5 Fakta Seputar Vaksin Corona Produksi Indonesia, Termasuk Telan Biaya Rp 65 Triliun

Merdeka.com Dipublikasikan 00.00, 09/08

                Vaksin Corona Covid 19. ©2020 Merdeka.com
Saat ini dunia tengah berlomba memproduksi vaksin virus corona, tak terkecuali Indonesia. Terbaru, Rusia mengklaim uji coba vaksin mereka menghasilkan seluruh sukarelawan menunjukkan kekebalan pada virus corona. Sementara di Indonesia, perusahaan BUMN, Bio Farma mengumumkan dimulainya uji klinis tahap ketiga.

Saat ini dunia tengah berlomba memproduksi vaksin virus corona, tak terkecuali Indonesia. Terbaru, Rusia mengklaim uji coba vaksin mereka menghasilkan seluruh sukarelawan menunjukkan kekebalan pada virus corona.

Sementara di Indonesia, perusahaan BUMN, Bio Farma mengumumkan dimulainya uji klinis tahap ketiga vaksin Covid-19 dari Sinovac China pada Kamis (6/8). Sebelumnya, sebanyak 2.400 dosis vaksin dari Sinovac, China, sudah tiba di Bio Farma pada tanggal 19 Juli 2020.

Uji klinis vaksin Covid-19 ini dilaksanakan di Pusat Uji Klinis yaitu di Fakultas Kedokteran UNPAD, yang akan mengambil sample sebanyak 1.620 subjek dengan rentang usia antara 18 – 59 tahun, dengan kriteria-kriteria tertentu. Sedangkan sisa dari vaksin tersebut, akan digunakan untuk uji lab di beberapa lab antara lain di Bio Farma dan Pusat Pengujian Obat Dan Makanan Nasional (PPOMN).

Hasil dari uji klinis diharapkan didapatkan akhir tahun. "Saat ini dengan Sinovac dari China kita telah menerima vaksin uji klinis yang telah dimulai diharapkan akhir 2020 kita mendapat hasil uji klinis," kata Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kartika Wirjoatmodjo.

Berikut sejumlah fakta seputar vaksin virus corona di Indonesia. Mulai dari proses produksi hingga penyuntikannya nanti.

1. Pemerintah Dipastikan Telah Siapkan Anggaran

Ketua Satuan Tugas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan pemerintah telah mengalokasikan anggaran di 2021 untuk pengadaan vaksin virus corona (Covid-19). Selain untuk vaksin, dia juga meyakinkan pemerintah telah menyiapkan ruang fiskal yang memadai untuk penyaluran stimulus dalam penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi nasional pada RAPBN 2021.

"Pemerintah juga mengamati kemungkinan adanya vaksin. Tapi kami persiapkan, kalau implementasinya butuh waktu kami memastikan bahwa untuk tahun depan kita memiliki ruang fiskal yang cukup," kata Budi.

2. Jika Lolos Uji Klinis, 40 Juta Vaksin Corona Bio Farma Siap Dipakai Awal 2021

Ketua Tim Pemulihan Ekonomi dan Penanganan Covid-19, Erick Thohir, menyebut Bio Farma tengah menyelesaikan uji klinis tahap 3 vaksin Sinovac asal China. Jika pelaksanaannya lancar, pihaknya optimistis bisa segera memproduksi vaksin Covid-19 dan menyuntikkan 30 hingga 40 juta vaksin di awal tahun 2021 ke masyarakat Indonesia.

"Kalau ini benar semua, Januari-Februari kita bisa menyuntikkan sampai kurang lebih 30-40 juta vaksin," ujar Menteri Erick.

3. Penyuntikan Vaksin Telan Biaya Rp 65,9 T

Ketua Tim Pemulihan Ekonomi dan Penanganan Covid-19 Erick Thohir menyebut bahwa proses penyuntikan vaksin di Indonesia membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Berdasarkan estimasinya, diperlukan biaya sekitar USD 4,5 miliar atau Rp65,9 triliun (asumsi kurs Rp14.671) untuk membeli vaksin, memproduksinya hingga menyuntikkannya ke 160 sampai 190 juta masyarakat Indonesia.

"Kalau harganya USD 15 per vaksin, jadi berapa? Anggaplah 300 juta (vaksin) kali USD 15 berarti sudah USD 4,5 miliar," ujar Erick.

Perkiraan anggaran tersebut termasuk biaya pembelian vaksin, biaya jarum suntik hingga anggaran tenaga kerja.

4. Biaya Suntik Vaksin Ditanggung Negara

Ketua Tim Komite Pemulihan Ekonomi dan Penanganan Corona, Erick Thohir, memastikan proses pengadaan dan imunisasi vaksin Covid-19 akan menjadi program pemerintah. Dengan demikian, biaya imunisasi juga akan menjadi tanggungan pemerintah.

Menurutnya, jika masyarakat harus membayar untuk vaksin, maka akan terjadi celah antara golongan atas dan golongan bawah. "Saya takutnya kalau nanti dibebaskan, kaya dan miskin ada lagi dong. Nanti yang kaya duluan yang disuntik karena pada bayar duluan. Kan tidak bisa sperti itu," katanya.

Nantinya jika vaksin sudah siap, pihaknya akan memetakan terlebih dahulu daerah mana yang diprioritaskan untuk dilakukan penyuntikan. Menurut dia, penyuntikan vaksin akan dilakukan terhadap daerah yang sudah rawan terlebih dahulu, misalnya Jawa Timur, Sulawesi Selatan atau Sumatera Utara.

"Selama ini sudah digaungkan ada 8 daerah yang terus tinggi. Nah apakah daerah seperti Labuan Bajo, NTT tidak perlu diimunisasi? Ya harus tapi mungkin tidak di bulan pertama. Mungkin bulan pertama mungkin Jatim, Sulsel, atau Sumut yang pada saat ini masih tinggi," katanya.

 

Artikel Asli