Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Fakta Sampah di RI: Ada 3 Kabar Buruk dan 3 Kabar Baik

TODAY Special Dipublikasikan 17.00, 19/02
Gambar oleh Tresia Hoban dari Pixabay
TPA Bantargebang / Tresia Hoban dari Pixabay

Setiap bulannya LINE TODAY akan menyoroti topik-topik yang dekat dengan pembaca. Artikel ini adalah bagian dari konten spesial bulan ini: "Indonesia Darurat Sampah" dalam rangka Hari Peduli Sampah setiap 21 Februari. Ada deretan kisah sejumlah anak muda dan perusahaan berupaya mengurangi sampah dengan cara kreatif dan berbasis teknologi. 

Sebuah sungai di Depok, Jawa Barat, dipenuhi sampah sepanjang hampir 300 meter. Saking banyak dan padatnya sampah di Kali Baru, Cimanggis, itu orang bisa berjalan di atasnya. Kasus Kali Baru itu hanya salah satu contoh dari kondisi sampah yang makin gawat. 

“Polusi sampah plastik sedang membunuhi sungai dan laut di Asia Tenggara,” kata Direktur Kawasan Asia Pasifik Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP), Dechen Tsering. UNEP banyak menyoroti Asia Tenggara sebagai salah satu kawasan penghasil sampah terbesar di dunia. 

Dari laporan mereka ada tiga kabar buruk terkait sampah di Indonesia, tapi ada juga tiga kabar baik, apa saja?

KABAR BURUK

1. RI penghasil sampah nomor satu di Asia Tenggara, jumlahnya terus naik 

UNEP dalam laporannya pada 2017 mendapati Indonesia sebagai penyumbang sampah terbanyak di Asia Tenggara. Seberapa banyak? 

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat pada 2020 ada 67,8 juta ton sampah yang dihasilkan di Indonesia. “Kelihatannya (sampah) akan terus bertambah seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan dengan semakin membaiknya tingkat kesejahteraan," kata Menteri KLHK Siti Nurbaya Bakar.

Masalah di negara seperti Indonesia, kata UNEP, banyak yang menyatakan diri peduli lingkungan, tapi sedikit yang benar-benar mengubah gaya hidupnya yang selama ini merusak lingkungan. Sampah di Indonesia, misalnya, kebanyakan sampah makanan.

Artinya, Sampah itu bisa sangat berkurang jika ada pengolahan di rumah tangga dan komunitas. Namun upaya ini tak banyak sehingga akhirnya semua sampah dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang membawa kita kepada kabar buruk kedua.

2. TPA mulai overload

TPA Bantargebang / Foto: Tresia Hoban dari Pixabay
TPA Bantargebang / Foto: Tresia Hoban dari Pixabay

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memprediksi jika warga Ibu Kota tak mengurangi sampah maka TPA Bantargebang di Bekasi tak mampu lagi menampung. Dengan sampah 8 ribu ton per hari, TPA Bantargebang akan tutup tahun ini.

Hal yang sama terjadi di seputaran Jakarta, TPA Cipayung di Depok juga overload. Setiap harinya sampah di kota ini mencapai 1.565 ton, namun yang bisa masuk hanya berkisar 934 ton.

Begitu pula TPA Cipeucang di Tangerang Selatan, Banten, mulai penuh. Tiap hari timbulan sampah di Tangerang Selatan sebanyak 850-900 ton, padahal daya tampung TPA hanya 200-300 ton per hari. 

TPA Tadukan Raga di Deliserdang, Sumatera Utara, juga ditutup pada 1 Januari 2020. TPA ini sudah tak mampu lagi menerima sampah yang gundukannya sudah sangat tinggi jika ditambah lagi berpotensi longsor.

Kalau TPA tutup mau dibuang ke mana ya sampah kita?

3. Masih langka: perusahaan Indonesia yang peduli lingkungan  

Beberapa perusahaan di Indonesia mulai menerapkan prinsip bisnis ramah lingkungan, dimulai dengan mengganti kemasannya. Produsen air mineral kemasan Aqua, misalnya, memakai galon dan botol kaca yang bisa dipakai ulang. 

Lalu meluncurkan kemasan rPET (recycled PET) 600ml yang terbuat dari 100 persen bahan daur ulang. Pada kemasan ini Aqua tak memakai label di luar kemasan sehingga seluruh kemasan bisa didaur ulang. Di Bali, Aqua bekerja sama dengan aplikasi pengakutan sampah Octopus sehingga botol bekas pakai bisa langsung dijemput dan dibawa ke pusat daur ulang. Cerita inisiatif ini bisa dibaca DI SINI

Sayangnya, inisiatif seperti tadi terbilang masih langka di Indonesia. Survei 2020 dari UNEP dan Food Industry Asia, “Persepsi terhadap Sampah Plastik”, menemukan cuma setengah dari perusahaan makanan dan minuman yang disurvei yang terlibat dalam upaya daur ulang sampah kemasan produk plastik mereka. Ironisnya, perusahaan di Indonesia termasuk yang skornya paling rendah di Asia Tenggara.

