Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Dilema Anak Tunggal: Mengurus Orang Tua Atau Jadi Malin Kundang

Tidak punya pilihan lain, mau enggak mau anak tunggal harus merawat orang tuanya. Hal yang membuat mereka tertekan dan seharusnya menjadi pilihan.

Sekitar pukul 11 malam, saya turun dari taksi online. Kemudian berjalan ke arah pintu rumah milik ibu dan bapak, sambil menghela napas berat. Perasaan terpenjara kembali menyergap. Mengingat hari-hari berikutnya akan dihabiskan sendirian lagi di kamar.

“Kalau setiap hari bisa bareng temen-temen, kayaknya hidup lebih seru,” batin saya.

Setelah berhasil membuka pintu, saya disambut kegelapan. Hanya tersisa lampu dapur yang meninggalkan tanda-tanda kehidupan. Seperti memenangkan lotre, saya bersyukur dan menghembuskan napas panjang. Artinya, ibu dan bapak udah tidur.

Kaki ini bergegas ke lantai dua, menuju ruangan berukuran tiga kali tiga—tempat saya banyak berpikir dan merutuk. Sambil menatap langit-langit sampai pukul tiga pagi, saya berusaha menjawab sejumlah pertanyaan yang enggak ada jawabannya.

“Siapa sih yang ngatur, kalau anak harus merawat orang tua?” umpat saya dengan energi tersisa.

Katanya, ketika anak dewasa, kita bertukar peran dengan orang tua. Setelah mereka berkorban untuk merawat dan mendukung, giliran kita yang melakukannya.

Tapi, ekspektasi yang dibentuk masyarakat itu sebenarnya membebankan. Setidaknya bagi saya sebagai anak tunggal. Dari kacamata seorang anak yang enggak punya saudara kandung untuk berbagi “beban”, perihal merawat orang tua seharusnya jadi pilihan. Bukan terdaftar dalam tugas kehidupan yang wajib dikerjakan.

Lagi pula, apa faedahnya kalau dilakukan dengan setengah hati?

Mungkin sebagian orang akan menilai saya durhaka. But it seems impossible when there’s an elephant in the room. Peneliti Grzegorz Ignatowski aja mengungkap, hal itu hanya bisa dilakukan dengan satu syarat.

“Anak harus berdamai dengan kenyataan, kalau mereka harus mengorbankan waktu luangnya, teman-teman, dan hiburan,” tulisnya dalamChildren’s Responsibility for Their Elderly Parents (2015).

Sementara sampai detik ini, waktu luang, teman-teman, dan hiburan, adalah sumber kebahagiaan yang enggak bisa ditemukan di rumah. Saya nggak bisa membayangkan, sampai kapan punya jam malam, harus ikut ke gereja tiap mereka ke gereja, dan terlibat dalam percakapan di meja makan yang dipaksakan.

Sebenarnya pertanyaan di atas akan terjawab, kalau saya memutuskan hidup sendiri. Pun beberapa waktu belakangan, sudah ada pertimbangan untuk ngekos. Itung-itung belajar mandiri, walaupun tujuan utamanya terlepas dari jeratan sel yang enggak terlihat ini.

Masalahnya, kalau niat itu diusulkan, yang terlibat dalam percakapan bukan hanya saya bersama ibu dan bapak. Tapi juga bude, pakde, dan para sepupu yang mendadak jadi hakim.

Kenyataannya, beberapa kali mereka berusaha mematahkan ambisi saya, yang ingin melanjutkan sekolah di luar negeri. “Ngapain jauh-jauh? Emangnya enggak kasihan sama ibu bapak?” bujuk mereka.

Bisikan-bisikan penuh rasa bersalah itu, bikin saya merasa peran anak enggak lebih dari merawat orang tuanya. Sialnya, berulang kali selalu berhasil menjebak, dan bikin maju mundur tiap menyusun rencana hidup.

Pernah suatu siang, saya sedang memasak ketika ibu menghampiri. Ia menceritakan salah satu hal yang mengganggu pikiran bapak. Katanya, bapak mempertanyakan, siapa yang akan merawatnya kalau saya pindah ke luar kota atau negeri.

“Terus ibu jawab apa?” tanya saya, penasaran.

“Pak, bukan tanggung jawab anak untuk ngerawat orang tua,” tutur ibu, mengutip jawabannya ke bapak.

Meski bernapas lega, rasanya hati saya seperti kertas yang baru saja diremas, dan dilempar ke sudut ruangan. Saya yakin betul, jawaban ibu hanya berusaha memberikan perspektif lain untuk bapak. Padahal, ia memiliki kekhawatiran yang sama.

Pasalnya, sejak saya remaja, mereka selalu mengatakan akan ikut tinggal dengan saya, atau setidaknya tinggal berdekatan. Bahkan, bolak-balik mengingatkan untuk enggak mencontoh anak tetangga atau saudara yang meninggalkan orang tuanya, demi menjalankan hidup baru. Otomatis, saya sering berpikir memilih jalan hidup sendiri, sama dengan perilaku Malin Kundang ke ibunya.

