Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Misteri Rumah Tua

Kompasiana Dipublikasikan 15.31, 11/01 • Aminuddin Sripo
Photo by eberhard grossgasteiger from Pexels
Photo by eberhard grossgasteiger from Pexels

Photo by eberhard grossgasteiger from Pexels

RUMAH itu masih seperti dulu. Terbikin dari kayu dan beratapkan rumbia sedangkan dindingnya berbahan bambu. 

Di sekitar rumah tua itu ada rumah warga yang lain. Letaknya berjauhan sehingga bila malam tiba suasananya berubah hening, sunyi dan mengerikan.

Selewat pukul delapan malam, warga desa tak berani melewati rumah itu. Selain sudah tidak ada penghuninya, karena tidak ada lampu, gelap gulita di sekelilingnya.

Suara-suara aneh mulai terdengar. Semakin lama semakin mengerikan karena dibarengi tawa cekikikan.

Pernah suatu kali ada beberapa remaja belasan tahun melewati tempat itu. Karena kemalaman nonton orkesan, sementara mobil angdes sudah tidak ada lagi, mereka terpaksa berjalan kaki. Sambil menghisap rokok dengan nikmatnya mereka bersenda gurau. 

Sayangnya, senda gurau itu tidak berlangsung lama. Karena setelah mereka berada di dekat rumah tua tadi itu terlihat kepulan asap. 

Mereka tercengang. Belum sempat bisik-bisikan sudah muncul lelaki menyeramkan. Baunya tengik, tanpa kepala, semua organ tubuhnya tercerai berai tak karuan. 

Satu persatu 'raksasa' itu memakan tubuh remaja itu sampai kenyang tak bersisa lagi. Setelah itu dia menghilang entah kemana.

Beberapa hari kemudian warga desa dikejutkan bau anyir dari rumah tua itu. Karena penasaran, dikomandoi kepala desa, rombongan warga mendatangi rumah itu.

Betapa terkejutnya mereka setelah menyaksikan gelimpangan mayat tanpa kepala berjejer rapi di halaman belakang rumah.

Anehnya, semua organ tubuh para remaja itu masih utuh. Kades meminta warganya segera menguburkan mayat-mayat itu.

Satu minggu kemudian. Kuburan itu bergerak. Jasad remaja-remaja belasan tahun itu muncul dan berjalan lambat menuju rumah tua.

Begitu mereka berada persis di depan pintu, serta merta pintu rumah terbuka disertai hembusan angin kencang.

Kita masih bisa melihat mereka memasuki rumah angker itu. Tapi, setelah pintu tertutup dan terkunci rapat, kita tak bisa melihat apa-apa lagi kecuali suara burung hantu yang terdengar menakutkan, merindingkan bulu roma.

Sampai pagi, ketika rumah itu di masuki, tidak ada siapa-siapa di sana. Kecuali satu set kursi tamu terbuat dari rotan. Dipan tempat tidur, tempat memasak dan duduk santai. Selebihnya sarang kecoa, tikus dan tumpukan sampah yang berserakan.

Dari dekat tapi siang hari, rumah yang kini tidak berpenghuni lagi itu elok dipandang mata. Meski terkesan kumuh, ornamennya masih utuh. Juga anyaman atap dan dindingnya, begitu rapi dan teratur. Saling menyambung satu sama lain membentuk pola hewan seperti rusa, badak dan kijang.

Kita bisa duduk di kursi halaman depan rumah. Sambil mendengarkan kicauan burung yang terbang rendah hati ke sana kemari. Atau menyaksikan puluhan ayam kampung dan hutan berseliweran di tepi parit. Anak-anak berangkat ke sekolah dan para ibu yang rame-rame memikul keranjang berisi kayu hutan.

Namun menjelang magrib, peman dangan yang kita saksikan barusan nyaris tidak ada lagi. Yang tersisa hanya deru motor berseliweran. 

Kita melihatnya dalam sekejap. Tak ada basa basi, tegur sapa mereka, selain mempercepat laju kendaraan dengan raut muka tegang, penuh dengan misteri.

Perubahan suasana seperti ini, dari sejuk menyenangkan ke takut dan menyeramkan, pernah kutanyakan kepada seorang tokoh disegani di desa ini. 

Dengan nada bicara tegas dia mengatakan dulu rumah tua itu selalu ramai pada malam hari.

"Hampir seluruh warga yang tua-tua datang ke rumah tua itu. Bersenang-senang lah. Ada yang main gaplek, catur dan banyak lagi. Semua senang. Tidak ada keributan karena masing-masing kita bisa menjaga diri dengan mengutamakan persatuan demi terciptanya rasa aman di kampung kita," kata Pak Bendot.

