Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Kisah Untuk Dinda - Part 6: I am Here

6.  I am Here

    Waktu adalah hal terkejam, dia bisa menyerupai iblis yang tak memiliki belas kasian. Berlalu begitu saja tanpa peduli nasib orang-orang yang meminta dia berhenti berdetak. Dia bisa mengambil semua orang tersayang tanpa memberikan peringatan atau firasat, hingga satu-satunya yang tersisa hanyalah kenangan. 

Namun, waktu juga dapat menjelma menjadi perawat yang bisa menyembuhkan. Membantu berpijak, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya kembali berdiri tegak. Seperti halnya Dinda, gadis itu sedang berusaha kembali menata hidupnya.

      Kehilangan Geri bukan hal sepele, berusaha menghilangkan kebiasaan yang dulu dilalui bersama bukan sebuah hal mudah. Dia kadang sering terbangun tiap malam hanya untuk mengecek ponsel, berharap ada telepon masuk, dan dia memiliki teman berbagi cerita. 

Dia terkadang masih ingin mengirim pesan, hanya untuk mengingatkan jam makan siang—karena Geri tipe workaholic yang terkadang bisa lupa makan. Namun, dia juga masih memiliki waktu panjang untuk melanjutkan kehidupan.

      Seperti kata Jia, berkubang terus dalam kesedihan tidak akan memberi pengaruh apa-apa, berlarut-larut hanya akan membuatnya tenggelam. Butuh waktu dua bulan bagi Dinda hingga dia bisa berhasil terbangun, tanpa harus merasa sakit, tiap kali mengingat ceritanya bersama Geri. 

Hari ini yang akan dia lakukan adalah memasukkan semua barang pemberian Geri ke dalam kotak. Figura, boneka, jas Geri yang tertinggal, semua benda yang mengingatkan Dinda pada cowok itu harus dihilangkan.

      Dia memasukkan kardus itu ke dalam lemari di sudut yang selamanya tidak akan dia buka. Lalu dia kunci serapat mungkin. Dinda menghela napas lega, rasanya seolah dia telah menyingkirkan sesuatu yang membuat dadanya berat. 

“Semangaaat, Dinda! Lo pasti bisa!” teriaknya menjadi suporter paling lantang untuk menyemangati dirinya sendiri. Dinda mengunci rumahnya, dia sudah mandi, berpakaian ceria seolah ingin memberitahu semua orang bahwa dirinya telah kembali. “Pagi, Nek!” Dia menyapa Nek Asia seperti biasanya.

      “Udah selesai bertelurnya?” ejek Nek Asia sengit, “udah jadi ayam?”

      Dinda tertawa geli. “Iya nih, lumayan, telurnya bisa dijual. Digoreng juga enak, yummy! Sandra mana, Nek?”

      “Udah di toko bunga.”

      “Aku ke toko dulu yaaa, selamat beraktivitas, Nek!” Dinda bersenandung ria, menyapa para tetangga yang ada di pagar. Ada yang sedang menyuapi anaknya, ada bapak-bapak sedang berolahraga dengan hanya mengenakan kaus singlet dan celana hawai. Ada juga sekumpulan ibu-ibu merumpi, mengerubungi seorang pedagang sayur. “Pagi, Buuu!” sapanya, selebritas tiap pagi adalah Mang Ujang, tukang sayur yang suaranya bisa membangunkan satu kampung. “Pagi, Mang Ujang.”

      “Pagi, Mbak. Mau ke toko?”

      “Iya nih. Duluan, Mang.”

      Dinda menuju ke toko bunganya di depan gang, toko bunga yang sudah berjalan lima tahun. Masih menempati di sebuah ruko sewaan, karena prospeknya tidak terlalu bagus, tapi Dinda masih tetap bersikukuh mempertahankan semata-mata karena dia menyukai bunga. 

Dia senang melihat bunga-bunga bermekaran, rasanya seperti memberi hadiah ke diri sendiri setiap harinya. “Woi, Sandra!” Dia mengagetkan Sandra yang sedang asyik bermain gim.