Menjauh dari Orang Tua

Numpang hidup di lantai dua rumah milik ibu bapak, sepertinya ungkapan yang tepat untuk mendeskripsikan kondisi saya sejak (terpaksa) kembali ke rumah. Keputusan itu diambil, setelah pemerintah meminta masyarakat beraktivitas dari rumah karena pandemi Covid-19.

Kebebasan yang dimiliki seperti dirampas begitu saja. Jika tadinya mau pulang tengah malam atau pagi hari sekalian, sekarang harus kembali mengikuti aturan di rumah. Tapi, itu hanya secuil dari masalah yang dihadapi.

Kalau kamu pernah menyaksikan program televisi Penghuni Terakhir (2004), cara peserta berkomunikasi jauh lebih fungsional. Dibandingkan interaksi antara saya, ibu, dan bapak.

Enggak pernah ada obrolan antara saya dengan mereka. Terutama bapak. Paling banter hanya mengingatkan untuk makan, minta bantuan, atau mengusulkan agar saya mendaftar rekrutmen Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Badan Usaha Milik Negara (BUMN)—sebuah usaha yang sampai sekarang bikin saya geleng-geleng.

Bahkan, pekan lalu, ibu seenaknya mendaftarkan saya ibadah di gereja. Tanpa bertanya apakah berkenan, lalu ngomel-ngomel karena saya bangun kesiangan. Padahal, kalau ibu bertanya, saya punya jawabannya: enggak mau.

Tampaknya, semua berawal dari saya yang menjauhkan diri sejak kembali rumah. Seketika ada nilai-nilai yang udah enggak sejalan, dan karakter mereka yang kurang berkenan buat saya—mungkin juga sebaliknya. Berbeda dengan 2017, sebelum saya meninggalkan rumah untuk kuliah di Tangerang Selatan.

Situasi diperparah setelah saya membaca bab pertama The Book You Wish Your Parents Had Read (2019). Dalam buku itu, Philippa Perry mengajak pembaca melihat luka dalam dirinya, dan mencari tahu penyebabnya.

Saat itu juga, saya tahu mengapa insecurity dan incompetence adalah dua hal yang perlu “disembuhkan”. Alhasil, saya marah dan menyalahkan ibu dan bapak. Selama saya bersekolah, mereka enggak pernah memberikan afirmasi dan apresiasi, di luar prestasi akademis.

Penulis Imi Lo menyebutkan, akibatnya setelah dewasa, anak merasa nggak pantas untuk disayang orang lain. Bahkan melewatkan kesempatan itu.

Karena itu, selama dua tahun terakhir setelah kembali tinggal serumah, saya menghabiskan hampir 24 jam dalam seminggu di kamar. Berusaha menahan emosi yang meluap, setiap harus berinteraksi dengan ibu dan bapak.

Mengutip Choosing Therapy, kalau kemarahan itu enggak diselesaikan, hubungan seseorang dengan dirinya sendiri nggak akan harmonis, atau mencapai keseimbangan emosional. Bahkan memengaruhi hubungan interpersonal dan aspek kehidupan lainnya.

Namun, saya sendiri belum berniat untuk rekonsiliasi. Meskipun udah mencari tahu caranya di berbagai situs psikologi, dan bayang-bayang takut penyesalan kerap bikin kedua mata menggenang. Terutama lewat banyak memori yang terlintas.

Bapak yang masih sigap menjemput naik mobil, sejak saya berstatus sebagai murid TK sampai jadi pekerja. Ibu yang menemani di kamar, setiap saya bergadang skripsian dan bekerja sampai larut. Sementara suatu saat nanti, ketika raga mereka tiada, hanya saya yang tersisa dengan ingatan.

Mungkin kondisi ini seperti bom waktu. Kami berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja. Padahal, kami menyakiti satu sama lain dalam diam. Terlihat dari raut wajah bapak, yang enggak sengaja saya tangkap beberapa kali sedang menatap kosong ke luar jendela. Atau ibu yang curhat ke sahabatnya lewat telepon, kalau ia kesepian.

Hal ini yang bikin saya memikirkan kembali, bagaimana saya bisa merawat orang tua kalau tidak ada koneksi di antara kami? Lalu, untuk apa merawat mereka kalau hanya karena tuntutan masyarakat?

Mungkin pertanyaan itu enggak akan terjawab untuk sementara waktu. Tapi, kalau punya anak nanti, saya enggak ingin mereka terbebani dengan masa tua ibu bapaknya. Biarkan mereka tumbuh dewasa dan punya kehidupannya sendiri. Toh enggak ada anak yang minta dilahirkan, apalagi harus menanggung hidup orang tuanya.

Artikel Asli