6 Penyebab Dokter Putuskan Persalinan Caesar Darurat

kumparan Dipublikasikan 10.32, 22/10/2019 • Yufienda Novitasari
Ilustrasi operasi caesear. Foto: Pixabay

Tak semua wanita bisa menjalani persalinan yang sesuai harapannya. Bila memiliki harapan untuk bisa melahirkan secara normal atau tanpa operasi misalnya.

Ya Moms, meski sebelumnya dokter optimis Anda bisa melahirkan normal, bisa saja saat waktunya bersalin nanti ia tiba-tiba memutuskan untuk melakukan operasi caesar darurat. Hal seperti ini mungkin terjadi karena beberapa alasan medis yang membuat dokter perlu melakukan prosedur persalinan caesar darurat.

Jika sudah begitu, tak perlu sedih atau kecewa. Persalinan caesar darurat pada dasarnya dilakukan untuk keselamatan Anda dan bayi.

Ilustrasi Bayi Lahir melalui Operasi Caesar Foto: Pixabay

Nah Moms, sebagai ibu hamil, Anda perlu tahu beberapa alasan dokter memutuskan untuk melakukan prosedur persalinan caesar darurat.

  • *Fetal distress *

Ilustrasi janin usia 9 bulan. Foto: Shutterstock

Penyebab paling umum dilakukannya operasi caesar darurat adalah fetal distress atau gawat janin. Gawat janin sendiri disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya adalah janin yang tidak mendapatkan oksigen yang cukup.

Kondisi tersebut ditandai dengan berat janin yang rendah, pasokan oksigen melalui tali pusat berkurang, dan adanya iritasi pada paru-paru janin. Jika ibu mengalami kondisi ini, maka melahirkan melalui operasi caesar adalah jalan keluar terbaik, Moms.

  • Tali pusat yang masuk ke serviks

Kondisi saat tali pusat masuk ke serviks disebut dengan prolaps umbilical cord. Hal ini jarang terjadi, namun ketika terjadi, operasi caesar darurat akan dilakukan.

Prolaps tali pusat terjadi ketika tali pusat menyusup melalui serviks dan menjulur dari vagina sebelum bayi lahir. Ketika rahim berkontraksi, kondisi tersabut menyebabkan tekanan pada tali pusat, yang mengurangi aliran darah ke bayi.

  • *Solusio plasenta *

Plasenta Foto: Pixabay

Solusio plasenta adalah pemisahan plasenta dari lapisan rahim yang biasanya terjadi pada trimester ketiga. Menurut penelitian, sekitar 1 persen wanita hamil mengalami solusio plasenta.

Ibu hamil akan mengalami pendarahan dan rasa sakit di rahim. Pemisahan ini dapat mengganggu oksigen sampai ke bayi. Pada kondisi ini, dokter biasanya akan melakukan operasi caesar darurat.

  • Ruptur uteri

Ruptur uteri adalah kondisi yang terjadi ketika ada robekan pada dinding rahim. Sesuai dengan namanya, komplikasi melahirkan berupa rahim robek ini dapat membuat seluruh lapisan dinding rahim robek, sehingga membahayakan kesehatan ibu dan bayinya.

Tidak menutup kemungkinan, ruptur uteri dapat mengakibatkan perdarahan hebat pada ibu dan bayi tertahan di dalam rahim. Jika mengalami kondisi ini, dokter akan segera melakukan operasi caesar untuk menyelamatkan ibu dan bayi.

  • Preeklampsia

Ilustrasi preeklampsia Foto: Shutter Stock

Tekanan darah yang tinggi menjelang persalinan, bisa dikategorikan sebagai preeklampsia. Preeklampsia adalah sebuah sindrom yang ditandai dengan adanya tekanan darah tinggi saat hamil. Tanda-tanda preeklampsia lainnya adalah ibu memiliki kelebihan protein di dalam urine, dan adanya pembengkakkan di kaki, tangan dan wajah.

Jika ibu mengalami kondisi ini, persalinan caesar harus segera dilakukan. Memaksakan kehendak untuk melahirkan normal justru bisa membahayakan keselamatan ibu.

  • Kegagalan dalam proses persalinan

Kegagalan dalam proses persalinan normal dapat terjadi karena beberapa alasan. Misalnya saja, ketika serviks belum membesar sepenuhnya, persalinan melambat atau berhenti, atau bayi tidak dalam posisi optimal.

Kondisi tersebut membuat dokter memutuskan untuk melakukan persalinan caesar darurat. Hal ini dapat didiagnosis dengan benar saat ibu hamil berada dala fase kedua, yaitu saat sudah terjadi pembukaan 5 atau lebih.

Artikel Asli