10 Cara Cerdas Membela Diri saat Menghadapi Bullying

Opini Stories Diupdate 07.02, 18/10/2019 • Dipublikasikan 00.15, 14/10/2019 • Vey Kresnawati

Bullying merupakan sebuah penindasan, intimidasi, atau tindakan sabotase yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang pada orang lain. Perundungan (bullying)  bisa terjadi karena dia merasa sangat hebat, sangat kuat, dan merasa paling berkuasa sehingga dia mencari orang yang dianggapnya lemah dan rentan.

Kasus bullying sendiri lebih banyak terjadi pada masa-masa sekolah. Hal ini disebabkan pada masa sekolah emosi anak-anak dan remaja masih belum stabil. Ditambah lagi, pengawasan yang kurang dari orang dewasa serta sikap acuh teman-temannya membuat kasus bullying semakin mudah dilakukan. 

Baca juga:

Tentu tidak ada seorangpun yang sudi jika anaknya atau teman kita hanya diam saja saat menjadi korban bullying (perundungan). Maka, penting bagi orangtua maupun orang-orang terdekat untuk mengajari anak-anak, remaja ataupun teman kita untuk membela diri mereka sendiri demi mencegah kemungkinan terburuk soal ini. 

Penyebab terjadinya bullying 

Bullying berasal dari kata bully, yang dalam kamus Oxford diartikan sebagai "seseorang yang merasa kuat dan terbiasa berusaha untuk menyakiti atau mengintimidasi mereka yang dianggap rentan atau lemah".

Jika bully mewakili pelakunya, kata bullying yang populer diartikan sebagai tindakannya. Bullying dapat diartikan sebagai perilaku intimidasi.

Dilansir dari bullying.co.uk, bullying biasanya didefinisikan sebagai perilaku berulang yang dimaksudkan untuk melukai seseorang baik secara emosional maupun fisik, bullying sering ditujukan pada orang tertentu karena ras, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, penampilan, hingga kondisi fisik seseorang.

Sedangkan menurut stopbullying.gov, bullying adalah perilaku agresif yang tidak diinginkan di antara anak-anak usia sekolah. Bullying melibatkan ketidakseimbangan kekuatan yang nyata atau yang dirasakan (oleh korban maupun pelaku).

Perilaku bullying berpotensi diulangi seiring berjalannya waktu dan berpotensi menimbulkan masalah jangka panjang baik untuk korban maupun pelaku.

Jika disimpulkan, maka bullying dapat kita artikan sebagai perilaku intimidasi yang dapat dilakukan berulang untuk melukai individu baik emosional maupun fisik dan melibatkan ketidakseimbangan kekuatan di mana pelaku yang memiliki kekuatan mendominasi, sementara korban menjadi pihak yang lemah.

Bullying juga bisa berarti menggertak. Secara terminologi, bullying adalah perilaku menyimpang yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki perilaku dominan lebih kuat kepada seseorang yang lebih lemah. 

Hal ini dilakukan dengan cara menggertak, atau menciptakan suasana tidak nyaman bagi korban secara terus menerus sehingga korban merasa paranoid terhadap seseorang yang menggertaknya. Banyak faktor yang membuat hal ini menjadi booming, sikap menyimpang ini rawan dilakukan pada anak berusia dibawah umur. 

Bullying yang dialkukan rekan kerja di tempat kerja

Namun tidak menutup kemungkinan bullying juga dilakukan oleh orang dewasa yang sudah memiliki pemikiran yang matang dan berpendidikan. Hal ini bisa terjadi di tempat kerja ataupun di lingkungan tertentu.

Biasanya orang tersebut memiliki jabatan atau kedudukan hingga merasa bebas untuk mengintimidasi orang lain yang lebih rendah posisinya. Tapi bisa juga dilakukan oleh rekan kerja yang memiliki posisi yang sama. 

Ada 3 penyebab utama terjadinya bullying yaitu :  

  • Faktor lingkungan. Tak bisa dipungkiri, lingkungan merupakan faktor terbesar dalam terbentuknya suatu sikap. Pengaruh baik dan buruk pergaulan memang bisa mengakibatkan baik dan buruknya perilaku seseorang. Tak heran lingkungan menjadi salah satu agent of change.
  • Media. Media juga menjadi salah satu penyumbang besar dalam terbentuknya suatu sikap. Bukan hanya tayangan televisi saja, tapi internet menjadi ladang subur penyebaran sikap buruk. Internet yang kita gunakan selama ini belum sepenuhnya aman, masih banyak konten yang perlu diteliti lebih lanjut agar tidak berdampak buruk pada masyarakat, terlebih anak-anak dan remaja. 
  • Hubungan keluarga. Keharmonisan keluarga juga berpengaruh pada terbentuknya sikap seseorang. Jika kondisi keharmonisan suatu keluarga sedang buruk, maka anggota keluarga yang lain berpotensi mencari pelampiasan, salah satunya dengan melakukan bullying. 

Tonton juga:

Bullying di KampusUdah jadi mahasiswa tapi masih aja punya kebiasaan buruk yaitu membully. Emangnya bully itu lucu ya!
Subscribe di sini: https://www.youtube.com/c/OpiniID untuk ngeliat video lucu/informatif/motivasi lainnya.

Cara membela diri dari bullying 

Ketika membahas membela diri saat anak atau teman menghadapi bullying, bukan berarti soal memukul atau balik memaki, maupun mengajarkan tentang membenci atau membalas dendam pada pelaku bullying. Namun ada beberapa hal bijak yang bisa dilakukan anak-anak, remaja maupun teman kita saat menghadapi tindakan perundungan ini. 

