7 Dampak Ledakan di Beirut Lebanon

Kompas.com Dipublikasikan 04.05, 05/08 • Nur Fitriatus Shalihah
AFP/STR
Helikopter memadamkan api di lokasi ledakan di kawasan pelabuhan di Beirut, Ibu Kota Lebanon, Selasa (4/8/2020). Sebanyak 73 orang tewas dan ribuan lainnya dilaporkan terluka dari insiden dua ledakan besar yang mengguncang Beirut tersebut.

KOMPAS.com - Ledakan besar terjadi di Beirut, ibu kota Lebanon, pada pukul 18.07 sore waktu setempat.

Ledakan tersebut menurut Perdana Menteri Hassan Diab disinyalir disebabkan oleh 2.750 ton amonium nitrat.

Pupuk itu, imbuhnya disimpan selama bertahun-tahun dalam gudang di tepi laut. Kepala keamanan umum Libanon mengatakan zat itu telah disita bertahun-tahun lalu.

Baca juga: Ledakan di Beirut Lebanon Disebut Mirip Peristiwa Bom Hiroshima

Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari ledakan di Beirut tersebut?

1. Korban jiwa

Menurut beberapa media luar negeri seperti New York Times, CNN, dan The Guardian menyebutkan jumlah korban tewas akibat ledakan di Beirut, Lebanon tersebut mendapai 78 orang.

Dikutip CNN, Rabu (4/8/2020), Menteri kesehatan Lebanon menyebutkan selain puluhan korban jiwa, setidaknya 4.000 orang mengalami luka-luka.

Jumlahnya terus naik dan korban luka berdatangan ke rumah sakit.

Salah satu yang meninggal adalah sekretaris jenderal partai politik Kataeb, Nizar Najarian.

Sementara itu kepala perusahaan listrik milik negara Kamal Hayek dalam kondisi kritis.

Baca juga: Ledakan di Lebanon Akibatkan 73 Orang Tewas, #Beirut dan #PrayforBeirut Trending di Twitter

2. Fasilitas kesehatan rusak parah

Dilansir New York Times, Selasa (4/8/2020), Rumah Sakit St. George di Beirut Tengah (salah satu kota terbesar di Beirut), mengalami kerusakan yang sangat parah sehingga harus ditutup.

Letak rumah sakit itu diketahui tidak jauh dari pusat ledakan.

Pihak rumah sakit bahkan terpaksa mengirim pasien ke tempat lain. Lusinan pasien dan pengunjung terluka oleh puing-puing yang jatuh dan kaca yang beterbangan.

"Setiap lantai rumah sakit rusak. Aku tidak pernah melihat ini, bahkan selama perang. Ini bencana," kata Kepala Hematologi dan Onkologi Anak RS St. George Dr. Peter Noun.

Baca juga: Update Virus Corona di Dunia 5 Agustus: 18,6 Juta Orang Terinfeksi | Ledakan Guncang Lebanon di Tengah Pandemi Corona

Beberapa pasien yang terluka adalah anak-anak penderita kanker.

Selain itu, Rumah Sakit Bikhazi Medical Group juga mengalami kerusakan parah. Rumah sakit tersebut memiliki 60 tempat tidur dan merawat 500 pasien, beberapa jam setelah ledakan.

"Rumah sakit ini memiliki banyak kaca pecah, pintu masuk rumah sakit benar-benar hancur," kata Direktur rumah sakit Rima Azar.

Dia juga mengatakan langit-langit jatuh menimpa beberapa pasien. Dia mengatakan ledakan Beirut begitu mengerikan. Setelah mendengar ledakan, lalu semuanya bergetar.

Baca juga: Mengapa Indonesia Kerap Dilanda Gempa Bumi?

3. Menghasikan gelombang seismik

Dilansir CNN, Rabu (5/8/2020), ledakan di Beirut begitu kuat sehingga menghasilkan gelombang seismik yang setara dengan gempa berkekuatan 3,3 magnitudo.

Data tersebut dikumpulkan oleh the United States Geological Survey.

