6 Rumah Oksigen Siap Layani Warga Pontianak yang Terdampak Kabut Asap

kumparan Dipublikasikan 06.40, 17/09/2019 • Hi!Pontianak
Fasilitas Rumah Oksigen di Puskesmas Alianyang, Pontianak. Foto: Lydia Salsabila/Hi!Pontianak

Hi!Pontianak - Kabut asap masih menyelimuti Kota Pontianak dan sekitarnya. Oleh karena kualitas udara di Pontianak sudah memasuki kategori tidak sehat, Pemerintah Kota Pontianak menyediakan enam Rumah Oksigen bagi warga yang menderita gangguan pernapasan atau sesak napas akibat kabut asap karhutla.

Wali Kota Pontianak, Edi Kamtono, dalam kunjungannya ke salah satu Rumah Oksigen di Puskesmas Alianyang, Selasa pagi (17/9), mengatakan layanan ruangan bebas asap itu bersifat gratis dan dibuka selama 24 jam setiap hari.

"Di Rumah Oksigen, kita akan menyediakan pemberian oksigen secara langsung kepada masyarakat yang merasa sesak napas. Kedua, ada nebulizer. Itu alat untuk melegakan pernapasan luar. Rumah oksigen ini diperuntukkan dalam waktu 24 jam sebagai pertolongan darurat," kata Edi kepada wartawan.

Edi berharap masyarakat yang merasakan sesak napas bisa langsung segera dibawa ke Rumah Oksigen. Tujuannya, agar bisa ditangani secara cepat.

Wali Kota Pontianak, Edi Kamtono. Foto: Dok: Lydia Salsabila/Hi!Pontianak

Selain di Puskesmas Alianyang, layanan Rumah Oksigen juga tersedia di Dinas Kesehatan, Puskesmas Kotabaru, Puskesmas Perumnas 1, Puskesmas Kampung Dalam, dan Puskesmas Siantan Hilir. Rumah Oksigen akan dibuka hingga kabut asap berkurang, dan akan ditambah jika kabut asap semakin membahayakan.

"Untuk satu Rumah Oksigen ini, bisa menampung 1-2 orang, dilihat dari ketersediaan dan jumlah tabung oksigen. Rata-rata setiap Puskesmas menyediakan satu atau dua tabung oksigen. Kalau di Dinas Kesehatan ada lima tabung. Sesuai dengan kebutuhan, jika kabut asap makin membahayakan, kami akan tambah Rumah Oksigen. Kita juga menyediakan dokter yang bisa di panggil 24 jam," ujar Sidiq Handanu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak.

Handanu mengatakan, di Kota Pontianak, dari minggu ke-36 tahun 2019, sudah ada 1.090 orang warga yang terserang ISPA. Kemudian di minggu ke 37, tercatat naik menjadi 1.100 warga.

"Untuk kondisi normal, tidak ada asap, rata-rata menyampai 600 hingga 900 pasien. Kemudian dengan adanya dampak asap ini meningkat 200 hingga 300, belum sampai dua kali lipat. Yang kita waspadai selain ISPA di musim kemarau ini, (sakit) mata dan diare. Tapi laporannya belum ada. Laporan sampai dirawat juga belum ada. Kita sudah koordinasi dengan pihak rumah sakit, jika ada penyakit akibat dampak dari kabut asap ini, langsung melapor ke Dinas kesehatan," ungkapnya. (hp6)

Artikel Asli