Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Morbiditas Penyakit Mulut dan Kuku di Jatim Capai 90 Persen

Morbiditas Penyakit Mulut dan Kuku di Jatim Capai 90 Persen

JawaPos.com – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak di seantero Jatim begitu dahsyat. Beragam upaya pencegahan tak mampu mengurangi tingkat penularan penyakit itu.

Berdasar data terakhir, saat ini sudah lebih dari 89 ribu ekor hewan ternak, terutama sapi, yang terpapar wabah tersebut. Mayoritas masih dinyatakan sakit. Jumlah kematian juga terus bertambah.

Yang mengkhawatirkan, tingkat morbiditas (persebaran penyakit) PMK di wilayah Jatim cukup tinggi. Contohnya di Lamongan. Ada 2.474 ekor sapi di antara 3.305 populasi ternak di 20 kecamatan yang sudah terpapar. Hingga kini, 1.823 ternak masih sakit, sedangkan 544 ekor lainnya sembuh.

Di Lamongan, risiko penularan PMK memang tinggi. Bahkan, dari penelitian, morbiditasnya tembus 90 persen hingga 100 persen. ’’Kami sudah selalu mengimbau seluruh peternak supaya memisahkan ternaknya dari ternak lain apabila ada indikasi menyerupai PMK,’’ kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan Wahyudi.

Selain itu, solusi lain yang perlu segera digulirkan adalah vaksinasi. Sebab, langkah itu diharapkan bisa memutus rantai penularan.

Di Probolinggo, wabah PMK juga meluas. Jumlah ternak yang terpapar mencapai 11.314 ekor. ’’Untuk sapi yang mati juga bertambah, ada 43 sapi potong dan 53 sapi perah. Jadi, sudah ada 96 ekor sapi yang mati karena terserang PMK,’’ kata Medik Veteriner Muda Disperta (Dinas Pertanian) Kabupaten Probolinggo drh Nikolas Nuryulianto kepada Jawa Pos Radar Bromo.

Situasi wabah PMK di Ponorogo juga tak kalah mengkhawatirkan. Hingga kemarin, 182 ekor ternak mati. Seluruhnya terjadi di Kecamatan Pudak.

Di kecamatan itu, hampir setiap hari warga setempat bergotong royong untuk menguburkan sapi yang sudah tak tertolong lagi. Sampai-sampai, setiap desa membentuk tim pemakaman.

Mereka merupakan warga yang setiap hari menggali lubang sedalam 3–4 meter. Serta, mengangkat sapi mati untuk dinaikkan ke pikap sebelum dibawa menuju lokasi penguburan. ’’Kami mengedepankan gotong royong,’’ kata Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko. Sebagai gantinya, pemkab menalangi biaya penguburan. Tiap ekor sapi diberi bantuan Rp 500 ribu.

Pemandangan proses penguburan seperti terlihat di Desa Krisik kemarin (22/6). Kades Krisik Erwan Susanto mengungkapkan, warga telah menguburkan lima ekor sapi. Satu di antaranya merupakan sapi miliknya.

Erwan menyebutkan, sapi yang mati rata-rata bergejala berat. Tidak sanggup berdiri, tidak mau makan, dan lemas. Tren kasus kematian di desanya meningkat beberapa hari terakhir. Sebelumnya, eskalasi kasus kematian tertinggi berada di Desa Pudak Kulon. ’’Hampir setiap hari menerima laporan sapi mati,’’ ujarnya.

Artikel Asli