Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Rasa Iba Membawa Petaka

kumparan Dipublikasikan 02.54, 12/10 • Cinta dan Rahasia
Dok. Pixabay.com

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi

Memang mulut lelaki itu buaya! Sudah lama bekerja di sebuah pabrik besar bagian keuangan bisa-bisanya aku dikerjai oleh buaya yang baru seumur jagung. Dua ribu enam silam ada seorang pria yang baru bergabung dengan perusahaan, tinggi, berbadan tegap, wajahnya sangat terlihat berwibawa. Ia menduduki jabatan yang lumayan oke untuk seseorang yang baru saja masuk, mungkin ditunjang dari pengalaman kerja sebelumnya.

Posisi dia saat itu sangat berhubungan erat dengan bagian keuangan tapi tidak dengan aku. Semua bermula ketika temanku Roslina cuti kehamilan selama tiga bulan dan aku ditunjuk untuk menggantikan posisinya sementara waktu. Aku dan Roslina sangat dekat, memang beberapa kali kami bergosip tentang si anak baru yang terlihat sangat menawan tapi hanya sebatas itu. Tidak lebih.

Tidak ada di antara aku dan Roslina yang berniat untuk mendekatinya, meski sendiri aku juga punya harga diri. Dengar-dengar dia sudah beristri dan memiliki satu anak laki-laki, itu prinsipku dulu sebelum akhirnya kami dekat karena urusan pekerjaan. Posisiku yang menggantikan Roslina tepatnya yang memaksa aku untuk terus berhubungan dengan dia selama tiga bulan penuh dan sialnya saat itu ada rapat besar di Bandung yang mengharuskan aku menginap di sana selama satu minggu.

Aku ditugaskan untuk mempresentasikan keuangan di pabrik tempat kami bekerja, sedangkan dia di bidang lainnya. Kami menginap di sebuah penginapan yang sangat bagus, berada di atas Kota Bandung dengan udaranya yang sejuk. Di sanalah buaya darat itu mulai mendekatiku dan kami banyak bercerita, tentu saja dengan rekan-rekan lainnya tapi entah mengapa banyak yang menjodohkan kami dalam berbagai hal.

Aku hanya menganggapnya rekan, jadi kuturuti saja kemauan mereka toh hanya seru-seruan saja dan ia tidak mungkin naksir padaku. Ia sudah memiliki istri! Satu minggu berlalu begitu saja, tidak ada hal aneh yang terjadi sampai dia mulai mengirimiku pesan di luar topik pekerjaan. Mulanya aku malas menanggapi tapi lama-lama tidak enak juga karena tiap kali kami bertemu dia selalu mempertanyakan jawaban dari pesan yang dikirimkannya.

Kutanggapi pesan itu sekadarnya tapi ternyata obrolan kami cukup nyambung, apalagi kalau kami membicarakan tentang nonton konser sebuah band yang sangat terkenal. Obrolan itu semakin hari semakin ngalor-ngidul, panjang bahkan hingga larut malam kami masih saling bertukar pesan. “Kamu sudah menikah Ta?” Tanyanya suatu malam, “belum kenapa Mas?” Jawabku balik bertanya, “nanti kalau kamu sudah menikah jangan seperti istriku, suami tidak diurusi dan taunya hanya minta uang saja, belum lagi dia suka memaki aku di depan banyak orang seolah aku ini engga ada harganya” jawabnya.

Sejenak aku tertegun membaca kalimat balasan itu, “kenapa dia jadi curhat masalah pribadi?” pikirku tapi malam itu aku memutuskan untuk mendengarkannya sekadar karena mungkin ia terlalu penat dengan sikap istrinya.

Hari demi hari aku sadar kalau ia mulai mendekatiku tapi anehnya aku justru merasa nyaman, semua obrolan kami aku ceritakan pada Roslina dan sudah dari jauh-jauh hari dia memeringatiku untuk tidak menanggapinya secara serius. Namun ternyata beda halnya kalau sudah dijalani, sikapnya padaku saat kami sedang berdua itu mampu membuat aku meluluhlantahkan benteng yang sudah berdiri kokoh sebelumnya. Setelah Roslina kembali, kupikir suasana akan kembali normal dan ia menganggap kalau semua akan berlalu begitu saja, itulah alasan awalku menanggapi setiap obrolannya.

Tapi ternyata tidak, semua berlanjut dan terus berlanjut hingga dia membeberkan semua masalah pribadinya padaku. Aku menanggap kalau dia butuh teman bercerita karena mungkin sudah kehabisan kata-kata menanggapi tingkah laku istrinya tetapi lama-lama ia justru memberitahukanku secara gamblang tentang ketertarikannya. “Aduh Mas, aku tidak tahu harus bagaimana kupikir Mas hanya butuh teman cerita makanya selama ini aku tanggapi” ucapku, “aku memang butuh teman cerita tapi sepertinya kamu benar-benar paham bagaimana cara memperlakukan laki-laki Ita” sahutnya.

