50 First Dates

Cinemags Dipublikasikan 13.26, 05/08/2020 • nuty laraswaty
Review - 50 First Dates 01

Katanya, cinta itu butuh pengorbanan. Namun, apakah pembuktian pengorbanannya harus dilakukan dengan membuat sang kekasih jatuh hati kembali dengan kita setiap harinya? Mungkin engga harus segitunya juga, tapi hal itulah yang dilakukan Henry Roth (Adam Sandler) dalam film 50 First Dates, demi membuktikan rasa cintanya terhadap Lucy Whitmore (Drew Barrymore) yang tak kunjung habis.

50 First Dates merupakan film garapan Peter Segal, yang bercerita tentang usaha keras Henry Roth dalam membuat Lucy Whitmore jatuh cinta kepadanya. Kecelakaan mobil parah yang dialami Lucy satu tahun lalu membuatnya mengidap suatu kondisi yang disebut Goldfield’s Syndrome. Kondisi ini mengakibatkan Lucy tidak dapat mengingat satu kejadian pun yang terjadi setelah kecelakaan itu.

Lucy masih memiliki memori hari-hari yang ia jalani sebelum kecelakaan. Namun, Lucy tidak dapat menambahkan memori baru dalam otaknya. Ingatan Lucy akan terhapus dengan sendirinya saat ia tidur. Setiap bangun tidur, Lucy berpikir bahwa hari yang sedang ia jalani merupakan tanggal 13 Oktober, hari di mana Lucy mengalami kecelakaan hebatnya. Setelah kecelakaan, Lucy menjalani kehidupan setting-an yang telah disiapkan sedemikian rupa oleh ayah dan kakaknya. Setiap harinya, Lucy sarapan di restoran yang sama, membaca koran yang sama, dan menonton pertandingan American football yang sama. Semuanya terpaksa dilakukan karena Lucy “terjebak” pada tanggal 13 Oktober.

This is it, this is the perfect girl. I could get endless one-night-stands anytime I want to! No strings attached!” mungkin merupakan pikiran yang sering terbesit di kepala cowok-cowok jahat yang siap mengambil keuntungan dari kondisi yang dialami Lucy. Yaa…mau gimana lagi, kondisinya Lucy emang pas banget bagi mereka yang cuma mau bersenang-senang, dan tidak siap dengan komitmen. Tapi itu bukan Henry Roth; bermodal tekad, dokter hewan ini melakukan hampir segalanya demi membuat Lucy jatuh hati kepadanya. Meskipun keesokan harinya, Lucy tidak akan mengenali Henry lagi. Secara sadar dan dengan kepala jernih, Henry mengulangi proses yang sama setiap harinya dengan tujuan mengambil hati Lucy. Meski hasil yang ia peroleh tidak selamanya menyenangkan.

Ditolak secara mentah-mentah oleh Lucy, diusir dari restoran, dan bahkan dilarang untuk menemui Lucy oleh ayahnya, pernah dialami oleh Henry dalam perjuangannya mendapatkan cinta Lucy. Namun, penolakan memang tidak pernah membuat Henry berhenti mencoba. Setiap hari, Henry datang dengan cara baru yang siap untuk mengejutkan Lucy. Dengan ketekunannya, Henry pun akhirnya berhasil mendapatkan Lucy.

Lucy seperti kedatangan malaikat dalam hidupnya. Setiap hari, ia disadarkan oleh Henry bahwa hidupnya adalah sandiwara belaka. Lucy lalu memulai sebuah jurnal yang mencatat cukup detail mengenai hari-harinya setelah bertemu dengan Henry. Lucy juga mendokumentasikan berbagai kencan mereka melalui video agar ia dapat mengingat Henry keesokan harinya.

Sebelum bertemu Lucy, Henry memiliki rencana besar untuk berlayar ke Alaska guna meneliti perilaku anjing laut. Suatu pagi, Lucy tidak sengaja mendengar rencana Henry tersebut. Lucy paham bahwa dirinya hanya menghambat Henry dalam karir dan hidupnya. Lucy yang menganggap Henry tidak akan memiliki masa depan dengannya pun memutuskan untuk menghapus Henry secara sepenuhnya dari jurnalnya. Setelah itu, Lucy memulai jurnal baru.

Henry terpaksa hidup dengan keputusan Lucy tersebut, dan memutuskan untuk melanjutkan pelayarannya. Belum lama berlayar, sembari mendengarkan lagunya dengan Lucy dulu, rindu berat yang melanda akhirnya membuat Henry kembali dan menemui Lucy. Henry terkejut saat melihat studio lukis Lucy yang penuh dengan lukisan wajahnya. Ternyata, selama ini Lucy mengingatnya! Henry dan Lucy akhirnya menikah dan dikaruniai seorang anak. Henry juga berhasil meyakinkan Lucy untuk ikut dalam pelayarannya ke Alaska.

Ya, film ini memang hanya mendapat rating 6.8 di IMDB. Tapi, film ini beneran layak untuk ditonton, koq. Karena tipe-tipe film feel-good yang “engga terlalu mencoba” untuk jadi bagus seperti ini, tuh, rasanya lebih mudah untuk dinikmati. Memento versi romance ini berhasil membuat penulis yang engga demen “cinta-cintaan,” jadi lebih menghargai hal-hal cheesy yang ternyata disukai banyak perempuan.

Film berdurasi 99 menit ini cocok ditonton saat bersantai di hari Minggu, apalagi bersama pacar. Tapi tenang; untuk moviegoer yang bukan tipe romantis, mungkin segala yang dilakukan Henry untuk Lucy di film ini cukup banget untuk mendeskripsikan apa itu cinta, pengorbanan, dan akar-akarnya. Jadi, bisa sekalian belajar juga dos and don’ts dalam sebuah hubungan.

Dan, lagu-lagu yang masuk dalam soundtrack film 50 First Dates juga enak-enak banget. Karena berlatar di Hawaii, film ini banyak mengambil lagu-lagu bernuansa tropis dan juga beberapa lagu reggae. Siap banget untuk membuat audiens ngomong jengjet sambil ngangguk-ngangguk! [Fiqar Galih]

Artikel Asli