      “Sabar-sabar, gue lagi push rank. Woiii, sebelah kiri lo!” Dinda melirik permainan yang sedang Sandra mainkan, Attack on Java, dia segera merebut ponsel Sandra tanpa izin. “Iiiih apaan sih, balikin ponsel gue, Kak!”

      “Jangan mainin gim itu di depan gue pokoknya.”

      “Sensi banget, professional dong, mentang-mentang gim buatan mantan, semuanya kena semprot.” Sandra menggerutu, meraih lagi ponselnya, melanjutkan main. Tidak memperdulikan gerutuan Dinda. “Tapi cowok lo tuh keren, ya, Kak? Bisa nyiptain gim terkenal gini, coba lo rayu dia gimana bisa nge-cheat biar gue bisa beli baju sama senjata bagus buat hero gue—“ Sandra melihat Dinda mengepalkan tangan, “eh iya iya, oke. Nggak jadi, bercanda.”

      “Gimana toko bunga? Kok lo nggak pernah ke rumah gue, ngasih tahu kabarnya?”

      “Gue kira lo udah mati, dua bulan nyaris nggak keliatan.”

      “Eh, sembarangan ya ngomongnya.”

      “Patah hati sampe segitunya, ya?” Sandra geleng-geleng kepala, “sepi tauk nih toko! Nih, pemasukkan cuma segini dari sebulan yang lalu.” Dia memberikan uang seratus ribu. “Cuma ada dua pembeli, gue nggak ngerti sih kenapa sepi. Mungkin karena jauh dari jalan gede kali, ya? Makanya orang nggak tahu. Kenapa nggak pasang reklame sih di pinggir jalan?”

      “Pajaknya gede.” Dinda memijat kepalanya yang mendadak terasa pusing. “Kalau gini terus, pilihan terbaiknya emang nih toko harus tutup.” Dia menatapi deretan bunga yang sudah layu. “Pengeluaran nggak sebanding sama pemasukan.”

      Sandra memasukkan ponselnya ke saku celana jins belel yang dia kenakan, lalu mendorong kursi, mendekat ke Dinda. “Bentar lagi, sewaan lo jatuh tempo, kan, Kak? Duitnya ada? Kebayar emang? Biaya operasional nih toko nggak nutup kali. Bukannya untung malah buntung.”

      “Lo juga belum gue gaji.”

      “Kak, kalau urusan gue mah santai. Gue nggak digaji juga nggak masalah.”

      “Nggak bisa, nggak professional banget dong gue.”

      “Yah, gue coba buat mengerti kondisi lo, aja. Biar lo nggak terlalu beban.”

      “Nggak enak sama Nenek, udah nunggak sewaan toko, nggak gaji lo.”

      “Ya ampun, Nenek mah nggak masalah kali. Lo tuh kayak apaan sih, kayak orang baru kenal tahu nggak?” Sandra terkekeh geli sambil menepuk meja, cewek itu menaikkan kakinya ke kursi, duduk seperti sedang di warung kopi. Lalu dia mendengar suara teriakan memanggil namanya. Sandra berdiri, mengintip lewat jendela dan melihat Mang Ujang berlari menuju ke toko. “Ada apaan, Mang?”

      “Itu Nenek—Nenek …”

      “Nenek kenapa?” Kali ini Dinda ikut berteriak, “ngomong yang serius dong, Mang!”

      “Nenek pingsan di depan rumah!”

****

      Aroma kopi memenuhi indera penciuman Geri sewaktu dia memasuki sebuah kedai kopi langganannya yang letaknya tak jauh dari gedung kantor. Biasanya dia meminta Bonita yang memesan, tapi hari ini dia ingin bepergian, menghirup udara segar di luar. “Mas, espresso satu.”

      “Espresso? Pasti Anda orang yang pekerja keras.”

      Geri tersenyum, tidak menggubrisnya dan memilih duduk di salah satu kursi. Dia pernah membaca suatu artikel bahwa karakter seseorang dapat dilihat dari jenis kopi kesukaannya. 

Misalnya seseorang yang menyukai cappuccino cenderung seseorang yang pintar bersosialisasi, penggemar kopi latte adalah seseorang yang suka memberi perhatian, atau espresso dikaitkan dengan karakter pekerja keras karena ekstrak kopinya yang memiliki rasa pahit nan tajam sehingga dapat membuat tubuh terjaga instan.