1. Perlihatkan kepercayaan diri

Memiliki kepercayaan diri akan membuatnya terhindar dari bullying. Membangun tingkat kepercayaan diri bisa dimulai dengan bahasa tubuh yang meyakinkan, berjalan dengan tenang, dan berani melakukan tatap mata. Latih anak atau teman kita agar dapat melakukan hal itu dengan baik sekalipun ia sedang merasa ketakutan maupun tak percaya diri. Membangun mental adalah kunci utama agar tak ditindas. 

2. Membentuk grup pertemanan

Pelaku bullying atau perundungan biasanya tidak menjadikan anak atau seseorang yang punya teman sebagai target. Mereka biasanya menyerang anak-anak atau remaja, atau rekan kerja yang tampak tak punya teman. Jika orang tersebut tipenya suka menyendiri atau tak punya teman, maka ajari dia menjalin persahabatan walau hanya dengan satu teman. Grup pertemanan akan mencegah perundungan.

3. Belajar untuk lebih peka

Ajak anak maupun remaja untuk lebih waspada dengan lingkungan sekitarnya. Apalagi jika terasa ada sesuatu yang tak beres di sekelilingnya. Melatih kepekaan mereka tentang lingkungan tak dapat dilakukan dalam waktu sehari. Mengajari membela diri dengan melatih kewaspadaannya, bertujuan untuk menghindarkannya dari keadaan terpojok dan tempat sepi saat dikeroyok. 

k12insight.com

4. Hindari perkelahian

Kadang, menghindari perkelahian dianggap sebagai tindakan pengecut. Namun, orang tua atau kita sebagai teman bisa mengatakan pada anak atau teman bahwa menghindari perkelahian sama saja sedang mencegah situasi yang lebih buruk terjadi. Maka, sebelum situasi jadi lebih runyam, lari adalah cara terbaik untuk mencegahnya. Ajari mereka kepekaan untuk mempertajam instingnya kapan tanda bahaya untuk lari diperlukan.

5. Gunakan suara yang tegas

Para perundung biasanya tak akan menyerang orang yang memiliki kepercayaan diri dalam suaranya. Namun, hal ini perlu latihan khusus, terutama dalam situasi darurat. Suara yang tegas juga dapat menjadi teror mental para perundung bahwa lawannya bukanlah orang yang lemah. Sehingga lawan akan berpikir ulang soal serangan yang ia rencanakan. 

cosmogirl.co.id

6. Selalu cari pintu keluar

Kemanapun anak atau remaja pergi ke suatu tempat apalagi tempat tertutup, ajari mereka untuk selalu mencari di mana letak pintu keluar. Hal ini akan berguna jika nantinya mereka dikepung di sebuah tempat oleh segerombol orang di ruangan tertentu.

7. Berteriak

Cara membela diri lainnya adalah saat terjadi perundungan adalah dengan cara berteriak kapanpun ia merasa akan diserang. Selain akan mengacaukan konsentrasi lawan, selain itu kemungkinan besar akan ada bantuan yang datang untuk menolong. Yang jelas, diam bukanlah ide yang baik dalam keadaan darurat.

8. Mengikuti kelas bela diri

Bullying seringkali melibatkan serangan fisik. Dengan mengikuti kelas bela diri, anak atau remaja akan dapat membela diri saat dirundung. Mereka juga dapat mengetahui bagaimana caranya merespon serangan. Selain itu, olahraga bela diri juga dapat meningkatkan kepercayaan diri dan membuat mereka dapat melindungi orang sekitarnya yang ditindas oleh perundung. 

Sejak dini anak diajarkan latihan bela diri

9. Gunakan teknik bela diri

Orangtua sering takut jika anaknya terlibat dalam perkelahian fisik. Namun, dalam menghadapi perundung yang melakukan serangan fisik, hal itu diperlukan. Di dalam teknik bela diri ada banyak cara yang gunanya bukan menyerang, namun menghindar. Ajari anak untuk fokus pada menghindari serangan dibanding dengan menghadapi serangan.

10. Laporkan ke pihak yang berwajib

Apabila kasus bullying sudah sampai ke tingkat yang lebih parah seperti kekerasan, ancaman, bahkan sempat mendapat pemerasan, maka sebaiknya laporkan hal tersebut kepada pihak polisi. Namun, sebelum itu, sebaiknya diskusikan terlebih dahulu dengan pihak sekolah, tempat kerja atau melalui keluarga lebih dahulu. Sebab, jika sudah masuk ranah hukum, urusannya akan lebih panjang.

Anak atau remaja yang tak dapat membela diri saat terjadi perundungan berpotensi mengalami depresi saat ia dewasa kelak. Sementara pada orang dewasa atau pekerja yang mengalami bullying di tempat bekerja akan mengalami stres, depresi hingga menganggu kinerjanya. Hingga ada beberapa berita seputar anak atau pekerja yang bunuh diri atau jadi cacat seumur hidup karena bullying.

Maka, mencegah anak, remaja bahkan teman kita dirundung atau bullying adalah dengan mengajarinya mereka hal-hal bijak agar dapat menjadi modal sosialnya untuk menghadapi dunia yang sebenarnya. Dengan belajar membela dirinya sendiri, maka ini berarti seseorang akan lebih mudah mencari jati dirinya. 

Artikel Asli