Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

[JOYLADA] Obsesi (Saat Cinta Mulai Menggila) episode 5

a story by Gitta Anggraita from JOYLADA | source picture : pixabay.com

Tibalah hari di mana papa melakukan rencananya. Siang itu motor harley sudah selesai diperbaiki dan poster pun kini telah sampai ke tangan papa. Sebuah senyuman tersirat di raut mukanya. Ia menghela napas dan berulang kali mengecek poster dengan menyisir setiap kata yang tertulis di posternya. 

“Terima kasih, Nak Barra. Bagus sekali desain posternya,” puji papa.

“Sama-sama, Pa. Barra sama Elena sudah sepakat buat selebaran juga. Nanti kita berdua yang menyebarnya di sepanjang jalan,” ujar Barra.

“Iya, terserah kalian saja.”

Papa lalu memasang poster di tiang dari bahan besi yang diikat dengan tali tambang. Semangatnya sungguh kuat demi Tami. Tetangga depan rumah yang sudah mendengar kabar batalnya pertunangan Tami, bergegas mendekati papa.

“Bapak sedang apa? Benar ya kabarnya Tami hilang?” tanya Bu Eva.

“Iya, benar Bu,” jawab papa sambil masih membetulkan posisi tiang.

“Makanya, Pak, jangan suka jodohin anak gitu aja. Kehendak orangtua tidak boleh segitunya dong harus dituruti anak. Kabur deh jadinya,” timpal Pak Dimas suami Bu Eva.

“Gimana rasanya nikah hasil perjodohan? Bahagia kan kalian pada akhirnya!” bentak Elena yang ada di samping papa.

Tanpa menjawab Pak Dimas dan Bu Eva berlalu dari hadapan Elena sambil menggerutu. Motor yang sudah dinaiki mereka langsung dinyalakan kemudian pergi begitu saja.

“Dasar emak-emak komplek!” sambung Elena.

“Eh itu kan suami istri, kok emak-emak,” tegur Barra.

“Lagian itu mulut bawel banget kayak emak-emak. Ga kayak suami pada umumnya.”

“Kalau aku yang gitu terus jadi suamimu gimana?”

“Nggak tak pilih jadi suami sebelumnya. Gitu aja kok repot.”

Suara tawa Barra mampu memecah kesedihan. Namun, tidak disadari mereka kalau mama malah duduk di teras dan menatap sendu suaminya. Elena yang memperhatikannya serasa menyayat hati. Sungguh ini ujian terberat bagi keluarganya. Biasanya masalah demi masalah selalu bisa dilalui. Terutama kedekatan Elena dan kakaknya yang bisa menjadi pondasi.

Motor dan poster sudah siap. Beberapa kotak bekal untuk papa pun ada di tas. Ia yakin bahwa apa yang dilakukannya akan membuahkan hasil.

“Mama sudah siapkan beberapa baju di tas ini, persediaan minum dan pakaian juga. Oh iya, obat-obatan ambil saja di tas yang ini,” kata mama.

“Banyak sekali, Ma.” Papa menyipitkan matanya. Tatapannya menelisik.

“Pasti berguna, Pa.”

Setelah segala persiapan dirasa telah cukup, papa berangkat menggunakan motornya. Hati mama begitu berat melepas suaminya. Pasalnya, papa berniat pergi sampai bertemu Tami. Seruan doa diucap mama terus menerus sampai tubuh papa menghilang dari hadapannya.

Papa merupakan pensiunan panglima TNI yang memiliki sejumlah tabungan. Umurnya terpaut jauh dengan istri. Ia berniat ke bank dulu untuk mengurus pencairannya sehingga mudah untuk diambil sebagai uang saku saat di jalan.

***

Di rumah, Eron sudah menyiapkan makan malam romantis bersama Tami. Baju gaun yang dibelikan Eron untuk Tami juga sudah ada di kamar Tami. 

Sore itu Tami duduk di kasur tua tepat di bawah ventilasi. Ia menelungkupkan kedua kakinya untuk didekapkan ke dada lalu menyenderkan tubuhnya ke tembok. Bayang-bayang keluarganya selalu menghantui pikirannya setiap hari. Bahkan berulang kali bermimpi bertemu mama dan papanya.

“Ma, Pa, Elena, Tami kangen sama kalian. Elena masih hidup, temui Tami dong,” lirih Elena.

Udara dingin sehabis hujan yang masuk ke dalam ruangan tak cukup membuat suasana menjadi sejuk. Baju yang Tami kenakan saat ini setelan piyama bercorak bunga. Sebagus dan semahal apa pun baju pemberian Eron tidak akan mengubah pandangan Tami terhadapnya. Lamat-lamat terdengar keramaian di luar sana seolah bertolak dengan apa yang kini dirasakan  Tami yaitu kesepian.

Pintu ruangan dibuka, Eron datang membawa boneka beruang berukuran besar warna merah muda. Hari ini tepat ulang tahun Eron, ia ingin memberikan hadiah pada wanita yang dicintainya.