      “Waduuuuh, iya. Cerewet banget sih.” Geri mendengar suara seseorang yang dikenalnya. Dia menoleh dan terkejut begitu menemukan siapa yang ada di kursi seberang. Jia. 

      Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya, Geri memilih pindah kursi duduk di seberang Jia. Cewek berambut merah menyala itu tersentak, dia segera mengecilkan volume suaranya. “Nanti gue telpon lagi. Oke, bye!” dengan penampilan mencolok serba merah, sulit rasanya untuk tidak dikenali. “Eh—hai, Ger. Apa kabar?”

      “Buruk, lo?”

      Jia mendengus. “Gue baik, of course.

      “Masih sering ketemu Dinda?”

      “Yep. Ada masalah?”

      “Dia gimana kabarnya?”

      “Sehat wal-afiat, setelah sebelumnya sempat patah hati sama cowok berengsek. Oh tenang, itu bukan kesalahan lo, kok. Kalian berdua sama-sama salah, tapi sebagai sahabat yang baik, gue bakal melampiaskan kekesalan Dinda ke lo.” Jia berkata jujur dan ceplas-ceplos. Karakter yang tidak pernah berubah sejak SMA, sama seperti Dinda, pantas mereka bisa berteman baik, pikir Geri dalam hati.

      “Maaf kalau gue bikin patah hati sahabat lo, tapi gue udah berusaha memperjuangkan dia, dia yang ….”

      “Ya, ya, gue tahu karakter Dinda gimana,” potong Jia lugas.

      “Dia nggak sakit, kan?”

      “Nggak, dia sehat-sehat aja kok.”

      “Bagus, deh.” Geri mengangguk. Kopi pesanannya datang. “Makasih, Mas.” Jemari Geri mengetuk-ngetuk meja. “Nomor gue juga udah dia block.

      “Demi kemaslahatan dan kebaikan kalian berdua, kan? Lo yang bilang, lho ke Dinda. Yah awalnya sih dia nangis terus, gue sampai nginep di rumahnya, kalau nggak ada gue kali dia nyaris bunuh diri—“

      “Serius lo?” Geri memotong cepat, kekhawatiran terdengar begitu kentara dalam suaranya.

      Jia tertawa mengejek. “Ya nggaklah, gue bercanda. Biar dramatis aja. Nggak kok, Dinda cuma nangis gitu tiap malam terus bangun pasti matanya bengap. Pokoknya dia berusaha ngelakuin apa pun demi lupain lo. Jadi tolong ya, kalau lo mau ajak dia balikan, harus izin ke gue dulu. Karena gue yang susah payah, bantu dia keluar dari patah hatinya sampai sakitnya betul-betul sembuh.” Suara Jia terdengar geram.

      Geri mengeluarkan ponsel, wallpaper yang dia gunakan bahkan belum dia ganti. Masih foto Dinda sedang selfie dengan memakai bandana rusa merah dan tersenyum lebar. 

Tentu saja bukan Geri yang memasang, Dinda yang meminjam ponselnya dan menjadikan foto itu sebagai wallpaper. Alasannya sederhana, “Aku ganti foto aku, biar kalau kamu capek, ada aku yang lagi senyum dan berusaha nyemangatin kamu, Hon.” Dan saat ini masih menjadi alasan sama mengapa Geri tetap mempertahankan wallpaper itu di ponselnya.

      Tak lama ponsel Jia di meja berdering, Geri sempat melihat nama Dinda muncul di sana. Jia melirik Geri dan segera mengangkat ponselnya. “Ya—halo? Din? Lo kenapa?” mendengar nada cemas dalam suara Jia, Geri ikut mengalihkan pandangan. “Din, lo—aduh, kok putus-putus. Lo di rumah sakit? Rumah sakit apa? Siapa yang sakit? Oke, tunggu gue ke sana!”

      Jia berdiri. Geri menahannya. “Siapa yang sakit?”

      “Nggak tahu, Dinda minta gue temuin di Rumah Sakit Jakarta, sekarang.”

