5 Pengakuan Blak-blakan Dian Sastro soal Autisme pada Anak Sulungnya

Kompas.com Dipublikasikan 02.37, 24/08/2019 • Dian Reinis Kumampung
KOMPAS.com/IRA GITA
Dian Sastrowardoyo berbicara dalam jumpa pers Samsung Galaxy Team Asian Games 2018 di Hotel Atlet Century, Jakarta Pusat, Rabu (11/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Artis peran Dian Sastrowardoyo blak-blakan menceritakan anak sulungnya, Shailendra Naryama Sastraguna Sutowo yang pernah didiagnosis autisme.

Hal itu diungkapkan Dian Sastro dalam jumpa pers Special Kids Expo (SPEKIX) 2019 yang digelar di Jakarta Convention Centre (JCC), Jakarta Pusat, Jumat (23/8/2019).
1. Awal kecurigaan
Awalnya, Dian mulai curiga ketika putranya masuk usia enam bulan. Pada usia itu, Shailendra tak menunjukkan tujuh tanda yakni ketertarikan, menunjuk, kontak mata lebih dari dua detik, memberi reaksi ketika dipanggil, mengikuti arahan, dan bermain sandiwara.

"Dari seven signs itu ada ciri dalam anak saya. Hal ini terjadi di anak pertama saya, anak laki-laki. Anak saya itu enggak punya ketertarikan untuk main sama anak lain, mungkin dia memang anti sosial karena bapaknya juga enggak terlalu banyak temannya. Misalnya gitu," kata Dian.

Putranya itu harus 'meminjam' tangan Dian jika ingin menunjukkan sesuatu. Shailendra juga tidak bisa meniup lilin hingga usia 2 tahun.

Saat itu Dian juga sedih karena putra sulungnya tak bisa kontak mata dengannya.
2. Bawa ke tiga dokter
Setelah melihat beberapa tanda itu, Dian lantas memutuskan untuk membawa ke dokter tumbuh kembang.
"Akhirnya kami bawa ke dokter tumbuh kembang dan bawa ke psikolog. Opini satu dokter doang enggak percaya, masih denial," ujar Dian.

Tak percaya dengan satu dokter, Dian membawa ke tiga dokter yang lain.
"Setelah cek ke tiga dokter, ternyata benar (berkebutuhan khusus). Itu anak saya baru umurnya 8 bulan," ungkap Dian.
3. Jalani terapi
Setelah mengetahui hasil yang valid, sejak berusia 10 bulan, putra Dian lantas menjalani terapi khusus.
"Akhirnya kita membuka diri melakukan intervensi, terapi okupasi, wicara, dan perilaku," ungkap Dian.
Terapi demi terapi dilakukan untuk putra sulungnya agar bisa berinteraksi seperti anak lain.

4. Stop terapi usia 6 tahun
Setelah menjalani terapi khusus, kondisi Shailendra pun membaik.
"Kabar baik, dengan intervensi yang lumayan early dari umur delapan bulan saya terapi secara nonstop, ada sampai empat tahun," ungkap Dian.
Terapi sejak dini itu terbukti mampu membuat putra Dian dinyatakan tak perlu ikut terapi saat berusia 6 tahun.
"Di umur enam tahun anak saya sudah dianggap enggak perlu terapi lagi. Saat ini anak saya sudah kelas 3 SD, dari kelas 1 SD sudah enggak terapi lagi dan bisa berfungsi dengan baik," kata Dian lagi.

5. Normal seperti anak lain
Kini, anak sulung Dian sudah bisa berinteraksi layaknya anak normal.
"Dengan semua pengorbanannya tapi alhamdulillah sekarang semuanya pay off (terbayar). Jadi semua ternyata ada hasilnya. Anak saya sekarang sudah tidak begitu dan alhamdulillah normal 100 persen layaknya berprilaku seperti anak normal lain," kata Dian.
Untuk itu, Dian menghimbau pada semua ibu agar percaya pada instingnya dan memeriksakan anaknya pada ahli bila memiliki tanda-tanda autisme.
"Dan itu saya lumayansad story karena enggak semua anak ceritanya sesukses saya. Ada juga anak yang early intervention dan hasilnya enggak secepat saya. Saya tuh dari umur 8 bulan sekarang umur 6 tahun lepas terapi semua sama sekali," ujar Dian. 

Penulis: Dian Reinis KumampungEditor: Dian Maharani

Artikel Asli