Truk ugalan-ugalan di jalan raya. Foto: dok. Istimewa

Baru-baru ini viral video truk balapan di jalan umum. Para sopir memacu kendaraannya dalam kecepatan tinggi layaknya lintasan sirkuit.

Sebelumnya, sempat ramai juga perilaku pengemudi truk yang mengendarai mobilnya dengan gaya oleng atau populer dengan sebutan 'truk oleng'. Tentu ini sangat membahayakan.

Petugas keamanan memeriksa suhu tubuh sopir truk sebelum memasuki kawasan pier 1 Pelabuhan PT Karya Citra Nusantara (KCN), Marunda, Jakarta Utara. Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Senior instructor sekaligus founder dari Jakarta Defensive Driving Consultant (JDDC), Jusri Pulubuhu mengatakan, para pengemudi mobil besar tersebut umumnya hanya memiliki skill tapi tidak dengan kesadaran dan empati.

"Ini sebenarnya adalah perilaku tidak aman dan tidak memiliki empati. Padahal jalan raya sendiri disebut sebagai ruang publik yang tidak pernah aman," kata Jusri saat dihubungi kumparan, Jumat (10/7).

Kecelakaan Truk terguling di KM 1 Tol Cililitan arah Cibubur Foto: Twitter @TMCPoldaMetro

Banyak kasus kecelakaan truk atau bus yang disebabkan oleh kelalaian pengemudinya. Jusri menegaskan seharusnya para sopir menjalankan empat konsep keselamatan, yakni kesadaran, kewaspadaan, sikap, dan antisipasi.

"Pemahaman tentang keselamatan dari pada perilaku yang dilakukan itu sangat rendah sekali," jelasnya lagi.

Jusri melanjutkan, ketika truk atau bus dipacu dalam kecepatan tinggi, maka keseimbangan kendaraan akan berkurang atau sulit untuk dikendalikan.

"Titik berat dan dimensi truk itu tinggi dan besar. Teorinya, semakin tinggi objek tersebut, semakin tinggi pusat beratnya, maka akan lebih labil dia," paparnya.

Saat kecepatan tinggi truk sulit dikontrol

Ilustrasi menggunakan rem kaki pada mobil. Foto: dok Istimewa

Masih dijelaskan Jusri, karena truk atau bus punya dimensi yang besar otomatis momentumnya juga besar. Jadi ketika dia menginjak rem, proses perlambatan kendaraan tidak bisa cepat. Ketika menikung dalam kecepatan tinggi pun pasti sulit untuk dilakukan atau yang sering disebut oversteer.

"Dari data asuransi, kecelakaan fatal dan serius itu bukan dimiliki oleh para pemula, kebanyakan orang berpengalaman. Makanya ini yang harus diluruskan, umumnya mereka acuh tak acuh terhadap peraturan," tegasnya.

Jusri berharap, perilaku membahayakan ini tak terjadi lagi. Dia juga menegaskan agar penegak hukum dan pihak perusahaan bisa menindak dengan serius para pengemudi ugal-ugalan tersebut.

***

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

Comment 0