, akun Instagram Deddy @mastercorbuzier harus kehilangan ribuan followernya. Sedangkan akun Deddy Corbuzier Podcast juga ditinggalkan ribuan subscriber-nya.

Tak hanya warganet, kecaman juga datang dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan KH Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah). Keduanya meminta agar video rekaman itu ditakedown karena dinilai mengampanyekan LGBT.

Menghadapi tekanan ini, pihak manajemen Deddy Podcast mentakedown video rekaman tersebut, disertai pernyataan permintaan maaf karena dinilai telah memicu kegaduhan.
“I’m taking down the video. But I still believe they are human. Hope they will find a better way. Sorry for all,” demikian Deddy di akun Instagramnya.

Deddy menyatakan dalam podcast, dirinya tidak mendukung kegiatan LGBT. Acara itu juga bukan dimaksudkan untuk mengkampanyekan LGBT, ataupun mengatakan itu baik atau dirinya setuju dengan perilaku Ragil dan para LGBT lainnya. Deddy melihat para LGBT sebagai manusia dan ingin membuka fakta bahwa mereka ada di sekitar kita.

“Saya hanya melihat mereka sebagai manusia. Hanya membuka fakta bahwa mereka ada di sekitar kita dan saya pribadi tidak berhak men-judge mereka.”

Pengalaman Ragil dan Frederick Vollert

Podcast ini mewawancarai Ragil dan Fred soal pengalaman hidup mereka menjadi pasangan homoseksual, serta ada beberapa pertanyaan soal bagaimana awalnya Ragil menjadi LGBT dan mengapa dia akhirnya memutuskan untuk pindah ke Jerman.

Ragil bersama Fred adalah youtuber pemilik Youtube: Karo Jerman Ragil Fred. Di Youtube nya ini mereka banyak menceritakan kehidupan mereka sehari-hari.

Isi Youtube Ragil hampir sama dengan konten Youtuber lainnya, tentang kehidupan sehari-hari, makan, minum, liburan, kehidupan biasa lainnya. Cerita tentang perjalanan naik mobil dari Jerman ke Inggris dengan kereta bawah laut, liburan ke Atlantik, makan ikan goreng dan rendang jengkol. Cerita sehari-hari saja.

Youtubenya beberapakali viral. Deddy mengundang mereka ke podcastnya.

“Pasangan gay sama kog seperti pasangan heteroseksual lainnya, kerja, masak, hidup mati-matian untuk kehidupan, liburan,” kata Ragil di Podcast Deddy Corbuizer.

Dalam wawancara dengan Deddy, Ragil menyatakan bahwa dari kecil ia sudah melihat bahwa ia berbeda dibandingkan teman laki-lakinya. Ragil punya ketertarikan dengan laki-laki.

“Kalau teman cowok saya senang melihat cewek, saya senang melihat guru olahraga (yang cowok).”

Pindah ke Jerman, Ragil bekerja sebagai guru TK di sana, ia mengajar bimbingan konseling. Di Jerman, penerimaan pada para LGBT tidak seperti di Indonesia, bahkan diakui dalam hukum negara disana, semua orang harus diperlakukan sama sebagai warga negara

“Di Jerman tidak bermasalah karena menerima, kalau misalnya ada guru-guru yang didemo orangtua yang tidak setuju LGBT, di sana tidak bisa. Kepala sekolah tinggal bilang, silahkan cari sekolah lain karena ada hukum yang menyatakan tidak boleh melihat orang dari pilihan seksual, ras, golongan,” kata Ragil dalam Podcast Deddy Cobuzier

“Saya bisa bergandengan tangan, tak ada yang melempar dan merasakan ketakutan, walaupun ada beberapa yang mungkin tidak setuju, ini karena Jerman adalah negara plural, ada yang belum terbiasa dngan budaya barat, namun kebanyakan ini adalah para pendatang.”

Ragil sadar, di Indonesia ini bukan sesuatu yang mudah. Ia pernah mau bunuh diri karena sulitnya ia diterima.

“Aku pernah dalam posisi mau bunuh diri, sendirian tidak ada yang tahu aku. Lalu aku pikir, kenapa aku tidak keluar rumah jingkrak-jingkrak dan sudah selesailah masalahku. Namun aku pikir aku bisa hidup bahagia, ini masih dikasih kesempatan, maka sejak itu aku terbuka pada keluarga dan di media sosial tentang statusku.”

Bertemu di Jerman dengan Frederick Vollert, lalu mereka menikah di tahun 2018.

Ragil menyatakan banyak menerima kecaman dan buatnya ini sudah biasa, walau ada pengalaman yang paling menyedihkan, yaitu ketika ada tuduhan terhadapnya tentang bahwa semuanya bisa dipakai,” adiknya dipakai, saudaranya dipakai.”

Sulitnya Perjuangan Keberagaman Gender

Setelah menerima kecaman, Deddy Corbuizer kemudian menyatakan minta maaf melalui media sosial.

