7 Fakta Kebakaran Hutan, Bayi Meninggal hingga Diduga Ada Unsur Kesengajaan

Okezone.com Dipublikasikan 04.57, 16/09/2019 • Khafid Mardiyansyah
7 Fakta Kebakaran Hutan, Bayi Meninggal hingga Diduga Ada Unsur Kesengajaan
Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di beberapa wilayah di Indonesia sudah dalam level yang memprihatinkan.

JAKARTA - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di beberapa wilayah di Indonesia sudah dalam level yang memprihatinkan. Kabut asap yang dihasilkan menyebabkan kondisi udara di beberapa wilayah masuk kategori berbahaya.

Berikut beberapa fakta yang Okezone himpun dari berbagai pemberitaan.

1. Bayi Meninggal Akibat Kabut Asap

Ilustrasi (Shutterstock)

Bayi Elsa sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit Ar-Rasyid Minggu 15 September sore diduga terkena dampak kabut asap pekat yang menyelimuti daerah Sumatera Selatan akhir-akhir ini.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin, dr MGS Hakim, setelah pihaknya datang ke Rumah Sakit Ar-Rasyid Palembang untuk memastikan penyebab meninggalnya Elsa, pihaknya memastikan Elsa terkena radang paru-paru atau Pneumonia.

"Hasil kunjungan Tim Dinas kesehatan Banyuasin hari ini ke RS Ar-Rasyid memang benar ada pasien bayi berumur 4 bulan ke UGD dengan diagnosa Pneumonia dan meninggal," ucap dr Hakim.

2. Diduga Sengaja Dibakar

Tito Karnavian

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengungkapkan adanya kejanggalan dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia, terutama di Riau. Kejanggalan tersebut didapat berdasar pengamatannya dari helikopter.

"Areal yang kebakar hanya hutan saja, sedangkan areal kebun sawit dan tanaman lainnya tidak terbakar. Hal ini merupakan indikasi adanya unsur kesengajaan," katanya di Pekanbaru, Riau, Senin (16/9/2019).

3. Diperkirakan Berakhir Oktober 2019

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa musim kemarau di wilayah Riau masih akan terjadi sampai pertengahan Oktober 2019 sedang di wilayah lain bisa sampai akhir Oktober atau awal November 2019.

"Ini berarti kemungkinan kebakaran hutan dan lahan masih akan terjadi sampai akhir Oktober 2019," ujar Plt Kapusdatinmas, Agus Wibowo.

4. BNPB Akui Kesulitan

Ilustrasi

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo mengungkap kesulitan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah terjadi di sejumlah provinsi di Indonesia.

"Memadamkan lahan gambut bukan hal mudah. Sudah 42 unit helikopter kita dikerahkan. Belum lagi dukungan dari unsur swasta dan dari TNI dan KLHK, mungkin ada 50 unit helikopter," kata Doni dalam jumpa pers di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Sabtu (14/9/2019).

Menurut Doni, karhutla tahun ini sebetulnya tidak jauh berbeda dengan tahun 2015 silam. Namum jumlah titik api kali ini memang cukup besar.

5. Ganggu Penerbangan

Aktivitas Bandara Internasional Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru mulai terdampak kabut asap. Sejumlah penerbangan terlambat (delay) bahkan ada yang dibatalkan (cancel).

Penundaan dilakukan setelah BMKG Pekanbaru memberikan informasi jarak pandang hanya berkisar 300 meter akibat adanya kabut asap. Sementara ambang batas penerbangan umumnya adalah 800 meter. Informasi dari BMKG Pekanbaru itu juga dipasang di papan pengumuman Bandara SSK Pekanbaru.

6. Aktivitas Pendidikan Lumpuh

Ilustrasi

Bencana kabut asap yang semakin parah di Riau berdampak kepada dunia pendidikan. Aktivitas belajar mengajar lumpuh total akibat asap semakin parah kian parah di Bumi Lancang Kuning-julukan Riau.

Aktitas belajar mengajar dari tingkat TK (taman kanak kanak, SMP dan SMA sederajat diliburkan. Belakangan sejumlah universitas dan kampus di Riau juga terpaksa meliburkan mahasiswanya.

Untuk tingkat TK hingga SMP sudah libur sejak 10 September 2019 dan belum diketahui kapan bisa masuk kembali mengingat asap semakin pekat. Sementara universitas bervariasi meliburkan para mahasiswa.

7. Kabut Asap Dikabarkan "Menyebrang" ke Malaysia

Ilustrasi

Malaysia pada Selasa, 10 September telah mengirimkan setengah juta masker ke Negara Bagian Sarawak dan menutup lebih dari 400 sekolah di sana seiring dengan semakin luasnya penyebaran kabut asap dari kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia.

Pemerintah Malaysia juga telah menyiapkan pesawat untuk penyemaian awan (modifikasi cuaca-red) dengan harapan bisa menghasilkan hujan.

Data kebakaran hutan Malaysia diambil dari ASEAN Specialized Meteorological Centre, stasiun cuaca yang berbasis di Singapura yang melacak titik api kebakaran hutan di seluruh wilayah.

Hanya lima ada titik api (hotspot) yang terdeteksi di Malaysia. Jumlah itu sangat jauh jika dibandingkan dengan Indonesia dengan lebih dari 1.500 titik kebakaran, sehingga Malaysia mengklaim kabut asap di Serawak kiriman dari Indonesia.

Artikel Asli