      “Gue ikut.” Tanpa mendengar jawaban “ya”, Geri sudah berjalan lebih dulu mendahului Jia dengan jantung berdebar waswas, dan hanya ada harapan dia ucapkan dalam hati: bahwa Dinda memang baik-baik saja.

****

      Mendengar kabar Nenek Asia yang pingsan mendadak sempat membuat kondisi detak jantung Dinda rasanya seolah berhenti sesaat, baginya, Nek Asia adalah orang terdekat yang begitu disayanginya. Untungnya dokter memberitahu bahwa kondisi Nek Asia baik-baik saja, dan penyebabnya pingsan karena krisis hipertensi. 

Tekanan darah turun terlalu rendah sehingga menyebabkan aliran darah ke otak terganggu, tapi untuk sementara harus dirawat sampai kondisinya normal kembali. Dinda akhirnya bisa terduduk lega, dia menegakkan tubuhnya sewaktu melihat Jia, tapi yang paling membuatnya bingung adalah … Jia bawa orang lain! Sosok yang sebetulnya paling tidak Dinda inginkan lihat, untuk saat ini. Dasar Jia, bisa-bisanya, ya! Tubuh Dinda menegang sewaktu sosok itu berjalan kian dekat dan …

      “Dindaaaa, lo nggak apa-apa, kan? Terus siapa yang masuk rumah sakit? Sandra? Nenek Asia?”

      “Husssst! Mbak, tolong suaranya, ya.” Seorang perawat mengingatkan Jia untuk merendahkan volume suaranya, yang membuat Jia meringis.

      “Kamu baik-baik aja, kan?” Geri berdiri di depan Dinda. Bisa-bisanya dia muncul, bahkan ketika Dinda sedang berusaha menguatkan diri untuk melupakan seluruh kenangan dan bayangan tentang dirinya.

      “Ngapain ke sini? Lo yang nyuruh?” Dinda menatap Jia tajam, “ngapain bawa-bawa dia?”

      “Nggak, sumpah, gue lagi ada di kafe. Terus ketemu Geri, dia mau ikut aja—eh Sandra, halo!” Melihat kemunculan Sandra, Jia mendapatkan kesempatan untuk lari, gadis itu segera melarikan diri.

      Dinda memandang Geri dingin, kalau tatapan bisa membunuh, mungkin Geri sudah terkapar di lantai rumah sakit yang beraroma kloroform. “Tunggu,” Geri menggenggam pergelangan tangannya, “kamu baik-baik aja, kan?”

      “Emang kamu pikir aku bakal apa?” sengitnya ketus sembari memutar bola matanya, berusaha untuk terlihat menyebalkan, padahal jauh dalam lubuk hatinya. Dia ambyar. Ya ampun, bertemu lagi dengan Geri, rasanya ini bukan waktu yang tepat!

      “Waktu dengar kamu di rumah sakit, jantungku mau copot. Asli.”

      “Maaf ya bikin kecewa, kenyataannya aku baik-baik aja, kok. Nggak sampai masuk rumah sakit karena diputusin kamu.” Rasanya asing memang, seseorang yang dulu begitu dipercayai kini berubah menjadi seseorang yang harus dijauhi.

      Geri mengamit tangan Dinda meletakkan di depan dadanya. “Kerasa nggak? Jantungku masih deg-degan saking paniknya.”

      Iya. Dinda bisa merasakan itu, debaran yang seolah menggedor telapak tangannya, sekaligus membayangkan kehangatan di dada bidang Geri. Tempat dia dulu menumpahkan segala cerita, sambil tertidur di atas rerumputan dan melihat langit, sementara jemari menunjuk bintang ingin membuat berbagai bentuk rasi. 

Dinda langsung menepis tangannya, mendorong Geri menjauh. “Plis deh, kamu ngapain sih? Ingat sama kata terakhir yang kamu ucapin? Kita berdua bakal saling lupain, cowok tuh harus berpegang teguh sama kata-katanya.”

      “Syukur kalau kamu baik-baik aja.”

      “Yah, seperti yang kamu liat,” kalau urusan berakting, Dinda memang juaranya, dia memasang senyum paling lebar. Orang lain pasti tidak akan menyadari itu, tapi tidak dengan Geri. 