Malam itu aku berusaha menolaknya mati-matian tetapi keesokan harinya ia justru mati-matian pula berusaha untuk meyakinkan hatiku. Segala jurus rayuan ia keluarkan hingga enam bulan kemudian aku merasa tidak tega mengacuhkan laki-laki yang sudah habis-habisan di mata istrinya tapi tidak dihargai. Aku jatuh iba padanya, mulai mengurusnya dengan benar walau hanya sebatas di kantor saja tetapi semua itu kulakukan diam-diam dan hanya Roslina saja yang tahu. Aku tidak ingin kabar buruk tersebar dan menjatuhkan citra yang sudah kubangun selama ini.

Dua tahun berlalu dan aku masih dengan rutinitas mengurusnya seperti suamiku sendiri, “aku tidak pernah merasa sesenang ini diurus oleh seorang wanita Ta, dia tidak pernah melakukannya untukku dan hanya menginginkan uangku” ucapnya. “Mas tidak boleh begitu, dia melakukan itu karena kebutuhan rumah itu banyak Mas belum lagi yang tidak terduga” sahutku, “tapi kamu bisa mengerti bagaimana cara untuk memperlakukanku, beda sekali dengannya” jawabnya.

Percakapan itu selalu berulang hingga yang semula berusaha kutepis lama-lama aku menjadi tersipu, “kalau terus begini rasanya Mas tidak puas Ta, Mas masih tidak bisa memiliki kamu seutuhnya. Kamu mau engga kalau kita menikah saja?” Tanyanya, “aahh yang benar saja, Mas kalau mau poligami harus minta persetujuan istri” jawabku, “aku akan meninggalkan dia setelah kita menikah nanti, jadi aku tidak perlu meminta persetujuannya” sahutnya.

“Berarti Mas menjadikan aku ban serep dong” timpalku dengan nada kesal, “tidaklah Mas sudah lama tidak tidur satu ranjang dengannya dan selama ini Mas hanya melakukannya dengan kamu Ta” ucapnya yang berusaha membujukku. “Cerai resmi itu tidak mudah, pasti dia akan meminta mediasi dan apalah tapi di samping itu Mas juga tidak mau kehilangan kamu Ta. Baru kali ini Mas merasa bahagia berada di tangan seorang wanita” ucapnya.

Aku tidak menyangka bujuk rayunya sekian lama mampu membuatku setuju untuk menikah secara siri dengannya. Hitung-hitung kami tidak lagi berzinah sambil menunggu persidangan mereka itu ketuk palu dan kami merahasiakannya dari banyak orang. Di mata orang-orang aku masih sendiri dan dia masih beristri, tak ada satu pun yang tahu kecuali keluargaku, Roslina, dan para tetangga tempat kami tinggal satu atap.

Dia selalu membagi hari untuk tidur di rumahku dengan istrinya, aku berusaha memercayai setiap ucapannya. Dia juga memberiku lembaran pengajuan sidang perceraian, jadi kupikir dia tidak akan berbohong. Lima bulan ke belakang dia semakin sering berada di rumahku dan tiap kali kutanyakan padanya, ia selalu menjawab kalau persidangan itu hampir selesai. Namun suatu hari dia hilang begitu saja, beberapa minggu tidak masuk kerja lalu tiba-tiba mengajukan surat pengunduran diri.

Semua telepon dan pesanku tak juga ia balas. Aku takut setengah mati ia mengalami hal buruk dan meminta Roslina untuk pergi ke rumahnya walau hanya bisa melihat dari kejauhan. Awalnya Roslina menolak sampai akhirnya ia setuju karena melihatku yang setiap hari menangis mengkhawatirkan dirinya. “Yaudah aku temenin tapi kalau ada hal buruk, kamu harus siap ya” ucapnya mewanti-wanti, aku mengangguk setuju dengan cepat.

Kami pergi ke rumahnya menggunakan mobil Roslina dan benar saja, di depan rumahnya terpajang pakaian bayi baru lahir. “Berarti selama ini dia tidak cerai Ta, istrinya hanya sedang hamil dan begitu melahirkan dia kembali lagi pada istrinya” ucap Roslina sambil menoleh ke arahku, tak lama seorang wanita berdaster keluar membawakan secangkir kopi dan sepiring roti yang diletakkan di meja teras.

“Itu yang selalu diminta oleh si Mas” batinku dan benar saja tak lama dia keluar menggunakan kemeja rapi untuk bersiap pergi ke kantor. “Kan apa kubilang, dia berbohong. Kata-kata manisnya itu hanya buaya untuk menjerat kamu Ta. Lihat mana ada istrinya memperlakukan dia seburuk yang diceritakan? Aku melihat dia malah bahagia kok” tambahnya. Roslina langsung menginjak pedal gas dan kami pergi dari sana secepat yang ia bisa.

Hatiku rasanya hancur berkeping-keping. Benteng yang sudah kubangun tinggi ternyata tidak sekokoh yang kuharapkan. Ucapan manisnya hanya sebatas mulut buaya, seharusnya aku mendengarkan ucapan Roslina saat itu tapi sudahlah tak ada gunanya meratapi yang telah terjadi. Aku bersyukur tak banyak yang tahu tentang pernikahan kami, mereka menganggapku masih sendiri dan mungkin itu menjadi pelajaran paling berharga buatku untuk menentukan calon suami yang terbaik.

Artikel Asli