Haruskah Pemerintah Segera Terapkan New Normal?

CP name
KompasTV
Reporter
Upload Date & Time
501 Ditonton

JAKARTA, KOMPASTV – Presiden Joko Widodo menginstruksikan masyarakat untuk bersiap-siap melakukan new normal.

Kebijakan ini dipilih karena pemerintah ingin masyarakat bisa produktif di tengah kondisi wabah Covid-19 atau virus corona.

Jokowi menyebut, istilah new normal dengan sebutan berdamai dengan covid. Fakta menyebutkan, hingga saat ini, antivirus dari Covid-19 belum ditemukan.

Meski demikian, baru 2 bulan pelaksanaan PSBB, sejumlah sektor usaha sudah mulai merasakan dampaknya.

"Kita ingin tetap produktif tapi aman Covid. Produktif dan aman Covid," ujar Jokowi (26/5/2020), saat mengecek kesiapan new normal di Mal Summarecon Bekasi.

Baca Juga: Strategi Tri Risma Bangkitkan Perekonomian Surabaya di Era New Normal

Meski demikian, di rentang waktu yang  bersamaan, WHO mengingatkan kepada seluruh negara di dunia untuk berhati-hati dalam melakukan pelonggaran lockdown atau PSBB.

Sebab, potensi terjadinya gelombang kedua masih bisa terjadi. Belajar dari pandemi flu spanyol pada tahun 1919, virus ini justru mematikan lebih banyak orang pada gelombang kedua.

“ Virus ini bisa saja meningkat kapan saja, kita tak bisa berasumsi. Bahkan, kita bisa saja mengalami puncak kedua pada gelombang ini”, ujar Direktur Eksekutif WHO, Mike Ryan (19/5/2020).

Lalu, haruskah pemerintah melakukan new normal di tengah pandemi ini? Apakah new normal berpotensi mencegah terjadinya gelombang kedua? Atau bahkan, justru untuk mencegah terjadinya gelombang kedua? Simak Ulasannya di episode Sisi TV New Normal dan Gelombang Kedua.

Komentar (0)