Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

DJKI Kemenkumham Rilis POP HC, Pencatatan Karya Cipta Jadi Makin Cepat

Akurat.co Dipublikasikan 06.45, 15/01 • Iim Halimatus Sadiyah
DJKI Kemenkumham Rilis POP HC, Pencatatan Karya Cipta Jadi Makin Cepat
Sistem ini memudahkan kreator untuk melindungi hasil ciptaan secara otomatis.

AKURAT.CO Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (DJKI Kemenkumham) merilis Persetujuan Otomatis Pencatatan Hak Cipta (POP HC).

Melalui POP HC kreator bisa dengan mudah melindungi hasil ciptaannya secara otomatis.

POP HC merupakan sistem yang diciptakan untuk mempercepat proses persetujuan hak cipta yang sebelumnya memakan waktu kurang lebih satu hari (one day service) menjadi dalam hitungan menit.

Sistem ini diluncurkan bersamaan dengan pencanangan 2022 sebagai Tahun Hak Cipta.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Razilu mengatakan, adanya POP HC merupakan salah satu bentuk nyata dukungan terhadap percepatan ekonomi nasional.

Khususnya untuk mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, seni dan sastra.

Melansir dari laman DJKI Kemenkumham, cara untuk mengajukan pencatatan hak cipta, yaitu dimulai dengan membuka situs hakcipta.dgip.go.id.

Setelah itu, pengguna bisa membuat akun dengan mengisi form yang telah tersedia. Simpan username dan password yang sudah didaftarkan, jangan sampai hilang atau lupa. 

Selanjutnya, buka email yang pemohon gunakan untuk membuat akun hak cipta dan cari email verifikasi. Klik tautan yang ada dalam email tersebut. Kemudian, pemohon bisa kembali ke laman permohonan hak cipta untuk login.

Setelah login, pilih menu Hak Cipta, pilih Permohonan Baru. Lalu, pemohon bisa mengunduh Surat Pernyataan pada pop up yang muncul pertama kali. 

Pemohon akan menemukan formulir permohonan hingga lampiran yang perlu diunggah ke permohonan digital ini. Adapun lampiran yang wajib diunggah, antara lain KTP pemohon, Surat Pernyataan, dan contoh ciptaan.

Pastikan pemohon mengisi setiap kolom dan lampiran dengan benar. Jika pemohon sudah yakin seluruh data yang diisi sesuai dengan karya yang ingin dicatatkan, maka klik submit. 

Setelah selesai, lakukan pembayaran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) melalui bank sesuai dengan nominal tertera dan masukkan kode billing saat pembayaran.

Setelah pembayaran dilakukan, maka sistem akan segera memproses pengajuan pemohon dalam beberapa menit. 

Terhitung sejak soft launching yang dilakukan pada 20 Desember 2021, saat ini POP HC sudah berhasil mencatatkan 9.110 permohonan. Sistem ini sudah mulai dirintis sejak tahun 2014. Sebagai implementasi dari Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Kemudian, aplikasi e-HakCipta dilaunching (mulai digunakan) pada tanggal 4 Maret 2015.

Sebelum era pencatatan secara elektronik (online), Hak Cipta diajukan berdasarkan permohonan melalui loket DJKI. Rata-rata waktu penyelesaian permohonan ini antara 6 sampai 9 bulan dengan mengisi formulir dan pembayaran PNBP secara manual melalui loket. 

Kemudian, pada tahun 2015, e-HakCipta diluncurkan dengan waktu proses lebih cepat, yaitu 14 hari kerja.

Namun pada saat itu, pencipta masih harus melampirkan contoh ciptaan secara fisik dan pengamanan dokumen digital juga belum tersedia. Bahkan, layanan pasca permohonan juga tidak tersedia secara online. 

Tiga tahun kemudian, yaitu pada tahun 2018, e-HakCipta sudah mampu melayani pencatatan dalam 1 hari kerja. Layanan seluruhnya sudah dapat dilakukan secara online. Termasuk layanan pasca permohonan. Dokumen digital juga telah mendapat pengamanan bersertifikasi dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

Seiring dengan perkembangan teknologi ponsel pada 2020, sistem ini mendapat pengembangan semakin pesat. Permohonan pencatatan hak cipta pun bisa dilakukan melalui aplikasi berbasis Android (mobile). Dengan begitu, pemohon dapat melakukan permohonan hanya melalui ponsel. 

Dari seluruh perjalanan panjang perkembangan sistem pencatatan hak cipta tersebut, aplikasi ini mendapat penghargaan TOP 40 dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Birokrasi melalui Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik. Tema yang diusung adalah "Pencatatan Hak Cipta Online Dengan Teknologi Kriptografi". 

Pada tahun 2019, aplikasi e-HakCipta juga menjadi wakil Indonesia di ajang "Public Service Exhibition, IT Based Public Service Innovation with Citizen Engagement, ASEAN-ROK Commemorative Summit 2019, Busan Korea.

Selain itu, aplikasi e-HakCipta juga direncanakan akan diadopsi oleh The African Regional Intellectual Property Organization (ARIPO) sebagai wujud South-South Cooperation. 

Artikel Asli