3 Alasan Manchester United Harus Bersabar Mempertahankan Ole Gunnar Solskjaer

Bola.com Diupdate 04.00, 15/10/2019 • Dipublikasikan 04.00, 15/10/2019 • Ario Yosia
FOTO: Daniel James Cetak Gol, MU Gagal Kalahkan Southampton
Pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, memberikan instruksi kepada Aaron Wan-Bissaka pada laga Premier League di Stadion St Mary's, Southampton, Sabtu (31/8). Kedua klub bermain imbang 1-1. (AP/Mark Kerton)

Bola.com, Jakarta - Ole Gunnar Solskjaer ditunjuk menjadi manajer interim Manchester United setelah Jose Mourinho dipecat. Setelah memenangkan 14 dari 18 pertandingan pertamanya, Solskjaer kemudian diangkat sebagai manajer permanen pada bulan Maret.

Namun, nasib manajer asal Norwegia itu sekarang sudah berubah drastis. Setan Merah sekarang kesulitan setelah hanya memenangkan empat dari 17 pertandingan terakhirnya.

United sudah mencatatkan start terburuk mereka dalam 30 tahun terakhir. Mereka hanya menang dua kali dari delapan pertandingan pertama mereka di Premier League.

Alhasil, Setan Merah saat ini duduk di urutan ke-12 di klasemen sementara Premier League. Mereka bahkan terpaut dua poin di belakang zona degradasi.

Performa Marcus Rashford di lapangan sangat mengerikan. Sebagian penggemar sudah tidak menginginkan Solskjaer di Old Trafford.

Manajemen Setan Merah masih memberikan dukungan penuh kepada Solskjaer. Namun, jika hasilnya tidak membaik dalam waktu dekat, Solskjaer mungkin akan bernasib seperti Mourinho.

Konon, memecat Solskjaer tidak akan menyelesaikan masalah Manchester United. Berikut ini tiga alasan mengapa United harus tetap bertahan dengan sang baby face seperti dilansir Sportskeeda.

Bisa Menyajikan Permainan Sepak Bola Menyerang ala Fergie

Ole Gunnar Solskjaer dan Michael Carrick memberikan instruksi dalam sesi latihan Manchester United di Stadion Nasional Singapura. (International Champions Cup/Suhaimi Abdullah)

Manchester United memainkan sepak bola terbaik mereka selama beberapa tahun terakhir ketika Solskjaer pertama kali diangkat sebagai manajer sementara di Old Trafford. Manajer Norwegia itu mengubah gaya permainan yang digunakan oleh Jose Mourinho dan menerapkan sistem tekanan tinggi, yang memungkinkan mereka bermain lebih banyak di sepertiga akhir.

Sementara Solskjaer benar-benar mengerahkan timnya untuk bermain dalam serangan balik melawan 6 tim teratas dalam laga tandang, ia menempatkan penekanan besar pada penguasaan bola dan memainkan sepakbola yang menarik di Old Trafford. Banyak yang mengatakan bahwa Setan Merah bermain seperti dulu di bawah Sir Alex Ferguson.

Satu-satunya perbedaan antara dulu dan sekarang adalah bahwa ia memiliki pemain yang memiliki kualitas untuk menerapkan gaya permainannya di lapangan dengan sempurna. Setelah menjual beberapa pemain tersebut di musim panas ditambah dengan cedera beberapa pemain kunci, Solskjaer terpaksa memainkan pemain pelapis sehingga mempengaruhi performa di lapangan.

Begitu Solskjaer mendapatkan skuat yang diinginkannya, publik Old Trafford kemungkinan akan menyaksikan kembali meyaksikan gaya permainan yang membuat mereka bergairah selama masa kepemimpinan manajer Norwegia itu.

Pemain Rekrutan Baru Bersinar

Bek baru Manchester United, Aaron Wan-Bissaka (kanan) berusaha melewati pemain Tottenham Anthony Georgiou selama turnamen ICC 2019 di Shanghai (25/7/2019). Bek berusia 21 tahun itu diboyong ke Old Trafford dengan harga 50 juta pound atau sekitar Rp 897 miliar. (AFP Photo/Hector Retamal)

Ketika Solskjaer masuk, hal pertama yang dia lakukan adalah mengubah kebijakan rekrutmen dari memikat pemain bintang menjadi mendatangkan pemain muda dan berbakat. Mereka merekrut Aaron Wan-Bissaka, Harry Maguire dan Daniel James selama musim panas, dan ketiganya sudah membuat dampak besar sejak bergabung dengan klub.

Selain itu, Solskjaer menyingkirkan semua pemain yang kinerjanya buruk, yang diperlukan untuk membersihkan ruang ganti. Sejauh ini, ini merupakan bursa transfer terbaik United selama bertahun-tahun. Namun, manajer Norwegia itu masih menyisakan pemain yang buruk sehingga berdampak pada penampilan di lapangan.

Rekrutan Solskjaer sudah menjadi bintang sejauh ini dan jika diberikan beberapa bursa transfer lagi, dia bisa membangun pasukan muda yang memainkan sepakbola yang menarik dan mampu bersaing dalam perebutan gelar juara.

Mengulang Kesalahan yang Sama

Gelandang Manchester United, Fred, menghindari penjagaan bek Astana, Luka Simunovic, pada laga Europa League di Stadion Old Trafford, Manchester, Kamis (19/9). MU menang 1-0 atas Astana. (AFP/Oli Scarff)

Manchester United sudah melakukan sejumlah pergantian manajer sejak kepergian Sir Alex Ferguson pada 2013. Sejak Mereka sudah menunjuk empat manajer berbeda dengan filosofi yang sangat berbeda. Namun, tak satupun dari mereka diberi waktu dan dukungan untuk membangun skuat yang bisa menantang gelar juara.

Ketika Louis van Gaal ditunjuk, ia menjual sebagian besar pemain berpengalaman dan mencoba membangun pasukan muda dari awal. Namun, dia dipecat sebelum menyelesaikan rencananya meskipun mengangkat Piala FA.

Selanjutnya datang Jose Mourinho, yang membongkar skuad yang disusun oleh Van Gaal untuk mendatangkan pemain yang sesuai dengan filosofinya.

Sekarang Solskjaer yang bertanggung jawab dan dia membentuk skuat yang sesuai dengan gaya permainannya. Ia juga membuang sebagian besar pemain yang biasanya tampil secara teratur di bawah manajer Portugal. Jika Solskjaer dipecat sekarang, manajer berikutnya yang datang akan melakukan hal yang sama dengan pemain tertentu dan lingkaran setan ini akan terus berlanjut.

Petinggi Manchester United tidak boleh mengulangi kesalahan yang mereka buat dengan manajer lainnya. Mereka perlu memberi Solskjaer waktu untuk benar-benar membangun skuat yang mampu menerapkan gaya permainannya di lapangan.

 

Sumber asli: Sportskeeda

Disadur dari: Bola.net (Aga Deta, Published 14/10/2019)

Artikel Asli