426 Janda Baru di Aceh Utara, Ini Penyebabnya

Tagar.id Dipublikasikan 09.48, 11/08
426 Janda Baru di Aceh Utara, Ini Penyebabnya

Lhokseumawe - Angka perceraian di Kabupaten Aceh Utara tergolong tinggi, terhitung sejak Januari hingga Juli 2020, Mahkamah Syariah Lhoksukon, sudah menangani 426 perkara perceraian.

Dari 426 perkara perceraian tersebut, 334 perkara merupakan cerai gugatan, yaitu diajukan oleh istri.

Humas Mahkamah Syariah Lhoksukon, Aceh Utara, Wafa mengatakan, kasus perceraian yang terjadi di kota yang dikenal dengan sebutan Petro Dollar itu, di dominasi oleh faktor perekonomian.

"Dari 426 perkara perceraian tersebut, 334 perkara merupakan cerai gugatan, yaitu diajukan oleh istri, sementara 92 perkara cerai talak, suami yang mengajukan perceraian tersebut," ujar Wafa, Selasa, 11 Agustus 2020.

Baca juga:

  • BCL dan 4 Artis Janda Muda Bikin Pria Merem Melek
  • Enggan Menikah Muda, Anya Geraldine Takut Jadi Janda
  • Janda 40 Tahun di Bone Sulsel Dilamar Rp 100 Juta
  • Kisah Janda Kembang Kudus Jual Tanah Bonus Istri

Wafa menambahkan,  selain karena faktor perekonomian, perceraian tersebut juga disebabkan karena persoalan narkoba, sehingga sang istri lebih memilih untuk bercerai.

Selama pandemi Covid-19 ada mengalami penurunan, karena karena selama Covid-19 Makamah Syariah Lhoksukon,  tidak menerima perkara tatap muka, serta untuk melakukan upaya perdamaian antara dua pihak sangat kecil.

Apabila dilihat dari pengalaman perkara, maka di Aceh sangat kuat terjadi cerai di bawah tangan atau cerai di desa, sehingga ketika datang ke mahkamah syariah hanya untuk mengurus surat perceraian saja.

"Maka ketika pihak mahkamah syariah ingin melakukan mediasi, pasangan tersebut langsung megatakan kalau mereka bercerai dan tidak mungkin untuk kembali lagi, jadi kalau sudah begitu tidak mungkin lagi dilakukan mediasi," tutur Wafa.

Dia menambahkan, tingginya angka perceraian di bawa tangan tersebut, bisa saja disebabkan karena kurangnya sosialisasi hukum, maka kedepannya Pemerintah Daerah agar bisa melakukan sosialisasi ke setiap desa.

"Saya sudah tiga tahun di sini tidak pernah berhasil melakukan mediasi, namun diluar Aceh banyak berhasil," kata Wafa. []

Artikel Asli