ilustr: Flickriver
ilustr: Flickriver

Sejujurnya saya sekarang bukan termasuk orang yang senang nonton film di bioskop. Terakhir nonton mungkin lebih dari 5 tahun yang lalu karena ditraktir nonton oleh anakku.

Meski sekarang saya tidak suka nonton di bioskop, karena alasan keuangan, sangat membekas kenangan saat-saat dahulu ketika masih sering nonton di bioskop. Tak terlupakan, membuat tersenyum sendiri dan juga merasa lucu atas perilaku 'mbeling' saat masih remaja.

Saya mulai dengan saat masih SD, kalau tidak salah antara kelas 5-6. Saat itu kami (saya dan adik saya yang cowok) sering menonton di bioskop karena kami seusia itu sudah diajari wirausaha oleh bapak dengan mengelola kios persewaan buku sehingga punya uang saku yang lumayan cukup untuk nonton. 

Maklum saat itu (tahun 1973) belum eranya video tape, apalagi VCD. Kegemaran kami adalah nonton film silat atau kungfu mandarin. Sangat terkesan dengan bintang-bintang keren waktu itu seperti Bruce Lee, Ti Lung, Fu Shen, David Chiang dan yang lain.

Pada waktu itu tentu saja belum ada Cineplex dan gedung bioskop terbagi menjadi 2 kelas. Kelas satu yang memutar film-film terbaru dan kelas dua memutar film-film bekas kelas satu setelah selang beberapa bulan. Tentu saja kami nontonnya di gedung bioskop kelas dua yang pasti lebih murah tiketnya.

Menonton di gedung bioskop kelas dua punya kenangan tersendiri, karena gedungnya tidak ber-AC tetapi hanya dilengkapi kipas angin jadi terasa pengap dan panas luar biasa. Selain itu tidak ada larangan merokok, jadi bisa dibayangkan situasinya.

Dengan gedung yang tidak melarang penonton untuk merokok di dalam gedung ini meninggalkan kesan yang lucu bagi kami. Kami sering menggunakan kesempatan di gedung bioskop itu untuk iseng merokok. 

Kalau di luar, apalagi di rumah kalau ketahuan merokok oleh bapak pasti kami langsung dimarahi, padahal bapak sendiri perokok berat. Anehnya saya malah tidak pernah jadi perokok dan bahkan membenci asap rokok sejak saat remaja sampai sekarang.

Cara pengusaha bioskop untuk menarik penonton waktu itu sangat asyik. Di luar gedung selalu terpampang lukisan di kain yang keren dan menarik, bahkan sering sangat vulgar. 

Selain itu ada cara promosi yang lain dengan mobil berpengeras suara yang keliling kota menginformasikan tentang film yang akan di putar, sembari menyebar lembaran poster-poster kecil tentang film bersangkutan. Saya sempat mengoleksi selebaran-selebaran poster film itu.

Pada saat remaja itu yang juga tak terlupakan adalah kebiasaan nonton film dewasa, ketika itu disebut film 17 tahun ke atas. Kami sangat sering nonton di bioskop yang memutar film-film dewasa, padahal usia kami belum 17 tahun. Bintang-bintang film 'panas' yang sangat berkesan waktu itu antara lain Edwige Fenech, Gloria Guida, Suzanna, Yatty Octavia, Yenni Rahman, Tanti Yosepha.

Demi alasan duit kami tak pernah dilarang oleh penjual tiket untuk menonton film-film dewasa waktu itu. Judul-judul film yang tidak terlupakan antara lain, Private Teacher, Bumi Makin Panas, Gadis Panggilan, Ranjang Siang-Ranjang Malam, Akibat Pergaulan Bebas.

Tatkala sudah menjadi mahasiswa punya kenangan tak terlupakan saat ditraktir nonton oleh 5 teman cewek, rasanya wooow banget. Terbayang waktu itu serasa jadi cowok yang paling dikagumi sedunia….. wkwkwkwk.

Masih ketika mahasiswa, pernah punya pengalaman salah menonton film. Saat itu kami seusai kegiatan di kampus (aktifis kampus nih ceritanya) agak malam, kami nonton film ramai-ramai (cowok semua). 

Saat lihat gambar yang terpampang di luar gedung kami tertarik ada film 'Gaunlet' (ingat banget bintangnya Clint Eastwood), kami langsung beli tiket dan masuk gedung pertunjukan, tetapi astaga naga ternyata film yang diputar 'Gadis Penakluk'. Kami tidak memperhatikan bahwa Gaunlet baru akan diputar besoknya. He..he..he…. dan kami malah tidur saat film diputar.

Beralih ke saat-saat pacaran, pengalaman yang 'unforgetable' adalah nonton 2 film di gedung yang berbeda pada satu malam minggu. Tahu sendiri kan asyiknya pacaran di gedung bioskop? Tentu saja saat itu sudah tidak nonton di bioskop kelas dua lagi tapi di gedung bioskop kelas satu yang ber-AC nyaman.

Di era Cineplex ini yang berkesan adalah kalau nonton selalu menenteng tas agak besar. Yuuuups…betul… untuk membawa makanan kecil dari luar. Kita semua tahu kalau ada larangan membawa makanan dari luar, sementara harga makanan di gedung cineplex biasanya mahal, maka solusi cerdiknya adalah membawa cemilan sendiri dengan sembunyi-sembunyi.

Membayangkan saat new normal ini kalau pertunjukan film di bioskop sudah diijinkan, lalu protokol kesehatan seperti apa yang harus diterapkan? Kalau sekadar dicek suhu tubuh dan mencuci tangan dengan disinfektan masih tidak masalah dan bahkan bermanfaat tetapi apa yang akan terjadi kalau tempat duduknya mesti harus berjarak? Pasti bikin males bagi mereka yang ingin nonton di bioskop sekaligus berpacaran.

Menonton di bioskop bagi para pecandu film memang dahsyat, dengan tata suara yang spektakuler, tak mungkin tergantikan dengan hanya nonton film di rumah meski dengan perlengkapan penampil film serta sound system secanggih apa pun. Bagi yang ingin menggunakan pertunjukan film di bioskop sekaligus sebagai sarana kencan memang sangat mengasyikkan. Selamat menyambut kembali kenikmatan nonton di bioskop dan semoga situasi segera pulih serta terbebas dari pandemi.

***
Solo, Rabu, 15 Juli 2020. 10:35 am
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
suka idea
antologi puisi suko

Penulis: Suko Waspodo

Comment 0