22 Tempat Wisata Dunia yang Rusak karena Pariwisata, Salah Satunya Bali

Kompas.com Dipublikasikan 15.03, 21/01 • Yana Gabriella Wijaya
ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI
Sejumlah wisatawan asing berjemur di pinggir pantai Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (16/8/2018). Kawasan wisata Mandalika tidak terdampak oleh bencana gempa dan tetap ramai dikunjungi wisatawan asing, pihak ITDC mengundang wisatawan untuk tetap berkunjung ke kawasan pariwisata Lombok yang tidak terdampak gempa sehingga dapat mendukung pemulihan industri pariwisata dan ekonomi masyarakat setempat.

 

KOMPAS.com - Terdapat 22 tempat wisata yang dirusak oleh turis selama dekade terakhir. Tempat wisata yang indah dan amat menarik itu harus terkikis karena ulah turis yang kurang hati-hati.

Ada juga negara yang harus menekan angka kunjungan wisatawan karena takut akan dampak negatif pariwisata massal. 

Baca juga: Turis Rusia ke Indonesia Semakin Meningkat, Ini Destinasi Favoritnya

Dilansir dari Insider, Organisasi Pariwisata Dunia merangkum sejak dekade 2010 lebih banyak orang bepergian dibanding sebelumnya. 

Turis berbondong-bondong datang karena tempat wisata tersebut amat terkenal. Seperti Dubrovnik, Kroasia, yang menghadapi kerusakan disebabkan oleh popularitas acara TV seperti "Game of Thrones".

Selain itu, sampai pada tahun 2020 terdapat laporan jika beberapa wisatawan ditangkap karena merusak sebuah Kuil suci di Machu Picchu. Berikut 22 destinasi yang dirusak oleh turis selama dekade terakhir :

1. Islandia

Terkenal karena "Game of Thrones," "Star Wars," dan video klip Justin Bieber, kini Islandia harus menerima konsekuensinya. Ada kekhawatiran, tentang dampak lingkungan dari peningkatan pariwisata.

Lalu juga dampak pada kualitas hidup bagi penduduk setempat. Hal ini dapat mengarah pada tantangan ekonomi yang serius di negara dengan hanya 360.000 orang. Contohnya keramaian di Blue Lagoon telah dianggap berlebihan oleh beberapa orang.

2. Yunani

Pulau-pulau Yunani seperti Santorini dan Mykonos tampaknya diburu karena pemandangnnya yang Instagrameble. Hal ini disebabkan oleh promosi, untuk memiliki pengalaman Yunani yang otentik kamu harus mengunjungi Santorini dan Mykonos.

Baca juga: 5 Kuliner Lezat dari Yunani, Negeri Para Dewa

3. Ibiza

Jika kamu suka berada di dekat banyak orang, maka Ibiza bisa menjadi tempat yang baik untuk dikunjungi. Ibiza menjadi salah satu tempat favorit untuk berpesta. Matahari, pasir, berselancar, klub menjadi sasaran wisatawan yang berkunjung ke sana.

Belakangan ini, kerumunan turis sangat banyak. Akhirnya orang-orang merekomendasikan untuk pergi ke bagian pulau Spanyol yang tidak memiliki bar dan klub malam.

4. Bali

Ada lelucon di antara beberapa orang di Australia dan Selandia Baru bahwa pulau Bali di Indonesia adalah "Sydney North."

Baca juga: Turis di Bali Keluhkan Masalah Sampah dan Macet

Ben Groundwater dari Traveller.com.au menunjukkan bahwa itu benar-benar dapat terasa seperti itu di Bali. Kamu sepertinya akan mendengar orang mengatakan "g'day" dan "kia ora" ketika bertemu dengan penduduk setempat.

"G'day" adalah bahasa slang dari Australia untuk menyampaikan kata halo. Sedangkan "kia ora" adalah salam selamat datang yang sering diucapkan orang Selandia Baru yang berasal dari bahasa Maori.

 

5. Machu Picchu

Saat ini tempat wisata Machu Picchu membatasi jumlah wisatawan yang ingin berkunjung ke sana setiap hari.

Baca juga: Jangan Ditiru, Turis Ditangkap karena Buang Air Besar di Machu Picchu

Hanya boleh 2.500 orang wisatawan yang masuk selama satu hari, dan tidak boleh lebih dari empat jam. Harga satu tiket masuk untuk orang dewasa juga dibuat lebih mahal, 50 dollar AS atau setara dengan Rp 700.000.

Tercatat di dalam aturannya bahwa tongkat selfie sudah tidak boleh digunakan. Terdapat masalah di awal tahun ini yang dilakukan oleh turis yang dinilai sangat fatal. Enam wisatawan ditangkap setelah kotoran manusia ditemukan di dalam Kuil Suci Matahari.

Lebih banyak turis yang datang pada tahun lalu. Pembangunan bandara internasional bernilai miliaran dolar di Machu Picchu yang akan menjadi alasan membawa pelancong langsung ke situs kuno itu.

Ribuan orang menandatangani petisi untuk menghentikan pembangunan, tetapi pemerintah Peru mengatakan pembangunan akan berlanjut.