Dia bisa mengetahui ada kesedihan dalam sorot matanya, Dinda yang seperti tembok kokoh di sebuah kerajaan yang nyaris hancur. Berusaha membentuk cangkang perlindungan untuk melindungi dalamnya, padahal dia rapuh, mudah pecah dalam sekali sentuh.

      “Mau sampai kapan sih, bohongin diri sendiri? Kita berdua sama-sama tahu, perpisahan ini nggak bikin bahagia, justru saling nancapin luka.”

      “Kata siapa? Aku bahagia, kok. Kamu aja kali yang nggak, tapi cewek tuh banyak kali Ger yang naksir sama kamu. Banyak lebih hebat, lebih keren, lebih cantik, yah meskipun aku pasti bakal susah kamu lupain, iya nggak? Atau aku terlalu percaya diri?” Dinda berusaha membuat lelucon. “Tapi, percaya deh, sesuatu yang menyakitkan itu bakal hilang sakitnya kalau udah diganti sama yang baru.”

      “Hati bukan barang, yang kalau rusak bisa diganti sama hal baru. Nggak segampang itu.”

      “Lupain aku Ger, kamu udah janji juga kan lakuin itu? Kita belum terlambat, sebelum semuanya berjalan makin panjang dan makin susah untuk dipisah. Kita nggak cocok.”

      “Kenapa kamu bisa bilang nggak cocok? Pertengkaran dalam hubungan hal biasa, Din. Kamu tahu itu, yang nggak biasa adalah gimana kita nanggapin masalah. Apa bakal bikin aku sama kamu berselisih atau justru makin bersatu biar sama-sama jadi sekutu untuk melawan masalah.”

      “Aku nggak mau menjalin hubungan apa-apa dulu, seperti yang kamu bilang, selama ini aku nggak fokus sama mimpiku dan cuma ada di bibir. Makanya aku mau buktiin, aku … mau kejar … cita-citaku.”

      Ada jeda cukup lama antara keduanya, sibuk merangkai berbagai kata di kepala, berusaha mengungkapkan isi hati, tapi sekali lagi ada sesuatu menghalangi bernama gengsi. Menjadi dewasa, ada dua hal harus diperhatikan, pertama adalah gengsi, dan kedua bernama harga diri. 

Namun, reaksi Geri cukup di luar dugaan. Cowok itu mengulurkan tangan, Dinda menatapnya heran. “Ini apa?”

      “Jabat tangan.”

      Masih Geri yang sama dengan pemikiran tidak bisa ditebak. Dinda membalas jabatan tangan itu ragu-ragu, lalu Geri memeluk Dinda begitu erat. Sepasang lengannya melingkar dengan hangat. "“I just wanted to say this, it is the hardest thing’s I’ve ever done. Letting you go leaves me lost. I let you go because I love you. Go catch your dream and whenever you need me, I am here. Okay? I am always here, just call me and I'll be there," ucapnya sambil mengusap punggung Dinda.

      Dinda mengatupkan bibirnya serapat mungkin, meskipun dadanya terasa sesak. Matanya sudah berkaca-kaca membuat penglihatannya menjadi buram. Tubuh Geri kini mendekapnya sempurna, seperti rumah yang selalu memberikan kenyamanan dan perlindungan. 

Lalu ada satu kalimat Geri yang cowok itu bisikkan, dan selamanya akan teringat di kepala Dinda. “And you should remember this, too. Aku selalu bangga sama kamu, dari dulu, hingga hari ini. Nggak ada yang bisa mengubah fakta itu.”

****

     Melihat kondisi Nenek Asia yang diharuskan untuk rawat inap di rumah sakit, maka keputusan Dinda semakin bulat. Dia akan menutup toko bunganya segera, dengan begitu tempatnya bisa disewakan, barangkali ada orang lain mau menyewa secepatnya dan bisa menjadi tambahan pemasukan untuk biaya rumah sakit Nenek Asia. Sandra ada di rumah sakit, jadi Dinda membantu pindahannya ditemani Mang Ujang dan juga Jia.

