5 Kebiasaan Buruk Atasan yang Membuat Pegawai Cepat Resign

Womantalk.com Dipublikasikan 09.34, 16/09/2019 • womantalk.com

Anda baru naik jabatan ke posisi yang lebih tinggi? Jangan puas dulu, posisi baru berarti tanggung jawab baru. Terlebih jika Anda memiliki bawahan, tanggung jawab di kantor tentu tidak main-main. Tidak hanya menjaga kualitas kerja anak buah, Anda juga perlu menjaga agar team work tidak kekurangan personel akibat adanya pegawai yang hengkang dari kantor. Selain mampu melumpuhkan kinerja tim, perusahaan juga harus mencari karyawan baru, yang tentunya bukan hal sepele.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang memutuskan untuk resign walau belum lama bekerja, salah satunya atasan yang menyebalkan. Seperti beberapa kebiasaan buruk berikut ini yang perlu Anda hindari agar bawahan lebih betah.

1. Sering berubah pikiran
Hari ini maunya A, besok berubah jadi B. Hasilnya, pekerjaan harus direvisi untuk menyesuaikan perubahan dari atasan. Kebiasaan seperti ini yang sering membuat karyawan menjadi kesal. Selain membuat karyawan kebingungan, sifat plin-plan pada atasan juga membuat proses kerja menjadi lebih lambat. Sebaiknya, tentukan sejak awal apa yang diinginkan agar tidak banyak perubahan selama proses pengerjaan.

2. Ekspektasi terlalu tinggi
Anda membawahi tim berisi 10 orang, tapi harus mengerjakan proyek yang semestinya memerlukan tenaga lebih dari itu? Menetapkan target yang terlalu tinggi, sementara sumber dayanya kurang, dapat membuat karyawan menjadi kewalahan dan sulit mencapai ekspektasi. Terlalu sering lembur di kantor demi memenuhi permintaan atasan juga bukan hal yang baik, lho. Ingat, work-life balance juga perlu diperhatikan agar pegawai tetap semangat bekerja.

3. Kurang menantang
Menetapkan ekspektasi terlalu tinggi, memang tidak baik. Namun, ekspektasi terlalu rendah juga tidak baik. Karyawan akan lebih cepat resign jika setiap hari hanya mengerjakan pekerjaan yang terlalu mudah dan berulang-ulang, sehingga terasa membosankan. Kasus ini juga kerap terjadi pada pegawaifresh graduate atau anak magang. Dianggap kemampuannya masih belum tinggi, tugas yang diberikan pun hanya yang mudah-mudah saja. Alhasil, mereka pun lebih banyak "gabut" alias gaji buta selama di kantor.

4. Buang-buang waktu
Hari ini meeting, besok meeting, lalu kapan kerjanya? Seringkali, topik yang didiskusikan dalam meeting cukup dibahas melaluiemail yang hanya memakan waktu beberapa menit saja. Meeting yang terlalu lama dan bertele-tele hanya akan buang-buang waktu. Lebih baik waktunya dialokasikan untuk menyelesaikan pekerjaan lain, kan?

5. Menempatkan karyawan di posisi yang salah
Kurang memahami kemampuan karyawan dapat menyebabkan hasil kerja yang kurang efektif. Kualitas kerja tidak hanya ditentukan oleh skill yang tercantum di CV saja, tetapi juga kebiasaan dan perilaku karyawan. Karyawan yang pemalu dan sulit bersosialisasi, tentu tidak bisa disamakan dengan karyawan yang bersemangat dan mudah membangun koneksi. Konsep the right man in the right place sangat perlu diaplikasikan di kantor.

(Sumber cover: Health Spectator)

Artikel Asli