"Seperti biasa ketika gaduh di sosmed. Saya minta maaf. Kebetulan masih dalam suasana bulan Syawal," tulis Deddy di Instagram.

Dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Dina Listiorini menyatakan, awalnya podcast Deddy menjadi media yang membuka ruang dialog atas keberagaman gender dan seksualitas, namun Dina Listiorini selanjutnya juga melihat, dengan permintaan maaf Deddy Corbuzier ini, Dina melihat ini sebagai pernyataan yang justru melegitimasi sistem sosial yang ada, yaitu sistem sosial yang heteronormatif, sistem yang selama ini sesuai dengan apa yang dikatakan orang pada umumnya.

“Jadi apa yang dilakukan deddy secara simbolik sepakat dengan nilai dominan dan malah tidak jadi membuat akses keberagaman gender dan seksualitas yang berbeda. Dengan minta maaf dia menyepakati nilai heternormatif ini,” kata Dina Listiorini saat dihubungi Konde.co pada 10 Mei 2022

Di luar ini, secara ekonomi politik, sebagai orang media, Deddy pasti juga ada kepentingan ekonomi di balik permintaan maaf ini. Dina Listiorini melihat kondisi ini juga menunjukkan bahwa media punya budaya dominan yang menguatkan nilai-nilai itu, yaitu untuk menyelamatkan bisnis dan hal-hal yang heteronormatif

Jika dilihat dari komentar-komentar yang ada, kecaman terhadap tayangan ini juga menunjukkan masih sulitnya memperjuangkan keberagaman gender di Indonesia, karena jika dilihat dari perspektif kewarganegaraan, semua orang adalah warga negara yang punya hak yang sama. Ragil memutuskan untuk pergi ke Jerman karena penerimaan sosial yang tidak mudah dilaluinya di Indonesia.

Penolakan-penolakan ini membuat LGBT menghadapi situasi yang tak mudah dan rentan.

Kerentanan terhadap kehidupan LGBT juga tergambar pada riset yang pernah dilakukan oleh Konsorsium Crises Response Mechanism (CRM) dan Kurawal Foundation yang dipublikasi pada Maret 2021 lalu. Dalam penelitian tersebut tergambar adanya diskriminasi yang dialami oleh komunitas LGBT dalam berbagai aspek seperti mengakses pekerjaan, hingga mengakses bantuan Covid-19 dari pemerintah. Selain itu. Komunitas LGBT juga rentan mengalami kekerasan selama pandemi Covid-19 seperti ancaman kekerasan di lingkungan sosial hingga di dalam rumah.

Di sektor kerja misalnya, data Aliansi Stop Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja menunjukkan soal diskriminasi dan pelecehaan yang dialami LGBT, misalnya mereka sulit mengakses pekerjaan, terutama pekerjaan di sektor formal, karena banyak pemberi kerja yang homophobic dan lingkungan umumnya yang tidak ramah terhadap LGBT.

Diskriminasi kerja yang dirasakan juga beragam, misalnya, berupa komentar atau guyonan tentang LGBT yang seksis, mengalami diskriminasi pada tahap evaluasi dan promosi kerja

Tekanan terhadap LGBT di Indonesia makin lama makin kuat, hampir semua orang menganggap bahwa LGBT adalah penyakit yang harus disenbuhkan. Banyak orang yang tidak paham mengenai LGBT dan membuat stigma. Homophobia seperti penyakit menular yang diajarkan dari satu orang ke orang lain.

Penolakan dari negara terhadap LGBT di Indonesia juga tak cuma sekali dua kali. Pernyataan-pernyataan keras penolakan LGBT juga banyak berasal dari pemerintah seperti para pejabat publik kementerian hingga komisi-komisi negara, politisi DPR dan MPR, akademisi, tokoh masyarakat, Ormas agama dan tokoh agama lainnya.

Agus Mawan, seorang jurnalis yang melakukan peliputan mendalam tentang LGBT di Makassar menulis, bahwa debat publik tentang penerimaan terhadap LGBT terus terjadi di kalangan pemerintah, masyarakat dan juga media di Indonesia. LGBT menjadi isu yang dibenci, namun nyatanya paling banyak diperdebatkan. Dalam situasi inilah pentingnya ruang untuk berkomunikasi agar tak kecanduan isu yang terpolarisasi.

Isu yang terpolarisasi ini bisa membahayakan karena orang sudah punya pola yang sama, tertutup dan menutup komunikasi. Melakukan pengulangan atas isu seperti memperdebatkan isu yang sama, yang pasti ditolak. Alasannya, karena tak mau berdialog.

Keterbukaan Ragil dan pasangannya juga mestinya patut diapresiasi sebagai hal yang berbeda seperti laiknya pasangan heteroseksual lainnya yang tampil di media. Karena pilihan untuk terbuka ini menunjukkan strategi dan daya tahan atau resiliensi LGBT dalam berkomunikasi dan bernegosiasi yang harus dihargai.

Artikel Asli