Update browser Anda

Browser yang digunakan merupakan versi lama dan sudah tidak didukung lagi. Kami menyarankan Anda mengupdate browser Anda untuk pengalaman yang lebih baik.

Tugas Domestik Itu Berat, Banyak Laki-Laki Gagap Beradaptasi di Rumah Saat Pandemi

Tugas domestik itu berat. Sejumlah laki-laki kemudian belajar soal tugas domestik yang berat ini di saat pandemi.

Syaldi Sahude dari Aliansi Laki-laki Baru mengatakan, selama masa pandemi memang tak dipungkiri banyak laki-laki yang gagap dalam beradaptasi ‘di rumah saja’. Mereka yang biasanya kerja di luar rumah harus ada pembatasan dan melakukan lebih banyak aktivitas di rumah, jadi kelimpungan.

Banyak pula dari mereka yang jadi ‘tersadar’ bahwa tugas-tugas domestik yang selama ini mereka sepelekan atau dilimpahkan kepada pasangan yang dalam hal ini adalah perempuan, nyatanya berat.

“Yang paling sulit beradaptasi laki-laki. Laki-laki kalau di rumah, jadi berbagai beban domestik (dengan perempuan), oh ternyata mengasuh anak itu seperti ini (berat). Yang selama ini tak pernah melihat,” ujar Syaldi dalam diskusi daring ‘Dua Tahun Masa Pandemik Covid-19, Refleksi Resiliensi Perempuan: Sintas di Tengah Pandemi’ yang diadakan Jurnal Perempuan, Kamis (24/3/2022) silam.

Para laki-laki pun, kata Syaldi memang semestinya menyadari dan mengambil peran dalam mengikis ketimpangan gender. Di rumah tangga setidaknya laki-laki harus hadir membantu perempuan yang selama ini mendapat beban berlapis. Misalnya, harus mengurusi pekerjaan domestik sedangkan laki-laki banyak yang lepas tangan.

“Ini banyak berdampak pada perempuan yang mengalami kelelahan dan merasa tidak maksimal dengan pekerjaan di kantor (karena beban ganda domestik), makanya banyak perempuan yang mengundurkan kerja (selama pandemi),” jelasnya.

Maka dari itu, Syaldi mengajak para laki-laki untuk ikut terlibat dalam menciptakan iklim yang lebih adil gender. Sebagai pegiat di Laki-laki Baru, Syaldi mengaku selama ini dia selalu menanamkan dan mengingatkan rekan-rekannya bahwa mereka harus mengaplikasikan nilai-nilai kesetaraan dalam kehidupan sehari-hari.

“Biasanya kita juga melibatkan para tokoh atau pemuka agama (sosialisasi kesetaraan di kalangan laki-laki), memberikan contoh bahwa hal ini biasa,” katanya.

Pendiri Jurnal Perempuan dan Profesor Sosiologi di Montgomery College, USA, Gadis Arivia mengatakan dampak pandemi dan lockdown (pembatasan) memang terasa yang paling berat bagi kelompok rentan tersebut. Misalnya saja, dari sebanyak 70,5 orang bekerja di sektor informal yang kehilangan pekerjaan, setengahnya adalah perempuan.

Perempuan lagi-lagi juga terdampak paling besar, Gadis menambahkan, selama masa pandemi perempuan mendapatkan beban pelimpahan care work. Perempuan menjadi perawat bagi anggota keluarga yang sakit di rumahnya, sekaligus tutor untuk anak-anak belajar daring.

Ada pula kondisi para perempuan kepala keluarga, setengahnya juga merupakan perawat bagi keluarganya yang mengalami disabilitas. Kondisinya menurut Gadis, lebih berat bagi kelompok perempuan dari tingkat ekonomi rendah (miskin). Bicara soal ini, tak lepas dari masalah interseksionalitas yaitu hubungan segala sistem atau bentuk penindasan yang acapkali menyasar perempuan dan kelompok rentan lainnya.

“Perspektif kita terbatas melihat persoalan, padahal lebih berat masalahnya (interseksionalitas)… keterbatasan akses, ketimpangan, distribusi ekonomi dan sebagainya,” ujar Gadis.

Gadis Arivia menjelaskan lensa feminisme dalam memandang interseksionalitas yang seharusnya dilakukan dalam situasi saat ini. Di antaranya, representasi feminis (yang sebanding) dalam pemerintahan, parlemen dan berbagai institusi termasuk bidang usaha/koorporasi. Sehingga, kebijakan akan lebih adil gender dan inklusif.

“Investasi (juga) dalam care economy (ekonomi perawatan) dan menjadikannya sebagai pendapatan negara agar kerja perempuan dihitung ekonomi yang inklusif,” jelas perempuan kelahiran 1964 itu.

Dia juga menekankan, kebijakan diskriminatif harus dihilangkan. Sebaliknya, kebijakan yang melindungi kelompok marginal termasuk gender dan seksualitas perlu ditegakkan. Salah satunya, mengesahkan RUU PKS yang bisa mengakomodir berbagai kasus maraknya kekerasan seksual di masa pandemi ini.

“(Kita juga perlu) Membongkar dan mengubah kerangka berpikir, kesadaran yang bias gender,” ujarnya.

Pelibatan Laki-laki dan Gerakan Anak Muda

Upaya mengikis krisis sosial akibat ketimpangan gender, bukan hanya tanggung jawab perempuan. Tapi laki-laki harus setara dan mengambil peran. Paling tidak, di lingkup terkecil dalam rumah tangga.

Penulis dan Fasilitator Gender, Kalis Mardiasih mengajak anak-anak muda untuk terus menyuarakan kesetaraan di lingkungan sekitar maupun digital. Anak muda bisa berperan penting dalam membongkar mitos-mitos ketidaksetaraan hingga penggalangan solidaritas.

Selama masa pandemi ini, Kalis mengatakan banyak sekali gerakan anak muda yang bersolidaritas mengikis krisis pandemi dan ketimpangan yang terjadi, yang dia sangat apresiasi. Ini menjadi upaya-upaya penting yang perlu terus digalakkan. Terlebih, sampai saat ini masih banyak kebijakan pemerintah yang belum sensitif terhadap ketimpangan gender.

“Di Jogja ada yang solidaritas untuk membelikan kebutuhan ibu dan bayi, karena bantuan pemerintah tidak berdasarkan need analisis (berperspektif adil gender), ada pula pelatihan-pelatihan agar transpuan bisa jualan online (karena terdampak pandemi), bahkan anak muda yang menggalang solidaritas termasuk perempuan korban kekerasan. Ini penting,” pungkasnya.

Artikel Asli