5 Isu Perempuan yang Tersirat dalam Film Perempuan Tanah Jahanam

kumparan Dipublikasikan 13.11, 23/10/2019 • Avissa Harness
Teaser poster ‘Perempuan Tanah Jahanam’, film horor terbaru garapan Joko Anwar. Foto: Istimewa

Bagi para penyuka film horor dan penggemar Joko Anwar tentu tak akan melewatkan Perempuan Tanah Jahanam. Film yang telah tayang di bioskop Indonesia sejak 17 Oktober lalu ini berhasil ditonton oleh 500 ribu orang hanya dalam waktu empat hari saja.

Perempuan Tanah Jahanam sendiri bercerita tentang seorang perempuan muda bernama Maya yang kembali dari kota ke desa tempat asalnya. Tanpa sepengetahuan Maya, penduduk di kampung halamannya ternyata telah mencarinya sejak lama untuk mengakhiri sebuah kutukan yang disebabkan oleh keluarga Maya.

Diperankan oleh Tara Basro, Marissa Anita, Christine Hakim, dan Asmara Abigail, film ini memang mendapat banyak pujian dari pencinta film. Joko dinilai mampu menghadirkan film horor tanpa menghadirkan karakter hantu yang menyeramkan seperti film horor pada umumnya.

Namun ada satu hal yang menarik perhatian kumparanWOMAN saat menyaksikan film ini. Yaitu hadirnya tokoh-tokoh perempuan yang sangat kuat dengan karakter yang berbeda-beda, serta kentalnya isu-isu perempuan yang digambarkan lewat adegan maupun dialog dalam film ini.

Memang, Joko Anwar sebagai seorang penulis skenario dan sutradara terkenal selalu menghadirkan unsur perempuan yang sangat kental dalam setiap film garapannya, yaitu: perempuan hamil dan berasal dari kelas menengah ke bawah. Dalam Perempuan Tanah Jahanam, isu yang diangkat juga soal kutukan yang terjadi pada ibu hamil.

Kehadiran perempuan hamil dalam setiap film Joko Anwar dianggap sebagai penanda kegelisahannya akan kondisi perempuan dan keluarga melalui tokoh perempuan.

Mengutip kumparanHITS, Joko Anwar juga selalu memilih menghadirkan tokoh perempuan yang bisa mengontrol diri dan tubuhnya sendiri. Ia menolak patuh pada pandangan umum bahwa perempuan adalah makhluk lemah yang harus patuh pada laki-laki sebagai pelindungnya. Hal ini juga sangat terlihat dalam adegan-adegan yang diperankan oleh empat aktor utamanya dalam Perempuan Tanah Jahanam.

Maka tak heran jika Joko sendiri berani melabeli filmnya sebagai film-film feminis. “Jadi semua film saya bisa dibilang: feminis,” ungkap Joko Anwar dalam wawancara khusus bersama kumparan.

Lalu seberapa feminis film Joko Anwar kali ini dan isu-isu perempuan seperti apa yang kali ini diangkat dalam Perempuan Tanah Jahanam?

Perempuan tidak hanya sekadar jadi aksesori dalam film

Asmara Abigail di film 'Perempuan Tanah Jahanam' Foto: Dok. Poplicist Publicist

Jika secara global pelaku industri hiburan tengah memperjuangkan kesetaraan gaji antara laki-laki dan perempuan, Joko Anwar dengan caranya sendiri selalu berusaha untuk menjadikan perempuan sebagai tokoh utama atau karakter penting dalam film-filmnya.

Pada Perempuan Tanah Jahanam sendiri, meski jumlah laki-laki yang terlihat cukup banyak, namun ceritanya berfokus pada empat perempuan yang masing-masing memiliki peranan penting dalam alur cerita film. Mereka adalah Maya (Tara Basro), Dini (Marissa Anita), Nyi Misni (Christine Hakim), dan Ratih (Asmara Abigail).