Ahli geofisika di Pusat Informasi Gempa Bumi Nasional Don Blakeman mengatakan sebagian besar energi ledakan masuk ke udara dan bangunan.

Jika ledakan itu terjadi di bawah permukaan bumi, besarnya akan lebih tinggi.

Baca juga: Ledakan di Beirut, Lebanon dan Dugaan Sumber Penyebabnya…

4. Istana Baabda rusak

Ledakan itu juga menimbulkan kerusakan besar pada Istana Baabda, kediaman resmi presiden Lebanon.

Istana kepresidenan Lebanon Grand Serail mengalami kerusakan. Bangunan itu berjarak sekitar 1 mil (1,6 kilometer) dari lokasi ledakan.

Banyak landmark, termasuk rumah sakit, masjid, gereja, dan universitas terdekat juga terdampak.

Baca juga: Heboh soal Ledakan di Beirut, Lebanon, di Manakah Persis Beirut dan Seperti Apa Kotanya?

5. Rumah sakit kewalahan

Palang Merah Lebanon mengatakan bahwa setiap ambulans yang tersedia dari Lebanon Utara, Bekaa dan Lebanon Selatan dikirim ke Beirut untuk membantu pasien.

Akan tetapi rumah sakit begitu kewalahan sehingga mereka mengirim pasien terluka ke rumah sakit lain. Termasuk Rumah Sakit Universitas Amerika.

Pasien diangkut ke rumah sakit di luar Beirut karena mereka yang ada di kota itu berkapasitas.

Baca juga: Ledakan di Beirut, Lebanon Disinyalir Berasal dari 2.750 Ton Amonium Nitrat, Apa Itu?

6. Hari berkabung nasional

Perdana Menteri Hassan Diab mengumumkan bahwa Rabu akan menjadi hari berkabung nasional Beirut.

Kepresidenan Lebanon mengatakan di Twitter bahwa Presiden Michel Aoun telah menginstruksikan militer untuk membantu.

Selain itu juga menyerukan pertemuan darurat Dewan Pertahanan Tertinggi, yang menyatakan Beirut sebagai daerah bencana.

Menteri Kesehatan Masyarakat Hamad Hassan mengumumkan bahwa kementeriannya akan menanggung biaya perawatan yang terluka di rumah sakit.

Baik rumah sakit yang memiliki kontrak dengan kementerian dan juga yang tidak.

Baca juga: Mengenang 17 Tahun Ledakan Bom JW Marriott Jakarta

7. Krisis ekonomi

Ledakan yang mengguncang ibu kota Lebanon, Beirut, menghantam negara itu pada waktu yang mengerikan.

Negara itu telah berurusan dengan protes anti-pemerintah yang sporadis sejak akhir tahun 2019.

Banyak yang marah dengan kelas politik yang berkuasa di negara itu dan korupsi endemik.

Kerusuhan yang terjadi kemudian memaksa mantan Perdana Menteri Saad Hariri untuk mengundurkan diri, tetapi tidak menyelesaikan masalah yang mendasarinya.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Resesi Ekonomi, Dampak, dan Penyebabnya…

Perekonomian Lebanon seperti negara lainnya di dunia yang terdampak pandemi Covid-19. Lockdown atau pembatasan di Lebanon memperburuk krisis keuangan yang sudah berlangsung lama di negara itu.

Lebanon gagal bayar utangnya untuk pertama kalinya, menyebabkan harga makanan melambung dan lira Lebanon anjlok.

Sebelum pecahnya Covid-19, Bank Dunia memproyeksikan bahwa 45 persen orang di Lebanon akan berada di bawah garis kemiskinan pada tahun 2020.

Menurut Menteri Sosial Ramzi Musharrafie sekarang pemerintah percaya bahwa hingga 75 persen orang membutuhkan bantuan.

Baca juga: Berikut Syarat Pembukaan Kembali Sekolah di Tengah Pandemi

Penulis: Nur Fitriatus ShalihahEditor: Sari Hardiyanto

Artikel Asli