Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Dimitri

Kompasiana Dipublikasikan 00.18, 09/01 • Mochamad Syafei
Pixabay.com
Pixabay.com

Pixabay.com

Anggi berdiri gemetar karena tiba-tiba saja berdiri seorang laki-laki bertubuh tegap di hadapannya. Beberapa detik Anggi berhenti bernapas. 

Kejadian itu sudah berlalu dua tahun, tetapi Anggi masih mengingat peristiwa itu dengan jelas. Seperti sebuah peristiwa yang terjadi kemarin sore. 

"Kamu sudah sarapan?" tanya Riona, Mama Anggi mengingatkan Anggi yang memiliki kebiasaan buruk malas sarapan. Kecuali dipaksa hingga Anggi tidak lagi bisa berkutik kecuali melakukan rutinitas membosankan itu. 

Anggi hanya mengangguk sambil menyambar tasnya. "Berangkat dulu, Ma."

"Hati-hati. Jangan lupa mampir ke dokter Ridwan. Mama sudah meneleponnya semalam."

"Kenapa harus ke dokter lagi, Ma?"

"Lakukan saja, sayang."

 Berarti nanti tidak bisa lagi pergi bersama Nola. Berarti kehilangan lagi momen yang sudah direncanakan minggu lalu itu. Nola pasti akan marah. Kecuali Anggi menyampaikan alasannya kenapa dia membatalkan acara itu. 

"Kamu sudah dua kali membatalkannya, Nggi!" Anggi harus menghadapi protes perempuan setengah dewa itu. Tak apa. Semua pasti ada jalan keluarnya. Setiap rumah pasti memiliki pintu, toh? 

Hari ini Anggi tak perlu buru buru ke kantor. Anggi ingin mampir dulu ke rumah Vita. Ada satu video yang harus dilihat dulu sebelum ditayangkan. Tinggal Anggi yang belum memberi kata persetujuan. 

Sebuah motor mendadak keluar dari gang. Nyaris Anggi menabraknya. Untung refleks kakinya masih oke. Hanya saja sepeda motor di belakang tak bisa berbuat sama. Ada suara benturan. 

Ketika Anggi keluar dari mobil, benar juga. Bagian belakang mobilnya penyok cukup dalam karena ditabrak motor tersebut. 

"Kita ke kantor polisi saja ya, Pak. Biar saya bisa klaim asuransi. Motor bapak juga dapet ikut diperbaiki dengan gratis, " kata Anggi yang langsung membuat bapak bapak itu tersenyum. 

"Motor saya tidak apa apa, Bu. Saya tak mungkin berpisah dengan motor ini. Kalau berpisah berarti akan berakibat kami berdua tak bisa makan, " jawab bapak pengendara motor dengan sopan. 

Anggi tak bisa memaksa. Setiap orang punya kehidupan masing-masing. Tak boleh melihat kehidupan orang lain dari kacamata sendiri. Mungkin motor itu justru merupakan jantung kehidupan bapak itu dan keluarganya. 

(Bersambung) 

Penulis : Mochamad Syafei

Artikel Asli