Empat perempuan ini memiliki karakter berani, kuat dan memiliki rasa cinta yang besar untuk sahabat dan keluarga. Kecuali Nyi Misni, karakter lainnya cukup mampu menunjukkan bahwa perempuan harus saling mendukung satu sama lain.

Dari karakter-karakter tersebut kita bisa melihat bahwa posisi perempuan dalam film tidak lagi sekadar menjadi aksesori atau pemeran pendukung saja.

Belajar berani mengambil risiko dari Maya dan Dini

Foto adegan film Perempuan Tanah Jahanam Foto: Base Entertainment

Karakter Maya dan Dini merupakan dua perempuan yang berani mengambil risiko dalam hidup.

Selalu hidup dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan sejak kecil dan tidak pernah kenal dengan orang tuanya, Maya tumbuh menjadi perempuan yang kuat dan mandiri. Setelah mengalami kejadian buruk yang berkaitan dengan masa lalunya saat menjadi penjaga pintu tol, Maya memutuskan untuk resign dan merealisasikan impiannya berbisnis baju dengan sahabatnya Dini yang juga bekerja sebagai penjaga pintu tol.

Dini sendiri merupakan sahabat yang sangat supportive. Ia mendukung apapun keputusan Maya. Bahkan ia rela keluar dari pekerjaannya untuk berbisnis baju di pasar bersama Maya.

Keduanya juga berani meninggalkan bisnisnya sementara dan pergi ke desa asal Maya untuk mencari tahu perihal harta warisan milik keluarga Maya. Mereka berani memakai uang hasil dagangan dengan harapan bisa mendapat harta yang lebih banyak dari warisan tersebut.

Selain itu, di pertengahan film saat identitas Maya hampir terungkap, Dini juga yang melindungi Maya. Ia rela mengambil risiko dengan mengaku sebagai Maya yang berujung membuat dirinya berada dalam bahaya besar.

Melihat pelecehan seksual yang nyata dialami oleh perempuan sehari-hari

Poster film 'Perempuan Tanah Jahanam'. Foto: Instagram @jokoanwar

Seperti yang sudah kita ketahui, hingga saat ini masih banyak sekali perempuan yang mengalami pelecehan atau kekerasan seksual. Baik itu dalam ranah profesional maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Pada film Perempuan Tanah Jahanam, Joko Anwar seakan ingin menggambarkan kondisi bagaimana perempuan di kalangan kelas bawah dan di desa dalam menghadapi pelecehan seksual yang kerap dilakukan oleh laki-laki.

Misalnya saat Maya dan Dini sedang istirahat dan nongkrong di toilet perempuan untuk merokok, ada laki-laki yang tiba-tiba nyelonong masuk ke area kamar mandi perempuan. Kedua perempuan tersebut sontak kaget dan memerintahkan agar pria tersebut untuk pergi dan menegaskan bahwa itu adalah area perempuan.

Scene tersebut menunjukkan bahwa dengan dominasi dan kekuatannya, laki-laki bisa berlaku semena-mena. Padahal meskipun pekerja pasar, bukan berarti perempuan bisa diperlakukan seenaknya.

Pada scene lainnya, tokoh Ratih yang diperankan oleh Asmara Abigail juga mendapat pelecehan seksual dari seorang pria yang menganggap Ratih adalah perempuan hamil yang lemah dan kesepian karena ditinggal suaminya pergi ke kota. Dengan enaknya, pria tersebut menawarkan diri untuk meniduri Ratih sambil membanggakan alat kelaminnya. Namun Ratih berani melawan dengan menyayat pahanya sendiri lalu meletakkan pisau di lehernya dan mengancam akan bunuh diri. Scene tersebut menunjukkan masih ada anggapan bahwa perempuan di desa itu tidak berdaya.