6. Gunung Everest

Everest sekarang juga memiliki masalah serius dengan kepadatan penduduk. Dikutip Business Insider awal tahun ini, Alan Arnette, yang telah mempelajari masalah kepadatan selama bertahun-tahun.

Baca juga: Pendakian Kedelapan, Pendaki Asal Jepang Nobukazu Kuriki Tewas di Gunung Everest

"Jumlah hari pendakian yang terbatas, terlalu banyak orang, terlalu banyak orang yang tidak berpengalaman, dukungan yang tidak memadai semua. Itu semua datang bersama-sama dan di sanalah kami melihat sebagian besar kematian," kata Arnette.

Sebelas orang meninggal pada musim pendakian di Everest tahun 2019 . Kebanyakan dari mereka ingin mendapat gambar saat mencapai puncak agar mengejutkan banyak orang lewat instagram.

Meskipun tak sampai puncak juga banyak pendaki melakukan perjalanan ke Everst Base Camp. Mereka meninggalkan beberapa ton sampah dan limbah manusia. 

7. Dubai

Dubai identik dengan kemewahan dan banyak turis. Seperti dilaporkan oleh Gulf Business, Dubai adalah salah satu kota yang paling banyak dikunjungi di dunia. Dubai juga negara tertinggi dalam pengeluaran wisatawan yang dihabiskan di sana.

Dalam sehari wisatawan dapat menghabiskan 553 dollar AS atau setara Rp 7,5 juta per orang per hari.

Baca juga: Liburan ke Dubai saat Ramadhan, Ini 4 Kuliner Lezat untuk Berbuka

Namun semakin tinggi pengeluari wisatawan, berarti ruang pribadi akan bernilai tinggi. Secara harfiah, contohnya siapa pun yang mencoba memesan cabana atau meja di salah satu klub harganya akan sangat mahal.

8. Petra, Yordania

Terkenal berkat film "Indiana Jones" Itu tidak sepenuhnya menguntungkan Petra sampai hari ini.

Puncak dari "Indiana Jones and the Last Crusade" difilmkan di Petra, Yordania. Banyak orang  yang terobsesi memburu harta karun di sana. Hal ini memicu membludaknya angka turis yang datang ke sana.

 

9. Venesia, Italia.

Venesia, Italia, adalah tempat pertama yang dipikirkan banyak orang ketika mereka mendengar kata overtourism atau pariwisata massal.

Baca juga: 10 Foto Tempat Terkenal yang Ternyata Jauh dari Ekspektasi

Begitu banyak cerita yang telah ditulis tentang overtourism. Warga setempat selama bertahun-tahun telah menyatakan rasa takut kota mereka diubah menjadi "Veniceland"  atau atraksi wisata taman bermain.

10. Danau Lucerne, Swiss

Kepadatan juga dirasakan saat berada di Danau Lucerne. Terdapat di banyak fitur dalam ulasan online dari Lucerne dan daerah sekitarnya untuk berkunjung ke sana.

Menurut Swissinfo itu sudah menjadi perhatian untuk sementara waktu. Tidak mengherankan masalah ini sangat akut selama bulan-bulan musim panas yang lebih hangat.

11. Portland, Oregon

Sejumlah besar orang tampaknya berpikir Portland benar-benar tentang musik rakyat , kedai kopi yang unik, dan identik dengan tahun 90-an. Namun sebenarnya banyak orang penduduk setempat yang sudah pensiun. Banyaknya wisatawan justru menggangu ketenangan mereka.

 

12. Dubrovnik, Kroasia

Dubrovnik adalah lokasi pembuatan film yang sangat populer dari"Game of Thrones". Kehidupan nyata Dubrovnik berjuang melawan gerombolan para pengguna Instagra, dan wisatawan yang selfie menggunakan tongkat.

Baca juga: 7 Negara Tempat Syuting Game of Thrones yang Bisa Anda Kunjungi

The Independent melaporkan, satu hal lain yang telah dilakukan adalah membatasi jumlah kapal pesiar yang diizinkan untuk berlabuh setiap hari. Namun mungkin terlalu sedikit untuk menekan angka pengunjung.

13. Forks, Washington, AS

Forks, Washington, masih dibanjiri oleh penggemar film "Twilight". Forks dan Semenanjung Olympic di sekitarnya memiliki keindahan yang hampir supernatural.

Hutan tua yang menjulang tinggi, dengan tanah yang dilapisi oleh lumut yang lembut dan lembab, benar-benar hijau. Dibalik keindahannya, hal yang membahayakan pengunjung adalah adanya beruang dan puma liar.

Baca juga: Cara Mengajukan Visa ke Amerika Serikat

14. Festival Burning Man, di Nevada, AS

Festival Burning Man yang diselenggarakan di Gurun Black Rock, Nevada dinggap sudah terlalu ramai dan komersial. Semakin banyak selebritis, orang-orang yang sangat kaya, dan bahkan orang-orang biasa menghadiri Burning Man setiap tahun di gurun Nevada.