"Itu berlangsung kira-kira dua tahun. Praktis ada tempat bermain warga. Mereka bisa bertemu dan saling tukar pikiran, sementara siangnya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sampai kemudian …"

Pak Bendot tersedu sedan. Berat. Berucap. Beliau baru berkata lagi setelah kusebut namanya beberapa kali.

"Terjadinya malapetaka itu." Pak Bendot mengusap air matanya dengan handuk kecil yang sering dia bawa kemana pergi.

"Malapetaka? Macam apa Pak Bendot?" Tanyaku penasaran.

"Tujahan."

"Tujahan?" Aku terberan-heran.

"Untunglah cepat dilerai. Sehingga keributan besar bisa diantisipasi. Rupanya sejak kejadian malam itu, hari ke hari rumah itu berubah sepi. Tak lama kemudian penghuninya pindah entah kemana. Warga cuma tahu rumah tua itu tidak berpenghuni lagi."

"Apa kaitannya dengan suara aneh dan mayat yang hidup lagi, Pak Bendot?"

Pak Bendot menggelengkan kepala. 

"Maafkan bapak, nak. Kalau itu bapak benar-benar tidak tahu.."

Meski aku terus mencoba mencari tahu, Pak Bendot tetap tidak tahu. 

"Sejujurnya bapak bilang, nak. Bapak benar- benar tidak tahu. Untuk apa bapak simpan di hati jika bapak memang tahu."

Aku tahu diri. Tentunya aku tak ingin memaksa Pak Bendot menjelaskan yang dia tak ketahui. Tapi aku puas dan sebelum kami berpisah aku sempat mengucapkan terima kasih. 

Bagiku informasi yang kuperoleh dari Pak Bendot sangat lah penting untuk menyingkap misteri rumah tua itu.

Kemana lagi harus kucari informasi?

Sebaiknya aku amati malam ini. Mengendap-endap ke rumah tua tak berpenghuni itu. 

Iiich ngeri ah …

Ngeri?

Aku laki-laki kenapa mesti ngeri dan takut.

Aku harus berani! Berani menghadapi resiko. Resiko hidup atau mati. Kalah atau menang, sukses atau sebaliknya. Gagal.

Semua itu harus kujalani, tentu sebisa dan semampuku.

Kuberaksi mulai pukul delapan malam. Tak ada yang kubawa selain sebatang rokok kretek dan korek api. 

Mulanya maju mundur ketika tiba di halaman samping rumah tua itu. Kusulut rokok. Kuhisap nikmat. Asap pun mengepul.

Kudekati pintu samping, terkunci rapat. Mau kubuka pintu belakang tapi tak bisa.

Akhirnya kumasuk lewat pintu depan. Kuamati lekat ke sekitar ruangan. Gelap gulita.

Kututup pintu rumah dengan perlahan. Aku tarik nafas sejenak. Kuberjalan ke kanan mendekati kamar depan. 

Kusibakkan hordeng. Kulihat ada cahaya kecil di dalamnya. Setelah kuamati cahaya itu ternyata berasal dari lampu teplok.

Anehnya, tak ada orang di kamar itu. Tapi jendela kamar terbuka. Kulihat suasana di luar. Sepi dan yang tampak hanya hutan.

Kututup jendela kecil itu. Kudekati lampu teplok. Kuamati lekat. Tiba-tiba angin bertiup. Makin lama ma kin kencang. Akhirnya padam.

Aku berdiri. Ketika kuhendak ke luar kamar, tubuhku terasa sempoyongan. Seperti ada yang mendorongku dari belakang. 

Aku terus melangkah. Aku tersungkur dan kepalaku mengenai kaki meja. Sakit nian. Aku berhasil berdiri lagi sambil menahan rasa sakit.

Belum hilang rasa sakitku, lampu-lampu yang ada di ruang tamu menyala. 

Ada tiga lampu teplok. Karena se rentak menyala, menerangi meja tamu. Aku silau dan untuk meng hindari cahaya dari lampu berbadan kaleng itu, kututup wajahku dengan kedua tanganku. 

Aman pikirku dalam hati.

Setelah aman dari cahaya lampu, kubuka kedua tanganku pelan-pelan. Kulihat seorang nenek bertampang seram menakutkan. 

Wajahnya dipenuhi bekas sayatan benda tajam. Matanya melotot. Bibirnya kelu dan pucat pasi. Sementara kedua kakinya menggantung, tidak menginjak lantai rumah.

Oleh Aminuddin

Penulis : Aminuddin Sripo

Artikel Asli