Tak hanya itu, saat Dini tengah dikejar oleh dua warga laki-laki karena ia mengaku sebagai Maya, tokoh yang diperankan oleh Marissa Anita ini merasa ketakutan dan tertekan. Kondisi tersebut membuatnya pasrah karena ia berpikir dirinya akan diperkosa. Ia menantang pria-pria tersebut untuk meminta saja dengan baik apa yang mereka mau dan dia rela menyerahkan diri untuk disetubuhi jika itu memang niatnya. Kerap kali, reaksi spontan dari perempuan ini disalahartikan oleh para laki-laki. Mereka menganggap dengan begitu si perempuan benar-benar setuju dirinya diperkosa. Maka tak heran jika dalam banyak kasus dalih ‘mau sama mau’ menjadi ‘senjata’ para laki-laki.

Pentingnya peran ibu dalam sebuah keluarga

Christine Hakim di Perempuan Tanah Jahanam Foto: YouTube Base Indonesia

Dalam kehidupan rumah tangga, ibu memiliki peranan yang penting. Mulai dari mengurus anak dan suami, mengatur keuangan rumah tangga, hingga memastikan keluarganya mengkonsumsi makanan yang sehat.

Lebih dari itu, ibu juga bisa memberi pengaruh bagi masa depan anak-anaknya dan perjalanan karier suami. Oleh karena itu, jika si ibu memiliki pengaruh yang positif, maka keluarga dan lingkungan di sekitarnya juga bisa menghasilkan perubahan yang baik. Namun sebaliknya, jika ibu tidak memiliki pemikiran yang negatif maka dampaknya akan buruk juga bagi sekitarnya.

Sama halnya seperti yang diperlihatkan oleh karakter Nyi Misni yang diperankan oleh Christine Hakim. Nyi Misni merupakan seorang ibu yang kuat dan cinta pada keluarganya. Saking cintanya Nyi Misni pada anak laki-lakinya, Ki Saptadi (Ario Bayu). Ia tak rela anaknya dijadikan selingkuhan oleh Nyai Shinta (Faradina Mufti), istri dari ayah Maya, Ki Donowongso (Zidni Hakim).

Nyi Misni kemudian membuat Ki Saptadi lupa ingatan setelah bercinta dengan istri Ki Donowongso dan mengutuk anak yang dikandung oleh Nyai Shinta. Singkat cerita, kutukan itu menyebar hingga menjadi wabah selama puluhan tahun bagi setiap bayi yang lahir di Desa Harjosari, tanah kelahiran Maya.

Saling mendukung sesama perempuan

Istilah perempuan harus saling mendukung perempuan lainnya tersirat pada hubungan persahabatan Maya dan Dini, serta ikatan yang terbentuk di antara Maya dan Ratih dalam Perempuan Tanah Jahanam.

Kesediaan Dini untuk menemani Maya saat harus bekerja sendirian di malam hari, membantu Maya saat menghadapi bahaya di gerbang pintu tol, keputusannya berhenti bekerja dan berbisnis dengan sahabatnya, serta keinginannya untuk menemani Maya pergi ke Desa Harjosari menggambarkan bentuk women supporting women in real life harusnya seperti apa.

Begitu juga dengan Ratih. Meski awalnya ia terlihat rentan, namun tak disangka ternyata Ratih adalah perempuan yang berani. Ia menolong dan melindungi Maya saat semua orang ingin membunuhnya. Bahkan setelah ia tahu bahwa suaminya ditembak mati oleh polisi karena menyerang Maya, Ratih tetap membantunya. Ia juga yang menggagalkan pembunuhan Maya.

Lewat tokoh Ratih, kita bisa melihat bahwa apapun yang terjadi, perempuan harus mendukung. Walaupun tidak semua kondisi bisa disamakan, namun daripada saling menjatuhkan satu sama lain, perempuan memang seharusnya saling mendukung untuk bisa mendapatkan kesejahteraan dan kesetaraan sesuai dengan haknya.

Artikel Asli