Ada kekhawatiran acara tersebut akan ditutup saking ramainya. Pada edisi terbaru, kamp seharga 100.000 dollar AS per tiket yang disukai oleh para influencer dilarang. Hal ini mengundang reaksi protes dari sesama peserta.

15. Berlin, Jerman

Berlin sempat mendapat julukan "miskin tetapi seksi", seperti dinyatakan mantan Walikota Klaus Wowereit. Banyak wisatawan ingin merasakan kesenangan di Berlin sepenuhnya. Sehingga semua biaya akomodasi di Berlin meningkat.

 

16. Maladewa

Maladewa sekarang identik dengan pelarian tropis yang mewah. Tapi semua bungalow mewah di atas air dipenuhi turis, bukan orang lokal. Independen melaporkan bahwa dampak lingkungan menjadi perhatian.

Kemudian ada masalah perubahan iklim dan naiknya permukaan laut. Banyak dari pulau-pulau negara itu mungkin terendam di bawah air sebelum abad ini berakhir.

Baca juga: Indonesia Peringkat 4 Negara Instagrammable, Lampaui Maladewa dan Jepang

17. La Pelosa di barat laut Sardinia

La Pelosa adalah salah satu pantai terindah di dunia dan karenanya sangat ramai. Sebanyak 6.000 orang mengunjungi pantai pada siang hari di bulan-bulan musim panas.

Untuk menghadapi gelombang wisatawan yang terus meningkat, CNN melaporkan, para pejabat di kota Stintino berencana untuk mulai memungut biaya masuk pengunjung.

Walikota Antonio Diana mengatakan biaya yang dipungut diperkirakan sekitar empat Euro atau setara Rp 60.000. Hal tersebut untuk membantu mengurangi jumlah wisatawan menjadi sekitar 1.500 pengunjung per hari.

18. Maya Bay, Thailand

Maya Bay di Thailand, yang terkenal dengan film Leonardo DiCaprio "The Beach" sempat ditutup karena terlalu banyak wisatawan.

Baca juga: Bangkrut, Plearn Wan Shopping Village di Thailand Tutup Akhir Januari 2020

Maya Bay berhadapan dengan hingga 5.000 wisatawan setiap hari, yang menurut laporan BBC merusak karang asli. Di Filipina, Boracay ditutup karena alasan yang sama, tetapi sejak itu dibuka kembali.

 

19. Hallstatt, Austria

Hallstatt, Austria, adalah tempat lain yang menarik perhatian banyak orang karena Instagram. Terlebih dari pada itu, kota kecil ini menjadi inspirasi di film "Frozen".

Baca juga: Aktivitas Wisata yang Bisa Dilakukan di Hallstatt, Kota yang Menginspirasi Film Frozen

Seperti yang ditulis oleh Insider, salah satu wisatawan yaitu Rachel Hosie membagikan ceritanya. Ketika dia berkunjung, Hallstatt mungkin terlihat seolah-olah langsung dari film "Frozen," tetapi dia berkata tidak.

"Meskipun terdapat bangunan-bangunan yang indah dan pemandangan alami Hallstatt, saya merasa sulit untuk menikmatinya dengan damai dan tenang, dan saya putus asa untuk menemukan tempat yang tidak ditabrak orang," jelas Hosie

20. Taj Mahal, India

Pemerintah India sedang mencoba mengurangi kepadatan pengunjung Taj Mahal. Pihak berwenang mengeenakan denda bagi orang-orang yang berkunjung di Taj Mahal terlalu lama.

Menurut CNN, harga tiket juga telah meningkat. Tetapi kerumunan besar dan para wisatawan mengabaikan hal tersebut. Banyaknya wisatawan berdampak pada kondisi bangunan Taj Mahal.

21. Tangga Bronx, New York, AS

Kerumunan orang yang berkumpul di tangga Bronx yang terkenal di film "Joker" mengganggu kehidupan penduduk setempat.

Baca juga: Warga Bronx yang Terganggu Wisatawan Joker Stairs Dapat Burger Gratis

Tidak semua orang senang dengan banyaknya turis yang berhenti untuk berfoto di tangga. Pasalnya tangga tersebu digunakan penduduk lokal untuk aktivitas setiap hari.

Kadang-kadang ada hal yang membuat penduduk lokal merasa kesal. Pada Oktober 2019, seseorang melempar telur pada orang yang mengambil gambar di tangga.

22. Amsterdam

Tanda "I amsterdam" adalah ikon bagi kota tersebut. Namun pada beberapa tahun lalu, simbol kota Amsterdam itu dicopot.

Alasannya untuk menghindari kepadatan wisatawan yang hadir di sana. Dalam langkah lain, tur distrik lampu merah Amsterdam yang terkenal akan dilarang mulai tahun 2020.

Amsterdam juga menaikkan pajak inap turis, menjadi yang paling mahal se-Eropa. 

Baca juga: Mulai 2020 Menginap di Hotel dan Airbnb Amsterdam Lebih Mahal

Penulis: Yana Gabriella WijayaEditor: Silvita Agmasari

Artikel Asli