162 Orang Terkubur Lumpur saat Menambang Giok

Jawapos Diupdate 02.17, 03/07 • Dipublikasikan 10.04, 03/07 • Ilham Safutra
162 Orang Terkubur Lumpur saat Menambang Giok

JawaPos.com – “Lari..Lari…” Maung Khaing mendengar teriakan tersebut saat menambang batu giok di Hpakant, Myanmar, kemarin (2/7). Sekilas dia melihat tumpukan sampah di atas bukit akan longsor. Pria 38 tahun itu langsung lari menyelamatkan diri.

Khaing selamat. Namun, tidak dengan ratusan temannya.

”Dalam satu menit, semua orang di bawah bukit menghilang. Saya merasa hati saya kosong,’’ ujar dia seperti dikutip Agence France-Presse.

Saat itu beberapa orang masih hidup dan meminta tolong. Tapi, Khaing dan mereka yang selamat lainnya tak bisa berbuat banyak. Sebab, yang longsor adalah lumpur. Total 162 orang dipastikan meninggal dunia dan jenazahnya dapat dievakuasi.

Jumlah itu bisa terus bertambah karena proses evakuasi masih terhenti karena hujan. Sedangkan korban selamat yang dibawa ke rumah sakit sebanyak 54 orang.

Sejatinya sehari sebelumnya pemerintah setempat sudah memberikan peringatan kepada penduduk. Mereka diminta tidak pergi menambang di musim hujan. Namun, sebagian penambang memilih tetap berangkat. Apa yang ditakutkan akhirnya menjadi kenyataan.

EVAKUASI RUMIT: Tim SAR menggotong jasad penambang yang tertimbun lumpur di area pertambangan batu giok di Kota Hpakant, Negara Bagian Kachin, Myanmar, kemarin (2/7). (ZAW MODE/AFP)

’’Mereka tersapu gelombang lumpur.’’ Demikian bunyi pernyataan Departemen Pemadam Kebakaran Myanmar. Masih ada sekitar 100 orang yang hilang dan dalam proses pencarian.

Bisnis batu giok itu sangat terkenal di Myanmar. Mereka biasanya mengirimkannya secara ilegal ke Tiongkok.

Penambangan biasanya dilakukan diam-diam dan langsung diselundupkan ke Negeri Panda. Operatornya adalah para jenderal junta militer Myanmar. Mayoritas hasil penjualan masuk ke kantong mereka. Sebaliknya, para penambang tetap miskin.

Hanna Hindstrom dari Global Witness menegaskan bahwa kecelakaan itu seharusnya bisa dicegah. Tentunya dengan menghentikan penambangan yang tidak memperhatikan dampak lingkungan. Terlebih, itu bukan kejadian yang pertama.

Insiden longsor dan menewaskan penambang tersebut terjadi hampir setiap tahun. Pada 2015 kejadian serupa di wilayah yang sama merenggut 113 nyawa. Saat itu longsor terjadi saat para pekerja tambang sedang tidur. Sedangkan tahun lalu 50 orang meninggal.

Sekitar 70 persen giok dunia dihasilkan di Myanmar. Penambangan yang terbesar ada di Hpakant. Batu giok itu diyakini sebagai ekspor Myanmar yang paling menguntungkan.

Sebab, permintaan dari negara tetangganya, Tiongkok, tidak pernah berhenti mengalir. Global Witness memperkirakan, pada 2014 industri itu menghasilkan sekitar USD 31 miliar atau setara dengan Rp 444,8 triliun. Itu setara dengan hampir separo PDB Myanmar di tahun yang sama.

Hasil pasti dari penambangan tersebut tidak pernah diketahui. Tapi, diperkirakan jauh lebih besar lagi. Pemerintah setempat tidak membuat aturan ketat terkait penambangan. Itu menyebabkan banyaknya korupsi yang terjadi. Banyak hasil tambang yang diperkirakan masuk ke kantong junta militer Myanmar.

Natural Resource Governance Institute menyebut sektor tambang giok di Myanmar sebagai yang tersuram di dunia. Prostitusi dan kecanduan obat sudah menjadi hal biasa di komunitas penambangan.

Kachin sudah bertahun-tahun berjuang menangani masalah kecanduan tersebut. Itu karena banyak pemuda yang akhirnya menjadi pemakai narkoba. Dalam laporan Departemen Luar Negeri AS 2018 disebutkan bahwa para penambang di Kachin dipekerjakan secara paksa.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

 

Artikel Asli