Mengapa? Karena mereka merasa upaya mereka terkait lingkungan sudah cukup. Bahkan kebanyakan bisnis makanan dan minuman merasa pembeli juga tak terlalu peduli dengan lingkungan apalagi usaha mereka menjadi lebih ramah lingkungan. Ya, upaya mengurangi sampah dari proses produksi dan upaya perusahaan mengelola sampah dari produk mereka tak maksimal karena kamu sebagai konsumen dianggap tak terlalu memperhatikan juga. 

Tapi perusahaan-perusahaan ini harus segera berubah karena ada kabar baik nih:

KABAR BAIK

1. Masyarakat Indonesia mulai peduli lingkungan 

Staf Ocean Cleanup Group membersihkan pantai di Bali (Foto: Ocean Cleanup Group on Unsplash)
Staf Ocean Cleanup Group membersihkan pantai di Bali (Foto: Ocean Cleanup Group on Unsplash)

Mayoritas konsumen di Indonesia, terutama di kota-kota besar, mulai sangat cemas dengan sampah plastik. Bahkan angka kecemasan ini termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara.

Salah satu pihak yang banyak disorot oleh konsumen adalah industri makanan dan minuman. Konsumen di Indonesia merasa pengusaha harus berusaha lebih keras mengurangi sampah kemasan mereka. Seperti mendaur ulang atau mengupayakan kemasan yang bisa dipakai ulang. 

Ternyata ada 49 persen responden di Indonesia yang menyatakan tak mau membeli produk yang kemasannya bukan hasil daur ulang. Sebuah bukti bahwa publik Indonesia mendesak produsen untuk lebih aktif mengupayakan pengurangan sampah.

2. Makin banyak aplikasi yang bisa tukar sampah dengan uang 

Instagram @hamishdw
Foto: Instagram Hamish Daud Wyllie @hamishdw

Banyak yang menyerah memilah sampah di rumah karena toh disatukan juga saat diangkut ke TPA. Namun sekarang bermunculan start-up yang mencegah itu terjadi. Bahkan mereka yang mau memilah sampah dan mendaur ulang akan diberikan imbalan berupa pulsa, voucher belanja, hingga uang. 

Contohnya Octopus Indonesia di Bali, Mallsampah di Makassar, dan Angkuts di Pontianak. Octopus, misalnya, selain memberi imbalan kepada pengguna aplikasinya juga meningkatkan pendapatan pemulung yang menjadi mitranya. Simak kisah Octopus di Bali DI SINI

Ke depannya aplikasi ini menjadi salah satu yang akan didorong oleh pemerintah  untuk mengurangi jumlah sampah terutama yang bisa didaur ulang. Industri pengelolaan sampah, kata Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya, akan jadi salah satu fokus 10 tahun ke depan. 

Contoh industri pengelolaan sampah adalah industri pengumpulan dan pengangkutan sampah, industri alat dan mesin pengolah sampah, industri daur ulang, industri komposting dan biogas serta industri sampah menjadi energi alternatif. Masa depan buang sampah di Indonesia akan berbasis aplikasi. Cukup mengumpulkan, klik di ponsel, lalu perusahaan berbasis teknologi ini menjemputnya. Keren kan?

3. Sampah mi instan jadi aspal

Kehadiran aplikasi penjemput sampah tadi penting untuk mendukung inovasi mengolah sampah jadi produk yang berguna. Karena inovasi membutuhkan sampah yang dalam kondisi baik, tidak tercemar tanah atau bahan lain. Artinya sejak dari tempat munculnya sampah seperti rumah atau restoran harus sudah ada pemilahan sampah lalu ada perusahaan yang mengambil sampah dan mengantarkannya ke pusat daur ulang. 

Sampah mi instan atau kemasan sachet yang dalam kondisi baik misalnya, tengah dikembangkan Universitas Indonesia menjadi campuran aspal. Ahli teknologi polimer dari Departemen Teknik Metalurgi dan Material Fakultas Teknik UI Mochamad Chalid mengatakan inovasi ini dibuat karena jenis sampah plastik multilayer seperti kemasan mi instan tidak banyak didaur ulang sehingga sampahnya mencemari lingkungan. 

Aspal bersifat tidak tahan air sehingga mudah terkikis dan retak jika dalam kondisi basah terkena tekanan kendaraan. Mochamad Chalid menemukan campuran plastik yang tahan air akan membuat daya tahan aspal meningkat 40 persen. 

Aspal plastik ini salah satu saja dari inovasi yang bermunculan di Indonesia.  Inovasi Ini salah satu saja. Di Bandung, misalnya, muncul inovasi mengubah popok bekas pakai menjadi paving block. Jadi, kabar baik bukan?