Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Pengalaman Berurusan dengan Polisi Prancis yang Tegas dan Humanis

Mojok.co Dipublikasikan 23.36, 20/10 • Bachtiar W. Mutaqin

MOJOK.CO – Polisi Prancis yang saya temui kebetulan ramah dan tegas. Namun, ada juga yang oleh warga diledek dengan istilah Fédération Lamentable des Imbéciles Casqués.

Suatu hari saat libur Natal tahun 2014 di Prancis, saya dan istri dimintai tolong oleh guru kami untuk tinggal di rumahnya sementara dia merayakan Natal bersama orang tuanya di Prancis Selatan. Waktu itu, beliau masih tinggal di Savigny-sur-Orge, desa kecil di selatan Kota Paris, dekat dengan bandara Paris-Orly.

Saat sedang asyik masak untuk makan siang, tiba-tiba ada pesan masuk dari kawan kami yang asli mBantul, Mbak Sundari namanya. Dia bilang kalau ingin berdiskusi secara tatap muka dengan kami. Saya pun segera membalas pesannya, “Saya sedang di rumahnya Pak Guru di Savigny. Kalau kamu mau ke sini, nanti tak kirim alamatnya.” Sundari menyanggupi dan menyatakan kalau dia akan sampai dalam 40 menit.

Setelah Sundari sampai di rumah Pak Guru, selang 10 menit tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Istri saya yang tadi membukakan pintu dengan tergopoh menghampiri saya di dapur. “Mas, itu ada tiga polisi di depan. Tolong kamu aja yang ngadepin, bahasa Prancis kamu kan lebih lancar dari aku,” ucapnya panik. Saya dengan bingung pun segera mengelap tangan dan menuju ke pintu depan.

“Siang Pak Polisi, ada keperluan apa ya?” Tanya saya pada salah satu dari mereka.

“Siang Pak. Maaf sudah mengganggu, ya. Kami mau tanya, apakah Anda melihat ada orang mencurigakan yang masuk ke rumah ini sekitar 10-15 menit yang lalu?”

“Wah, nggak ada, Pak. Kami dari tadi ya cuma bertiga di rumah. Nggak ada siapa pun selain saya, istri, dan teman kami ini,” jawab saya grogi sambil memperhatikan dua polisi lain yang sedang mengelilingi rumah Pak Guru seperti sedang mencari sesuatu.

“Baik kalau begitu Pak. Oh iya, ngomong-ngomong apakah saya boleh lihat identitas Anda, s'il vous plaît (tolong)?”

Saya mengambil KTP Prancis di dompet dan menyodorkan ke polisi itu sambil menjelaskan, “Tentu saja, Pak. Oh iya, ini rumah Pak Guru saya di Sorbonne, saya mahasiswanya. Saat ini beliau lagi liburan dan meminta saya untuk menjaga rumahnya.”

“Terima kasih, ya Pak, mohon maaf mengganggu. Tadi kami menerima laporan dari warga bahwa ada orang mencurigakan yang masuk ke rumah ini. Makanya kami bergegas ke sini menemui Anda. Karena sepertinya tidak ada masalah, kami izin pamit, Pak, Bu, semoga hari kalian menyenangkan,” ucap polisi muda itu sambil mengajak kedua rekannya pergi.

Setelah ketiga polisi itu masuk mobil, saya segera masuk dan menghampiri Sundari. Tentu saja karena sejak awal saya sudah mbatin dan mengetahui penyebab maupun siapa yang sebenarnya dimaksud oleh si warga pelapor maupun polisi tadi. Iya, siapa lagi kalau bukan salah satu warga asli Bangunjiwo: Sundari.

Hasil interogasi kepada Sundari membenarkan hipotesis saya. Ternyata gestur tubuhnya saat mencari nomor rumah Pak Guru sangat mencurigakan dan mirip dengan gerak-gerik pembobol rumah kosong. Ya pantes saja tetangga ada yang lapor polisi. Hadeeeh, cah mBantul… Bikin mak deg mak tratap saja.

Tapi ada kesan kuat yang saya tangkap dari polisi Prancis tadi, yaitu sikapnya yang ramah. Meskipun mungkin ketiga polisi tersebut punya kekuatan untuk memaksa masuk dan memeriksa ke dalam rumah, misalnya, namun mereka tidak melakukannya. Kami hanya berdiskusi santai di pintu depan, cek identitas dilakukan secara sukarela dan cukup dengan KTP, tanpa ada adegan mereka memaksa untuk memeriksa hape saya atau dengan tindak pemaksaan lainnya.

Pengalaman kedua saya dengan polisi Prancis juga mengonfirmasi hal tersebut….

Musim semi 2016, tetangga apartemen saya di Paris yang bernama Ariel, melaporkan laptopnya yang hilang ke polisi. Saat dia sedang menjelaskan kronologinya ke polisi, tiba-tiba Pak Guru (iya, orang yang rumahnya didatangi polisi gara-gara Sundari cah mBantul tadi) mampir seusai joging di sekitar apartemen kami dan dia berhasil mengungkap siapa pelakunya dengan sukses.

Sebagai informasi, apartemen saya dan Ariel itu bersebelahan dengan model bangunan yang sama persis. Bedanya hanya pada posisi pintunya saja. Pintu kami saling berimpitan, di mana punya saya ada di sisi timur bangunan dan punya Ariel di sisi barat.

Nah, saat berangkat joging, Pak Guru ternyata mampir juga ke apartemen kami. Dia numpang ke toilet di apartemen kami, dan sebelum lanjut joging, dia masih sempat memindahkan posisi laptop yang awalnya ada di atas meja kerja ke lokasi yang baru, yaitu di bawah sofa. Sayangnya, dia melakukan semua itu di apartemennya Ariel, bukan di apartemen saya seperti yang dia duga.

Setelah mendengarkan penjelasan dan permohonan maaf dari Pak Guru, polisi yang sedari tadi mencatat hanya menghela nafas. Kalau saya yang jadi polisi itu, pasti sudah mengeluh dan misuh dalam hati. Tapi ya gimana lagi, prosedur di Prancis emang gitu. Semua laporan, termasuk yang bagi kita orang Indonesia mungkin termasuk urusan sepele, harus segera ditindaklanjuti tanpa perlu menunggu viral dulu.

Meskipun demikian, tidak jarang polisi Prancis diejek oleh warganya. Jadi kalau di Prancis, ada beberapa nama lain dari polisi (la police), salah satunya adalah le flic. Kalau kalian masukkan kata itu ke Google Translate, artinya adalah ‘polisi’. Tapi bagi sebagian warga Prancis, flic itu adalah singkatan dari Fédération Lamentable des Imbéciles Casqués.

Untuk yang ini saya nggak mau menerjemahkan. Takut. Nanti Instagram saya di-DM sama humas polisi, dimarahin, terus disuruh ke Polda Prancis Tengah pukul 10 pagi.

Artikel Asli