“Tami, ini boneka yang aku berikan untukmu pasti kamu menyukainya. Nanti malam kita merayakan ulang tahunku ya,” kata Eron.

“Iya, Eron. Terima kasih.”

“Sudahlah Tami, kamu kan ga sendirian. Aku di sini selalu bersamamu sampai maut memisahkan kita.” Eron duduk di dekat Tami. “Kamu itu cantik. Dari awal berkenalan, aku sudah menaruh hati padamu. Tidak ada seorang pun yang berhak memilikimu kecuali aku.”

Kemudian Tami kembali terisak setiap Eron berkata demikian untuk ke sekian kalinya. Sampai sekarang Tami masih terbelenggu oleh rasa penasaran. Mengapa cinta Eron yang begitu besar sampai bisa menyiksanya seperti ini? Bukankah.seharusnya cinta tidak menyakitkan?

“Jangan sentuh aku!” teriak Tami ketika Eron menarik dagunya.

Perlahan Eron mengunci netra Tami sembari menahan dagu agar saling berdekatan. Gemericik hujan mengiringi niat Eron untuk melepas keperawanan Tami. Ia telah mengingkari janjinya. Lampu kamar pun dipadamkan.

Malam pun tiba. Sinar bulan bergantian menyinari alam semesta tapi tak serta merta suasana hati Tami. Kini Eron ada di sampingnya tidur di atas kasur tua itu. Tangan Eron ditaruh di atas tubuh mungil Tami sambil tertidur pulas. Tami sungguh tak menyangka hal yang ia takutkan akan terjadi secepat ini. Kuatnya Eron mengunci Tami seperti ini membuat Tami tak mampu melakukan perlawanan.

“Eron,” panggil Tami pelan.

Tami melepas tangan Eron dengan penuh hati-hati. Namun, hal itu membuat Eron pada akhirnya terbangun. Ia menatap lekat Tami lalu melempar senyumnya.

“Terima kasih Tami untuk hari ini. Perasaanku ternyata tidak bisa aku tahan saat melihatmu. Pakailah gaun yang aku berikan lalu ke ruang makan di lantai atas. Aku tunggu ya,” ujar Eron.

Tak lama Eron pun keluar ruangan untuk mandi serta bersiap-siap. Tami lagi-lagi tidak bisa menolak. Ia menuruti semua kemauan Eron semata-mata agar ia masih selamat.

“Ya ampun, keperawananku telah direnggut olehnya. Bagaimana nasibku ke depannya? Jika suatu saat aku bebas, akankah ada yang menerimaku dalam keadaan seperti ini?”

Suara tangis Tami pecah sambil mengguyur tubuhnya dengan air dan membersihkan dengan sabun.. Ia meluapkan perasaan sedih dan kecewanya sejak terbangun tadi. Saat ini ia tidak mungkin marah dan mengungkapkan semuanya pada Eron. Tami memukul dinding berulang kali sampai tangannya sedikit terluka. Setidaknya mampu mengurangi depresi di dalam batinnya.

Tami telah selesai mengenakan gaun pilihan Eron. Tepat pukul delapan malam, Tami menaiki anak tangga yang berkelok. Eron sudah ada di kursi makan dengan setelan jas yang ia kenakan. Ada bunga mawar berukuran kecil di saku jas dan dalaman kemeja putih pelengkap penampilan Eron malam ini.

“Duduklah. Kesederhanaan dirimu selalu membuatku semakin cinta,” kata Eron.

Di ruang makan itu sudah didekorasi sedemikian cantiknya. Ada vas di sudut ruangan dengan sekumpulan mawar putih. Lilin-lilin pun tak lupa diletakkan di berbagai tempat yang menurut Eron bisa menerangi posisi mereka duduk.

“Aku yang mendekor ini semua. Kamu suka?” tanya Eron melanjutkan.

“Suka,” jawab Tami.

Tiba-tiba Eron berdiri dan menyetel musik dari DVD player.Setelah itu Eron mengulurkan tangannya seraya tersenyum. “Sebelum makan, kita berdansa dulu.”

 

To be continued…

 

***

 

Bagaimana nasib Tami selanjutnya? Ikuti terus di LINE Today!

 

***

 

Penulis bernama lengkap Gitta Chintyami Anggraita yang lahir di Madiun tanggal 30 September 1990. Terjun ke dunia kepenulisan sejak September 2021. Nama pena penulis adalah Gitta Anggraita. Gitta pernah mengemban pendidikan S1 Manajemen Bisnis di Institut Manajemen Telkom angkatan tahun 2008. Saat ini status Gitta sebagai ibu rumah tangga. Terakhir Gitta bekerja di Gramedia sebagai buyer selama dua tahun. Gitta merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Orang tua asli jawa timur. Saat ini Gitta tinggal di Bekasi bersama suami. Baca cerita Gitta hanya di Joylada dan LINE Today!

Artikel Asli