5 Kesalahan Mama Saat Menyusui Pertama Kali, Sering Tidak Disadari

Popmama.com Dipublikasikan 03.00, 13/12/2019 • Anindita Budhi
Freepik/Zilvergolf

Menyusui bayi boleh dibilang sebagai sesuatu yang alamiah. Sudah menjadi kodrat bagi Mama untuk menyusui si Kecil begitu ia terlahir ke dunia.

Maka, sejak kehamilan Mama biasanya sudah mulai membekali diri dengan berbagai pengetahuan seputar menyusui. Namun, tak jarang semua pengetahuan itu meluap begitu saja saat Mama memeluk si Kecil pertama kalinya.

Faktor kelelahan pasca persalinan dan hormon yang belum stabil membuat Mama lupa pada semua teori menyusui yang pernah dibaca. Pada akhirnya, menyusui memang proses learning by doing, tidak bisa sekadar dibaca tanpa dipraktikkan langsung.

Wajar kok kalau saat pertama kali menyusui Mama melakukan kesalahan. Supaya Mama lancar menyusui, simak dulu 5 kesalahan menyusui pertama kali hasil penelusuran Popmama.com.

1. Menganggap produksi ASI sedikit

Freepik/rawpixel.com

Benar bahwa tidak semua Mama yang baru melahirkan bisa langsung memproduksi ASI dalam jumlah melimpah. Melihat ASI baru keluar setetes dua tetes, Mama sering langsung khawatir produksi ASI sedikit.

Padahal, pasca melahirkan produksi ASI memang belum banyak, Ma. Apalagi, ukuran lambung bayi baru lahir pun sangat kecil dan ia masih lebih banyak tidur.

Perlu Mama tahu, produksi ASI berdasar pada prinsip supply and demand. Pasca persalinan, Mama dan bayi sama-sama tengah berada dalam masa penyesuaian antara produksi dan kebutuhan ASI. Ada Mama yang produksi ASI masih sedikit, ada pula Mama yang memiliki ASI banyak hingga hiperlaktasi.

Seiring waktu, produksi ASI Mama akan bisa menemui seberapa kebutuhan bayi, jika Mama sering menyusui si Kecil. Daripada terburu-buru memberikan susu formula, lebih baik Mama coba maksimalkan produksi ASI supaya semakin stabil dengan cara menyusui dan pompa payudara.

2. Posisi pelekatan belum tepat

pixabay/PublicDomainPictures

Kalau Mama merasa sakit saat menyusui, jangan berhenti memberikan ASI pada bayi. Perhatikan kembali bagaimana posisi pelekatan payudara pada bayi.

Posisi pelekatan yang kurang pas membuat bayi hanya mengempeng pada bagian puting Mama saja. Proses pengisapan ASI pun kurang maksimal dan puting Mama terluka karena gesekan lidah bayi.

Bagaimana mengetahui posisi pelekatan sudah pas? Bagian bawah aerola payudara harus tertutupi bagian bawah mulut bayi, sehingga posisi puting payudara tepat berada di langit-langit mulut bayi.

Mama juga dapat memerhatikan gerakan mulut bayi ketika mengisap payudara. Pelekatan benar ditandai dengan pipi bayi menggembung, gerakan menelan yang konstan, dan telinga bayi juga bergerak naik turun.

3. Membiarkan payudara bengkak dan tersumbat

Pixabay/Pexels

Salah jika mengira payudara penuh dan bengkak itu tanda produksi ASI banyak. Justru Mama harus mengeluarkan ASI dari payudara dalam kondisi demikian guna memperlancar produksi ASI tanpa membuat payudara nyeri.

Hal ini kerap terjadi pada Mama yang mengalami hiperlaktasi atau produksi ASI berlebih. Jika dibiarkan, Mama bisa mengalami mastitis: payudara keras dan bengkak, serta tubuh demam.

Maka, pastikan payudara Mama selalu dalam keadaan kosong. Mama bisa menyusui bayi sesuai permintaan bayi atau memompa ASI secara berkala untuk mengurangi rasa tidak nyaman tersebut.

4. Mengabaikan rasa lapar dan haus

Pexels/Public Domain PIcture

Mama sering kan merasa sangat lapar dan haus setiap kali usai menyusui? Jangan diabaikan, Ma! Segera minum air putih dan makan begitu menyusui selesai. Ini penting guna menjaga tubuh Mama tetap terhidrasi baik dan payudara bisa memproduksi ASI kembali.

Maka, biasakan menaruh segelas air putih dan camilan di sekitar tempat Mama menyusui di rumah. Mama boleh menyediakan camilan favorit untuk mengisi perut atau langsung makan besar guna memastikan Mama siap menyusui si Kecil pada sesi berikutnya.  

5. Bingung memilih produk ASI booster

Pexels/Jenna Hamra

Jujur saja, seberapa sering Mama berpikir untuk membeli produk ASI booster yang dijual di pasaran? Apalagi, masing-masing produk mengklaim diri dapat membuat aliran ASI lebih deras dan produksi ASI meningkat.

Bicara tentang ASI booster, ternyata bukan hanya aneka suplemen, minuman, atau makanan tertentu, Ma. ASI booster itu bisa berbentuk apa saja, selama hal itu dapat membuat Mama happy tanpa bikin kantong bolong.

Harganya juga nggak harus mahal kok, Ma. Sebagai contoh, Mama bisa mengandalkan pijatan Papa di bagian punggung untuk memperlancar produksi ASI atau disebut juga pijat oksitosin.

Lalu, banyak makanan murah meriah dan sehat yang bisa Mama santap sebagai ASI booster. Mulai dari semangka, jeruk, kacang hijau, telur, hingga sayuran hijau. Atau Mama cukup menyantap makanan favorit Mama di rumah, seperti sepiring nasi hangat dan telur dadar. Enak!

Sudah tahu kan apa saja kesalahan menyusui yang biasa dialami? Jangan sampai kesalahan itu membuat Mama menyerah memberikan ASI eksklusif ya. Menyusuilah dengan keras kepala demi mengupayakan nutrisi terbaik untuk tumbuh kembang si Kecil. Happy breastfeeding!

Artikel Asli