     “Lo serius nih, Beb, mau tutup nih toko bunga? Lo kan sayang banget sama tokonya.”

     “Sayang, tapi harus realistis, Say.”

     “Kemakan juga kan lo sama omongan Geri?”

     “Eh, Nyong, lo nggak kerja apa? Lo nggak diamukin bokap lo, nih, bantuin gue pindahan?” Sebetulnya Jia bisa dibilang anak yang beruntung karena dia bekerja di perusahaan ayahnya yang bergerak di wedding organizer, jadi bisa dengan mudah meminta izin kalau ada keperluan. “Gue nggak apa kok lo tinggal, santai.”

     “Mau ngeganti topik obrolan, ya? Gue udah bilang kok sama Bokap, mau bantuin lo pindahan dan oke-oke aja. Balik lagi ke bahasan kita tadi, kemarin ngomongin apa sama Geri? Serius deh gue, dia keliatan panik banget, Cyiiin, waktu dengar kabar lo di rumah sakit. Gue tuh lagi di kafe, nggak tahu kok ada dia.” Jia bercerocos panjang lebar. 

“Dia langsung mau ikut ke rumah sakit, takut lo kenapa-napa. Firasat gue, dia masih sayang sama lo, Din. Perasaan nggak bisa bohong, lho, kelihatan dari sorot matanya. Percaya sama gue.” Kalau soal insting, bisa dibilang Jia adalah juaranya.

     Dinda mengedikkan bahu, memasukkan beberapa vas bunga ke rumahnya. “Mang, yang itu ambil aja, Mang. Terlalu besar kalau ditaruh di rumah.”

     “Serius, Neng?” Mang Ujang berbinar melihat sebuah vas bunga kaca antik berwarna biru, “oke, Neng. Lumayan buat istri Mamang.”

     Mereka menggotong mengangkat meja dan kursi kayu, untuk etalase, karena terlalu berat. Mang Ujang meminta bantuan teman-temannya untuk ikut membantu. Setelah hampir dua jam berberesan, akhirnya selesai juga. 

Dinda menatap sendu ke arah mantan toko bunganya. “Babay, ramah ya nanti sama penghuni baru,” katanya mengucapkan salam perpisahan, membuat Jia terkikik geli di belakangnya.

     Dinda juga memberikan bunga ke Mang Ujang serta uang tip. “Bunga buat istrinya Mang Ujang, biar makin romantis.”

     “Aduh makasih banyak atuh, Neng, kalau ada bantuan apa-apa. Panggil aja Mamang.”

     “Iya.”

     “Yuk, Mbak. Duluan ya.” Mang Ujang bergegas, Dinda kembali ke rumahnya, menatapi deretan vas di meja, lemari, serta etalase.

     “Terus rencana lo setelah ini apa?”

     “Gue mau mengejar mimpi gue, jadi MUA. Kalau dipikir-pikir, omongan Geri tuh betul juga, gue yang egois nanggapin pake emosi. Gue bakal belajar lagi, ambil kursus mungkin … tapi sebelumnya gue butuh bantuan lo.”

     Jia mengangkat alis. “Bantuan apa? Mau balikan? Hell, no! Kayak anak SMP lo, habis putus minta balikan.”

     “Ih, apaan sih, langsung menyimpulkan gitu. Bukan kali.” Dinda mengesah panjang dan membaringkan tubuh di sofa. “Lo ada kerjaan buat gue, nggak? Jadi apa, kek, terserah. Biar gue punya duit untuk kursus. Tabungan gue ada, sih, tapi untuk beli peralatan make-up kan harganya lumayan.”

     “That’s my girl.” Jia nyengir lebar, seolah merasa puas dengan jawaban Dinda. “Akhirnya, Dinda yang gue kenal udah balik. Welcome back, ya. Plis, jangan patah hati lagi!” Dia menggerutu, “ngomongin kerjaan, gue ada sih kenalan yang kemarin lagi nyari SPG gitu. Kalau lo mau, sih.”

     Dinda tersenyum, memeluk lengan Jia, dan mendusel-duselkan kepalanya hingga membuat Jia menepisnya geli. “Lo emang sahabat gue yang paling the best, deh.”

Artikel Asli